Novel: D . Y . D (Dare You Date) – 4. Johan equal to Jenny


Novel: D . Y . D (Dare You Date) – 4. Johan equal to Jenny 1

4. Johan equal to Jenny

Alan dan Dwika berusaha keras untuk tidak terbahak-bahak lagi. Sudah setengah jam berlalu, anak-anak studio termasuk Kin juga sudah pulang, kini hanya tinggal mereka berdua di dalam apartemen, namun mereka masih tidak bisa mengendalikan keinginan untuk terus tertawa.

“K***l kering dia bilang Dwe hahaha!” kata Alan.

“Kok bisa jadi itu hahaha!” sahut Dwika.

“Hahaha!” tawa Alan makin keras.

“Haha hok hok hok!” Dwika tertawa sampai terbatuk-batuk hebat.

Alan menepuk-nepuk punggung Dwika. “Nafas Dwe, ambil nafas dalam.” Alan mengambil nafas panjang lalu pelan-pelan menghembuskan, mengambil nafas lagi lalu menghembuskan, begitu terus sampai Dwika bisa mengikuti. Mereka berdua bernafas secara berirama, namun ketika mata mereka bertemu dan berkedip-kedip… kekuatan itu jebol lagi.

Mungkin sudah belasan kali mereka melakukan hal yang sama, menceritakan lagi kejadian Kin, lalu tertawa terbahak-bahak, mengatur nafas lagi, berkedip lagi, dan tertawa lagi, begitu seterusnya. Padahal jarum pendek jam dinding bergerak makin dalam ke arah kanan, layar ponsel Dwika berkedip.

Beberapa menit lalu Alan sudah meletakkan ponsel Dwika di holder untuk persiapan zoom dating, kamera ponsel-pun sudah mengarah pada mereka berdua. Tidak lupa sekalian memasukkan ID meeting, lalu menekan tanda join. Dwika yang sedang memegang pisau cutter akan memotong stiker di meja kaca sontak kembali teringat ekspresi bingung dan malu Kin, ia meletakkan pisau cutter di atas meja sebelum tawanya meledak lagi, dan seperti virus menular menyebabkan Alan ikut terbahak-bahak.

Sekarang layar ponsel Dwika berkedip dua kali lalu tampaklah seraut wajah cowok di sana. Mereka berdua sama sekali tidak menyadari hal itu. Alan masih memegangi perutnya yang kram sambil memukul-mukul dinding, sementara Dwika menggelayut lemas di pundak Alan dengan nafas terengah-engah kecapekan. “Bisa pingsan karena ketawa nih gue,” rintih Dwika.

“Gue rasanya turun berok nih, anus gue perih banget,” keluh Alan. “Waduh gawat bener tuh si Kin, dia mesti tanggung jawab kalau sampai gue turun berok, kalau seumur hidup turun berok bisa kering nih k***l hahaha!”

Dan mereka terbahak-bahak lagi.

Tubuh Dwika melorot seperti jelly di atas lantai, disusul Alan. Mereka berdua terkapar kelelahan, masing-masing memegangi perut.

“Sakit perut gue,” keluh Dwika, menggelungkan tubuhnya di samping Alan, salah satu kakinya melingkar di atas pahanya.

“Sama, udahan ya ketawanya, wah… senam muka hari ini,” sahut Alan seraya menepuk-nepuk punggung Dwika, mencoba ikut meredakan rasa sakit Dwika.

Tiba-tiba sebuah suara asing menyeruak di tengah-tengah mereka. “Halo? Halo? Halo!” Sepasang binatang melata yang sedang saling melilit di lantai itu segera terdiam, kemudian mengambil posisi duduk di lantai.

“Shit…!” maki Alan.

“Jangan ngomong kotor di rumah gue!” hardik Dwika spontan. “By the way siapa sih itu?” Dwika masih linglung setengah otaknya seperti ikut meleleh setelah dikocok-kocok selama hampir satu satu jam tertawa.

“Zoom dating lo, kameranya udah gue on-nin. F***!” Alan terus memaki-maki dirinya sendiri, ia berdiri sambil merapikan outwear-nya yang kusut lalu berjalan ke arah ponsel.

“Bisa gak lo ngomong sopan, gue bilangin ke papi!” kata Dwika sambil menyisir rambut ikalnya dengan tangan.

Halo,” jawab Alan, tidak menggubris omelan Dwika, malah cepat-cepat melambaikan tangannya ke kamera ponsel.

“Hai?” Cowok di layar ponsel Dwika terus berusaha menyapa. Tatapan matanya beralih dari Dwika ke Alan, Alan ke Dwika, lalu berhenti pada Alan. “Gue berdoa semoga kalian berdua kakak beradik dan bukan…”

“Gak… gak… kami gak ada hubungan kayak gitu. Gue udah punya istri kok!”

“Oh… okey. Berarti cewek itu yang bernama Dwika dan bukan elo, karena namanya agak mirip nama cowok, jadi gue pikir elo.”

Alan mendekatkan wajahnya ke layar. “Kan foto profilnya foto dia? Masak lo gak tau?”

Cowok itu tersenyum simpul. “Iya gue tahu, tapi akhir-akhir ini banyak yang pakai fake photo, jadi gue pastiin dulu.”

“Pastiin apa nya?” nada suara Alan beranjak meninggi, seperti ada seseorang yang menjepit daun telinganya dengan penjepit baju.

Dwika segera menghampiri dan menempelkan pipi kanannya ke pipi kiri Alan agar wajah mereka bisa muat di lensa kamera. “Dia kenapa?”

“Dia bilang mau pastiin yang nge-date sama dia cowok atau cewek, padahal data diri lo udah pasti benar di aplikasi, ngisinya aja pakai no KTP segala.”

“Terus?” tanya Dwika yang gak ngerti apa yang sudah terjadi.

“Cowok ini punya niat mau macam-macam!” bisik Alan di telinga Dwika.

“Maksud lo?”

“Hei!” panggil cowok itu lagi. “Jangan pakai bisik-bisik dong!”

Alan menyeringai, salah satu ujung bibirnya melengkung tajam. “Sebenarnya lo kan yang pakai fake account? Lo salah alamat kalau mau cari hombrengan, kalo lo mau gue bisa kasi tau nama aplikasinya.”

“Hah maksudnya dia?” Dwika meremas lengan baju Alan kuat-kuat. “Gue takut Lan.”

“Tenang ada gue,” katanya. Alan menggenggam tangan Dwika, meremasnya lembut untuk menenangkan.

Cowok itu terkekeh, “Gue udah jadi member di aplikasi yang lo maksud, nama akunnya Jennie, akun Johan khusus gue pakai di loveskyer untuk pertemanan dengan cewek. Gue ada di rentang biseks, gak masalah mau date sama jenis mana aja. Lo juga boleh.” Jari telunjuknya mengarah ke Alan.

“Go to hell!” sambar Alan emosi.

“Uhh… cowok secakep lo pasti jadi idol di XXO party our community,” rayu Johan alias Jennie yang kelihatan makin tertarik pada Alan, bibirnya berkedut seperti ikan lele saat melihat otot-otot leher Alan menegang menahan marah.

“F*** You!” bentak Alan meradang.

“Santai Bro… bus juga bisa merubah rute kan?”

“Pergi lo setan!”

“Don’t call me, there is no next time in your life,” kata si bencong pada Alan.

“F*** off!” Alan menggeser tanda merah di layar ke kiri untuk mengusir Johan dari ruang TV. “Wah… dasar bencong, benar-benar ngerusak harga diri gue.”

PLAK!! Dwika mendaratkan tamparannya di belakang kepala Alan.

“Apaan sih?” Alan memegangi kepalanya. “Kenapa pukul gue?”

“KACAU KAN!” raung Dwika. Matanya yang biasa setipis daun bambu, sekarang melar selebar biji salak. “Good looking Hah? Apanya yang good looking! Untuk sesaat gue sangat yakin rencana lo bener, ternyata…”

“Sorry… kali ini gue yang salah, gue janji gak bakal terulang lain kali,” katanya seraya ingin merangkul.

Namun Dwika segera menghindar, memukul dada bidang cowok itu. Walau tamparan tangan Dwika lebih menyerupai belaian angin baginya, namun Alan tetap merintih kesakitan. “There is no next time in your life, inget itu!” Dwika menirukan cara Johan berbicara. Johan atau Jenny, Jenny atau Johan, aishh terserah…. “Lo bener-bener beruntung karena punya temen sepintar gue, kalo gak semua orang bakal tahu betapa dungunya lo! Uh… rasain lo!” Dwika kembali memukul dan terus memukul.

Alan mengaduh, jatuh ke lantai dan terus berguling-guling, dada, bahu, kepala dan pahanya berdenyut, bukan karena sakit, tapi pedih. Rasanya berbeda dengan pedih saat ia kecelakaan sepeda motor saat SMA. Alan juga merasa heran kenapa telapak tangan mungil Dwika mampu menciptakan rasa sakit yang meresap jauh ke bawah permukaan kulitnya. Alan tidak bisa mengungkapkan karena sibuk berguling kesana kemari.

“AUWW!” Kali ini tamparan Dwika tepat mengenai dahinya, sejenak membuat matanya berkunang-kunang dan tidak bisa berpikir lurus lagi. Beberapa detik kemudian Alan menangkap kedua tangan Dwika, menatapnya tajam dengan mulut menyeringai kesal.

Dwika agak cemas melihat perubahan Alan, mencoba menarik tangannya, namun gagal, genggaman Alan erat sekali. “Maaf… pukulan gue sakit ya?”

“Bukan sakit, tapi udah keterlaluan. Rasakan pembalasan gue!” laungnya seraya menyerang Dwika dengan jurus gelitik.

Cerita selengkapnya bisa diperoleh di : 

https://www.storial.co/book/d-y-d-dare-you-date/


Digstraksi adalah platform menulis independen, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

Nana Hadinata

   

Setiap detik kehidupan untuk menghidupi hidup.

Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Copy link
Powered by Social Snap