Novel: D . Y . D (Dare You Date) – 5. When Alan met Sandra


Novel: D . Y . D (Dare You Date) – 5. When Alan met Sandra 1

5. When Alan met Sandra

Kisah cinta Alan Bimantara dan Sandra Adhitama dimulai dua tahun lalu. Member dengan wajah tampan dan cantik tentu banyak diincar oleh member lain. Dalam sehari akun mereka dikunjungi ribuan viewers, mendapat ratusan comment dan undangan dating. Dalam waktu singkat mereka berdua meroket menjadi favorit di dunia dating online.

Alan tidak pernah memasang filter sehingga setiap member boleh mengirim pesan padanya. Sedangkan Sandra lebih pemilih. Ia hanya membuka pertemanan dengan cowok-cowok bertubuh proporsional, berkulit sawo matang, seorang entrepreneur di industri kreatif terutama di bidang animasi, belum pernah menikah, dan sudah memiliki aset pribadi.

“Dia lagi cari investor, bukan cari suami,” komen Dwika ketika mendengarnya.

“Gak masalah, yang penting dia cantik,” ujar Alan yang langsung mengirim pesan pertemanan ke Sandra.

Proses dari perkenalan online sampai ketemuan offline terjadi sangat cepat. Setelah sama-sama swipe right, beberapa jam kemudian Alan dan Sandra sudah ngobrol pakai video call. Dwika duduk agak jauh dari Alan karena tidak ingin terlihat di kamera. Alan dan Sandra berkenalan, basa-basi, dan saling mengeluarkan jurus saling memuji yang membuat Dwika nyaris muntah ketika mendengarnya.

Dan dua hari kemudian sebuah tragedi hampir melindas Dwika gara-gara Alan yang sedang mabuk cinta. Saat itu Dwika sedang meeting dengan pemilik perusahaan properti Tama Realty. Ia sedang semangat-semangatnya menjelaskan slide demi slide desain stiker di layar LCD, untuk dekorasi spot-spot di bangunan mall baru mereka.

Meeting baru berjalan lima belas menit, dan pintu ruangan itu seperti diseruduk seekor banteng, ditendang dengan kasar dari luar, Alan berdiri di sana. Dua orang satpam menarik-narik lengannya, berusaha keras menyeretnya keluar dari gedung, tapi percuma saja usaha mereka sia-sia. Alan termasuk anggota aktif gym. Ia bergeming. Sepasang kaki panjangnya seperti terbuat dari beton yang menghunjam sampai ke dasar bumi. Tak tergoyahkan. Malah memasang senyum sangat-sangat bahagia sampai kedua lesung pipitnya menukik dalam.

Dwika segera menekan tombol space laptopnya untuk menghentikan tayangan power point, meminta maaf sampai membungkuk-bungkukkan badannya di depan tim Tama Realty, lalu memohon pada mereka untuk memberinya izin menemui Alan sebelum cowok itu membuat keributan lain.

“Lo sakit?” tanya Dwika ketika mereka sudah berdua di luar ruang rapat. Dinding kaca yang menyuguhkan pemandangan kota dari lantai delapan tidak sanggup meredakan kemarahannya. “Bisakan ketemuan di Reckless atau kantor lo, apart gue, atau pinggir jalan, atau dimana kek gitu. Lo kan cerdas pasti bisa cariin tempat untuk bicara, kenapa malah kesini!”

“Ini penting!” jawab Alan semringah. “Kalau gak penting gua gak bakal kayak gini. Lagian ponsel lo gak aktif dari kemarin, terus gue nanya ke Ivona dan dia bilang kalo lo ada kerjaan di sini. Jadi gue samperin aja kemari.” Dengan bangga Alan menjelaskan keberhasilannya menemukan Dwika.

“Iya ngomong aja sekarang apanya yang penting?” sambar Dwika yang hampir kehilangan kesabaran. “Gue ada meeting penting sama owner gede nih!”

“Yang ini lebih penting,” sahut Alan. “Gue udah jadian sama Sandra.”

Dwika memelototi Alan dengan tatapan takjub… takjub pada kebodohannya.

“Gimana? Hebat kan gue?”

“Lo bener-bener sakit!” bentak Sandra yang derajat kesalnya sudah sampai ke ubun-ubun tembus menjebol atap gedung. Tanpa banyak bicara Dwika segera berbalik, setengah berlari kembali ke ruang rapat, sebelum menutup pintu ia memberitahu pada dua orang satpam yang masih menunggu di sana. “Lempar aja dia ke jendela Pak, orang itu baru keluar dari rumah sakit jiwa!” katanya. Dan sepanjang hari itu Dwika memendam amarah pada Alan. Menolak semua teleponnya dan memblokir akun WhatsApp-nya.

Owner yang ia temui tadi siang adalah pemilik sebuah perusahaan kontraktor terkenal spesialis membangun gedung-gedung apartemen dan mall. Anak cabang perusahaannya sudah tersebar di seluruh Indonesia. Zifa yang ia beri tugas menyelidi profil perusaahaan, memberitahu kalau nama perusahaan itu telah masuk daftar LQ 45 di pasar saham. Perusahaan multi nasional dengan struktur organisasi lebih besar, rapat dan rumit, membuat perusahaan kecil seperti Dwika mustahil mendapatkan kesempatan bekerja sama dengan mereka.

Namun jika waktu sudah menetapkan pintu kesempatan itu terbuka maka tak ada seorangpun yang sanggup menutupnya. Beberapa hari sebelum kejadian itu Dwika menerima telepon dari salah satu desainer mereka, memberitahu kalau mereka sangat tertarik dengan salah satu postingan studio Elizkha Advertising di Instagram yang menampilkan desain-desain stiker dinding buatannya.

“Desainnya bagus dan pemasangannya rapi, awalnya kami mengira itu lukisan karena tidak terlihat garis sambungan antar stiker, setelah kami menyelidikinya, ternyata itu benar-benar stiker. Kami sangat terkesan dengan pekerjaan anda. Minggu depan di hari yang sama kita akan adakan meeting. Kami sudah kirimkan e-mail penjelasan lebih detilnya dan siapa saja yang akan dalam meeting.” kata salah seorang dari tim Tama Realty di telepon.

Setelah itu berhari-hari Dwika mempelajari status orang-orang yang akan ditemuinya saat meeting. Membuka profil facebook mereka satu persatu untuk mengenal wajah dan cara mereka berbicara di kolom komentar. Dwika juga mempelajari hobi dan orang-orang di sekitar mereka lewat foto-foto di instagram. Dia harus membiasakan diri dengan profil orang-orang itu sebelum bertemu langsung. Dwika tidak ingin kejadian gugup dan gagap saat meeting. Sementara itu Zifa mengumpulkan dan merapikan portofolio, menyusun bahan dan meng-update desain yang sedang trend untuk diajukan saat presentasi .Namun jerih lelah mereka hampir sirna menjadi uap gara-gara Alan, beruntung owner-nya mau memaafkan Dwika dan tetap melanjutkan rencana kerja sama mereka.

Sepulang dari meeting, di apartemen Dwika lebih banyak diam, tercenung di depan layar komputer tanpa mengerjakan apapun. Empat teman kerjanya tidak ada yang berani mengajak bicara, mereka mengupas stiker dalam hening hanya terdengar suara desiran lembar stiker saling bergesekan.

Menjelang sore Dwika pikir sudah sendirian, ternyata Ivona masih tinggal untuk membereskan tempat kerjanya, sebelum pergi ia memberi Dwika sebatang cokelat dengan selembar sticky note kuning menempel di atasnya. Sekilas Dwika membaca tulisan Alan, Beb bukain pintu buat gue pls…

“Cie…” panggil Ivona ragu, berdiri resah di belakang Dwika yang sedang duduk di depan monitor komputer dengan tatapan kosong. “Cie, ini cokelat dari Kak Alan, dia udah tiga jam nungguin di depan pintu. Kasihan tuh Kak Alan,” katanya sambil meletakkan benda itu di atas meja.

“Lo bawak dia pulang aja kalau kasian,” jawab Dwika ketus, kemudian menatap cokelat pemberian Alan dalam diam. Ia sedang berusaha menenangkan hatinya setelah kejadian siang tadi.

“Apa dia gak kasian sama gue kalau sampai proyek ini lepas?” kata Dwika yang tidak bisa lagi menahan emosi. Tenggorokannya tercekat seperti ada yang mengencangkan ikatan tali laso di sekeliling lehernya. Dwika mengelus leher jenjangnya untuk memberi waktu ikatan itu longgar, namun makin terasa sakit. Suaranya enggan keluar sekuat apapun ia berusaha.

“Emang… dia mau mikirin kalo…” Ia menelan ludahnya yang berubah sekeras batu, “kalo… sampai gue gak bisa bayar gaji lo dan teman-teman yang lain. Istrinya Kin juga udah mau lahiran, gue denger harus caesar karena istrinya sakit diabet… Dia bisa meninggal Von… lo bayangin aja, mereka baru menikah setahun yang lalu, terus tiba-tiba meninggal karena harus lahirin normal. Kin pasti down banget kalau sampai kejadian seperti itu. Kin sedang butuh banyak uang. Apa kita tega kalau sampai dia kehilangan istri dan anak pertamanya? Alan mana mungkin mikir sampai situ. Dia gak ngerti apa yang gue pikiran Von.” Dwika sambil menghapus setitik air mata yang menggantung di pelupuk dengan jari telunjuknya.

“Bener kan kata-kata gue Von?”

Namun bukan Ivona yang menjawab Dwika melainkan sepasang lengan kokoh memeluknya dari belakang, yang pasti bukan lengan Ivona. Sepupunya sengaja tidak mengunci kembali pintu apartemen sehingga Alan bisa masuk ke dalam, dan mendapati Dwika sedang bicara sendiri karena menganggap Ivona masih ada di belakangnya.

Semakin lama mendengarnya bicara semakin Alan dihancurkan oleh rasa bersalah dan egois, hanya karena ingin memamerkan keberhasilannya berpacaran dengan Sandra, ia hampir membinasakan impian begitu banyak orang yang dititipkan di pundak mungil Dwika, sahabat mungilnya.

“Sorry…” bisik Alan tepat di telinga Dwika, perasaan lega merambat karena Dwika menerima pelukannya, namun gadis itu sekarang jadi terisak.

“Gue memang shit, gue salah besar sama lo Dwe. Maafin gue. Please next time share beban itu ke pundak gue yang lebih berotot daripada lo!”

Dwika yang sejak pagi sudah menahan beban berat di hati akhirnya runtuh juga, air matanya turun seperti hujan, ia terisak-isak. Rasa perih menyengat dadanya saat melepaskan selapis demi selapis beban itu keluar dari relung hati. Alan menciumi puncak kepala Dwika, mengelus punggung gadis itu yang berkali-kali terguncang.

“Maafin gue Dwe,” kata Alan berulang-ulang, mempererat pelukannya dan mengayun lembut tubuh mereka berdua untuk menenangkan hati Dwika. “Mau maafin gue kan?”

Dwika mengangguk lemah, kepala terkulai di lengan Alan, sekarang baru terasa kalau ia benar-benar lelah, seperti ada sekelompok Dementor telah menghisap seluruh kekuatannya. “Gue takut kalo gak bisa mempertahankan pekerjaan gue, temen-temen kerja gue, apalagi Kin…”

“Iya gue udah tahu soal Kin, ntar gue juga pasti bantuin dia,” janji Alan.

Satu jam kemudian suasana hati Dwika sudah jauh lebih baik. Ia duduk melipat kaki di sofa panjang pemberian papanya, dialasi selembar selimut hangat yang dibeli Alan ketika mendapat kesempatan ikut lokakarya ke New Zealand. Selimut itu terbuat dari susunan kain-kain perca yang bertuliskan kata ‘I love you’ dalam berbagai bahasa dari seluruh negara-negara di dunia.

Sementara Alan duduk di lantai, punggungnya bersandar di sofa dan kaki panjangnya terjulur menghalangi jalan. Alan mengambil remote TV, mengganti-ganti chanel sampai menemukan acara pertandingan e-sport Mobile Legend.

Dwika menyuapkan sepotong kecil coklat ke mulut Alan. “Kemarin lo jadi beli Faramis?” tanya Dwika yang ingat ambisi Alan membeli salah satu hero Mobile Legend bernama Faramis, tapi Alan malah menggeleng-gelengkan kepala dengan mulut miring ke kanan kiri mengulum cokelat.

“Kenapa gak jadi? Battle points lo kan udah cukup buat beli Faramis.”

“Semua battle point dan diamond udah gue kasi ke Sandra,” jawab Alan enteng.

“Hah! Serius lo?”

“Serius. Apa lo masih sangsi kalau gue jadian sama Sandra?” kata Alan.

“Bukan, maksud gue Faramis lo gimana?”

“Untuk saat ini Sandra lebih penting dari apapun, sejauh ini cuman dia wanita paling ideal buat gue Dwe, dia beda dari cewek-cewek lain,” jawab Alan.

“Sandra wanita sedangkan gue cewek, maksud lo apa? ” sindir Dwika.

“Maksudnya, Sandra itu tipe orang yang bersedia mengubah kenyamanan dunianya demi bisa menyatu dengan dunia gue. Sedangkan lo, adik manis, tetaplah jadi diri lo sendiri yang cengeng tapi sok kuat, yang bisa ngeliat gue dari sudut pandang berbeda. Lo tau semua kebusukan gue, sedangkan Sandra ibarat mutiara yang ketiup angin dikit aja bisa pecah. Gue sayang banget sama kalian berdua.” Alan meraih kepala Dwika dan mengecup-ngecup puncak kepalanya.

“Ih lepasin! Jijik gue liat lo.” Kepala Dwika baru bisa lepas setelah TV menayangkan acara iklan, Alan langsung menekan tombol off di remote.

“Kemarin di club gue ngajak dia jadian, dan dia langsung setuju. Semalaman kami habiskan di dance floor, dan lo tahu gak Dwe?”

“Gak!” sambar Dwika, sambil menjilati tangannya yang belepotan coklat.

“Ternyata dia juga jago dance popping dan gelombang airnya bikin gue mabuk laut Dwe!”

“Bodo amat!”

“Gini popping-nya.” Alan segera bangkit berdiri di lantai, kedua tangannya saling menaut di depan dada, kakinya agak ditekuk ke depan, lalu bergoyang maju mundur maju mundur.

Sebuah bantal terlempar tepat menghantam wajahnya. “Aish jorok banget sih kalian berdua.”

Alan menghampirinya sambil tetap bergoyang maju mundur dan tertawa cengengesan mirip pemabuk pinggir jalan. “Come on dance with me Beb!” ujarnya

Dwika yang awalnya menolak dan bertahan dengan meringkuk di sudut sofa akhirnya menyerah karena Alan terus menarik-narik tangannya. Mereka berdua menari di tengah-tengah ruang TV apartemen Dwika, diiringi musik hyperbeat milik BTS, merayakan babak baru dalam kehidupan Alan. 

Cerita selengkapnya bisa diperoleh di : 

https://www.storial.co/book/d-y-d-dare-you-date/


Digstraksi adalah platform menulis independen, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

Nana Hadinata

   

Setiap detik kehidupan untuk menghidupi hidup.

Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Copy link
Powered by Social Snap