Novel: D . Y . D (Dare You Date) – 3. Kina Lamela dan Indera Pendengarannya

Novel: D . Y . D (Dare You Date) – 3. Kina Lamela dan Indera Pendengarannya 1

3. Kina Lamela dan Indera Pendengarannya

Di jam yang sama, suhu udara apartemen Dwika mencapai titik maksimal. Ruang studio yang hanya berukuran 32 meter persegi itu sepanas panci pembuat popcorn. Bunyi ribut paling keras berasal dari mesin pemotong stiker atau plotter sepanjang 1,5 meter yang ada di salah satu sisi dinding. Mesin itu tersambung dengan kabel ke komputer Dwika yang ada sebelahnya. Lampu sensor mesin berkedip-kedip seirama dengan gerakan mata pisaunya ke kanan dan ke kiri. Memotong satu milimeter demi satu milimeter bahan stiker yang panjangnya mencapi puluhan meter. Bunyi mesin mirip decitan robot logam Decepticon dalam film Transformers. Syuuut… syiiiit… syuuut… syiiiit … terus menerus sejak pagi tadi.

Setiap lembar stiker terdiri dari dua bagian yaitu lapisan vinyl yang lengket dengan kertas super licin di bawahnya. Mesin plotter bertugas menggores permukaan vinyl mengikuti kontur desain di komputer. Setiap lembar stiker yang sudah keluar dari mesin harus segera dikupas bagian-bagian yang tidak termasuk dalam kontur desain dengan menggunakan pinset tajam. Tahap ini yang paling lama, mengingat goresan pisau plotter ukurannya lebih tipis dari benang, sehingga membutuhkan orang-orang dengan karunia kesabaran tanpa batas, dan ketajaman mata layaknya superman.

Dan tugas itu dikerjakan oleh: Ivona Kho sepupu Dwika, mereka berdua punya wajah bagai pinang dibelah dua, yang membedakan rambut Ivona lurus seperti benang sedangkan rambut Dwika sekeriting mie telor; ada juga Pratista Maharani yang baru wisuda dua bulan lalu. Ia langsung melamar pekerjaan di studio Elizkha Advertising milik Dwika karena pekerjaannya santai sehingga tidak menganggu kuliah S2-nya di Universitas Terbuka. Selain mereka berdua, ada Zifana Thasmirah, orang kepercayaan Dwika yang lebih banyak membantunya mengurus manajemen, laporan keuangan dan laporan perpajakan.

Sebenarnya masih ada satu cowok lagi, namanya Kina Lamela, badannya sekuat gajah, dia seorang kurir yang handal. Ada kisah di balik namanya, Kin pernah bercerita asal muasal kekuatannya dari pohon kina, karena pada waktu mamanya sedang hamil, penduduk kampungnya diserang penyakit malaria, salah satu dukun ternama di kampung tetangga memberitahu kalau kulit pohon kina berkhasiat melawan malaria, maka beramai-ramailah seluruh isi kampung Kin mengunyah kulit pohon kina, termasuk mamanya. Sampai sekarang penyakit malaria tidak pernah ada lagi di kampungnya. Kin lahir tanpa bantuan siapapun, hanya ada Kin, mama dan papanya. Sejak kecil sampai sekarang Kin tidak pernah sakit, jadi ia juga menyuruh istrinya mengunyah kulit pohon kina saat sedang hamil.

Dwika merasa sangat nyaman dengan pekerjaannya, meski awalnya keluarga menentang niat Dwika membuka bisnis berbasis stiker karena pekerjaannya rumit dan proses pengerjaannya yang lama mengakibatkan perputaran uang berjalan lamban. Namun Dwika punya pendapat lain, materi stiker makin lama makin dibutuhkan karena lebih murah dibandingkan cat dan wallpaper, selain itu stiker juga bisa didesain sesuai keinginan pelanggan. Dan insting Dwika terbukti, dalam jangka waktu 2 tahun, perusahaan berkembang pesat bahkan harus menolak beberapa pekerjaan.

Telinga Dwika yang sudah sangat mengenal bunyi mesin plotter, segera menangkap bunyi ganjil. “Oh… gosh, error lagi nih mesin!” pekiknya. Dengan tergopoh-gopoh ia menekan tombol pause, bunyi menyakitkan tadi langsung berhenti. Dwika memberi waktu pada benda itu untuk beristirahat.

“Apa mungkin ada stiker yang nyangkut di mata pisaunya Cie?” seru Ivona dari seberang ruang studio. Ia memanggil Dwika dengan sebutan ciecie, kakak perempuan. Ia bersama Tista dan Zifa duduk mengililingi meja kayu yang bentuknya mirip meja makan satu keluarga besar, dengan lapisan kaca tebal di atasnya. Tangan mereka terus bergerak mengupas senti demi senti stiker warna-warni. Lantai di sekitar tempat duduk mereka berserakan gumpalan-gumpalan lengket stiker.

“Gak stuck kok,” jawab Dwika.

“Keluarkan aja dulu stiker dari mesin,” saran Ivona.

“Jangan, ntar gue susah nentuin mesinnya mau start darimana,” ujar Dwika.

Tista yang duduk di depan Ivone tersenyum simpul. “Napa lo?” tanya Ivona padanya.

“Gak bisa nentuin start kayak pertama kali gue kencan sama pacar, gak tau mau mulai ngomong darimana ,” jawab Tista.

“Sampai sekarang?”

Tista mengeleng-gelengkan kepalanya. “Sekarang sudah lancar… malah jadi kebablasan!” jawabnya sambil terkikik.

“Oh… shit!” pekik Ivona yang terkenal tata bahasanya agak versi wakanda diraja.

“Stop Girls! No bad word in our place!” ujar Dwika mengingatkan.

“Sory sory Cie keceplosan,” kata Ivona pura-pura menyesal. Tapi ketika Dwika sedang sibuk dengan mesin kesayangannya, ia segera mengambil kesempatan menggoda Tista yang polos. Mereka berdua bicara tanpa suara sambil memajang senyum mesum di bibir masing-masing.

Enak? Ivona bertanya tanpa suara, mulutnya buka tutup buka tutup seperti ikan mas.

Tista menjawab dengan anggukan. Mereka berdua terkikik geli.

Zifa yang duduk di sisi lain meja kaca hanya menggeleng-gelengkan kepala. Zifa yang paling senior dari 4 rekan kerja Dwika, setelah setahun bekerja ia memutuskan menggunakan hijab, awalnya Dwika sempat ragu karena pekerjaan di studio sangat berbahaya bila memakai baju yang terlalu lebar seperti hijab. Tapi Zifa meyakinkan kalau ia akan memakai model hijab yang simple, seperti celana jeans dengan kaos lengan panjang dan penutup kepala saja. Dan ia sangat bersyukur karena akhirnya Dwika setuju memberinya kesempatan bekerja dengan lebih amanah.

Ivona dan Tista senang bercanda yang nyrempet-nyrempet bahaya, namun Zifa nyaman-nyaman saja. Dia ingat perkataan Dwika di hari pertama masuk kerja, bahwa mereka semua adalah sebuah tim dan saudara, “Friendship is one mind in two bodies,” pesan Dwika.

Pintu apartemen diketuk empat kali oleh seseorang, ketukan empat kali adalah kode sandi rahasia mereka, pintu dibuka dari luar, Tista bangkit dari kursi, meregangkan pinggangnya ke kanan dan kiri, lalu berjalan menyambut siapapun yang ada di depan pintu.

“Langsung ke gudang Kin!” Tista berbicara pada Kina Lamela yang berdiri bersimbah keringat sambil memanggul 5 gulungan stiker tebal sepanjang 1,2 meter. Kulit Kin gosong terbakar matahari dan bibirnya sekering plastik, ia nyaris dehidrasi akut ditambah beban berat yang ketat menekan bahunya.

“Oh ada Kak Alan juga!” teriak Tista yang sudah menjadi fans berat Alan sejak hari pertama bekerja di studio.

Kin masuk melepas sepatu dan kaos kaki di belakang pintu, Alan mengikuti di belakangnya, Kin segera lari ke dapur untuk mendapatkan air segar, “Gila, panas banget di luar,” keluhnya.

Pintu menutup dan terkunci dengan otomatis, Alan sengaja smart lock door di pintu apartemen sebelum pindah ke Livistone dengan Sandra. Dwika memang bukan tipe ceroboh, namun ia harus mencegah jangan sampai Dwika lupa mengunci pintu. Alan berdiri di belakang pintu, ia memeriksa daya baterai dari layar kunci digital, sama sekali tidak menyadari kalau Tista sedang mengamatinya.

“Wow… keren banget setelan Mas Alan, mau kondangan ya?” seru Tista, semua orang segera menoleh, termasuk Dwika.

“Serius keren?” tanya Alan agak malu. Saat di butik Mans n’ Glow ia sempat sangsi dengan pilihan pramuniaganya: perpaduan antara setelan kaos turtleneck krem; dengan outwear sweater dan celana pantalon warna coklat tua, bukan gaya yang biasa ia pakai. Dia ingin memberi kesan sebagai seorang kakak yang sudah mapan di depan pasangan kencan buta Dwika yang pertama sore ini.

“Kak Alan mau kencan sama Ciecie Dwika ya?” seru Ivona.

“Everybody quiet!” sahut Dwika. Ia sudah berhasil mengatasi masalah macetnya mesin plotter, dan ssyuuuttt syiiitt… mesin itu kembali menjadi Decepticon.

Sontak Dwika teringat sesuatu. “Kin stiker Teckwrap sudah diambil kan?” teriak Dwika pada Kin yang sedang berusaha menyegarkan tenggorokannya dengan air dingin dari lemari es.

Semua orang, kecuali Dwika, melihat ke arah dapur yang tersembunyi di belakang studio, dihalangi ruang TV dan ruang makan, ditambah suara ribut mesin plotter, jadi tidak mungkin Kin bisa mendengar panggilan Dwika.

Namun pikiran mereka salah, ternyata Kin mendengarnya. “Udah aku letakin di gudang Kak!” Kin berteriak dengan suara keras agar Dwika bisa mendengarnya.

Alan, Ivona, Tista dan Zifa saling bertatap-tatapan, Alan mengangkat bahu ke arah mereka bertiga yang serempak membalas dengan anggukan kepala.

“Berapa duit?” Tiba-tiba Dwika berteriak lagi.

Tidak ada jawaban. Kali ini Alan menganggukan kepala, dan 3 gadis itu serempak menggelengkan kepala, mereka secarak kompak yakin dan percaya diri kalau mustahil Kin bisa mendengar pertanyaan Dwika.

“Lapan juta setengah!” balas Kin keras-keras.

Tangan Alan meninju ke udara tanda memenangkan pertaruhan. Ivona memukul dahinya sendiri, Zifa dan Tista terkikik sampai berpelukan karena tidak bisa menahan geli.

“Nota ada?” Dwika yang sama sekali tidak mencium aroma perjudian tengah berlaga di apartemennya terus meneriaki Kin yang sekarang sedang berusaha memasukkan kepalanya dalam freezer. Mesin plotter berdesis nyaring saat menarik stiker dari besi rol. Syuuuuutttt !!! bunyinya panjang dan bising.

Ivona menunjuk Alan sebagai tanda untuknya memilih. Alan tetap mengangguk, Ivona dan 2 temannya saling berpandangan. Zifa melirik ke arah mesin, lalu menggeleng, diikuti yang lain.

“Ada!” jawab Kin parau.

Yes! Yes! Alan kembali memenangkan pertarungan. Tista yang sedari tadi menahan tawa sudah tidak sanggup lagi, kepalanya terkulai di atas meja sambil memegangi perutnya yang kram, dengan mulut meringis.

“Abis ini kamu tolong potong stiker dulu ya!” perintah Dwika.

Alan menggerakkan dagunya ke atas, menantang 3 perempuan yang sudah kalah 2 kali berturut-turut. Ivona, si bengal, menggerakkan jarinya di atas meja membentuk sebuah lingkaran, panjang diameternya kira-kira 40 sentimeter, sambil mulutnya komat-kamit mengucapkan “P I Z Z A,” tanpa bersuara. Alan mengacungkan jempol, menyetujui pertarungan yang makin menarik.

Alan kemudian menganggukan kepala, lawan tandingnya serempak menggelengkan kepala. Selama beberapa detik mereka celingukan, sebentar melihat Dwika yang duduk di depan komputer, kemudian berpindah ke arah dapur. Mereka berempat was-was menunggu sebuah jawaban.

Tiba-tiba Kin keluar dari persembunyiannya, warna asli kulitnya tubuhnya yang hitam makin gosong setelah seharian berjemur di bawah matahari, garis rahangnya yang kotak khas cowok dari daerah timur mengeras. Dia sangat lelah setelah seharian pontang-panting di bawah terik matahari untuk mengantar pesanan stiker ke beberapa tempat, terus mengambil bahan stiker di salah satu ekspedisi, mengangkatnya dari lantai satu ke lantai 15 lewat tangga darurat. Sekarang ia merasa senasib dengan ranting kering yang tinggal dipatahin saja. Ditambah kata-kata Dwika yang baru saja ia dengar sangat menyakitkan hatinya.

Selama ini hubungan mereka di tempat kerja selalu baik, bicara juga sopan dan beretika, kenapa sekarang Dwika kasar padanya. Kin mengacak-acak rambutnya yang hitam dan tebal dengan kasar. Ia berjalan ke arah Dwika. “Kakak, aku mau protes berat!” katanya sungguh-sungguh.

Dwika menghentikan pekerjaannya, mematikan mesin, ruangan sontak sunyi. Dwika lalu berdiri menghadapi Kin. “Ada apa ya Kin?” tanyanya.

Semua orang segera menaruh perhatian pada mereka berdua, suasana berubah serius, tidak ada lagi cekikikan dan akting kemenangan.

“Kakak, aku sadar kalau aku ini orang kampung, aku miskin, dan sekolahku tidak setinggi kakak-kakak yang lain. Tapi aku juga manusia gitu lho, jadi tolong dihargai sedikit. Kenapa kakak tadi bicara tidak sopan sama aku?”

Dwika bingung, matanya beralih ke Alan untuk meminta bantuan, tapi Alan menggeleng tanda ia juga tidak tahu. Dwika mengetuk-ngetukkan pensil ke bibirnya. “Kata-kataku yang mana yang menyinggung perasaanmu Kin?”

“Yang terakhir kakak.”

“Yang terakhir, aku kan bilang ‘kamu tolong potong stiker’, dimana letak salahnya?”

Sekarang gantian Kin yang kebingungan. Matanya yang besar berkelip di atas kulit gelapnya, bagai sepasang lampu jalan berkedip-kedip di tengah malam. “Waduh bagaimana ini kakak, ternyata aku yang salah dengar.”

“Jadi kamu dengarnya apa?” tanya Dwika penasaran.

“Maaf kakak, aku tidak bisa kasi tau!” kata Kin dengan wajah tertunduk dalam.

“Kasi tau gak! Atau mau potong gaji nih!” ancam Dwika sambil bercanda, hal itu tidak akan dilakukannya karena mereka yang bekerja di studio adalah keluarga dan teman seperjuangannya. “Ayo Kin kasi tau kami semua.”

“Aku dengarnya ‘kau kontol kering!’ kakak.

“Apa?”

Suara tawa Alan meledak, dan dari seberang ruangan terdengar pekik kemenangan, “PIZZA!”

Cerita selengkapnya bisa diperoleh di : 

https://www.storial.co/book/d-y-d-dare-you-date/

Digstraksi adalah Media User-Generated, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

Nana Hadinata

   

Setiap detik kehidupan untuk menghidupi hidup.