Novel Guru Aini, Cocok Untuk Pejuang Cita-Cita

Novel Guru Aini, Cocok Untuk Pejuang Cita-Cita 1

Andrea Hirata masih mengusung tema pendidikan di novel kali ini. Menurut saya. Andrea Hirata adalah spesialis penulis novel bertema pendidikan. Di novel Guru Aini ini Andrea Hirata mengambil tema lebih khusus dari pendidikan yaitu tentang Matematika. Karena tentang Matematika, maka novel ini sedikit banyak berisi istilah-istilah dalam matematika. Tenang, meski tentang Matermatika, novel ini tetap ‘Andrea Hirata banget’ yaitu jenaka.

1. Sinopsis

Novel Guru Aini menceritakan kisah seorang guru muda idealis namun eksentrik yang bernama Desi Istiqomah yang selanjutnya disebut Guru Desi. Ia yang mendedikasikan hidupnya untuk menjadi guru Matematika seutuhnya, ingin menghapus paradigma lama bahwa Matematika adalah pelajaran yang menakutkan dalam dunia pendidikan. Ia ingin meyakinkan murid-murid di sekolah bahwa Matematika bukanlah momok. Kuatnya idealisme Bu Desi diperlihatkan dengan sebuah janji yang aneh yaitu Bu Desi tidak akan mengganti sepatu pemberian ayahnya sebelum ia menemukan murid yang jenius Matematika.

Demi merealisasikan keinginannya, Ia menempatkan dirinya di wilayah pelosok yang bernama Kampung Ketumbi meski ia mempunyai kesempatan untuk mengajar di kota besar yang segalanya mudah di dapat. Kampung ini saking terpelosoknya sampai tidak terdapat di peta. Idealisme Bu Desi menjadi amunisi tersendiri karena untuk menuju ke kampung yang terletak di pulau terpencil bernama Tanjong Hampar ini membutuhkan perjalanan 6 hari 6 malam. Digambarkan dalam novel ini, Bu Desi sangat babak belur dihajar mabuk laut dan kelelahan yang tiada tara namun hal itu tak membuat idealismenya luntur barang sedikit pun. Hebat betul.

Setelah sekian tahun menjadi guru matematika, belum juga ditemukan satu murid pun yang jenius Matematika. Ia nyaris putus asa hingga Ia menemukan seorang jenius Matematika di sekolah tempatnya mengajar, Debut Awaludin. Bu Desi senang bukan kepalang. Ia pun mengganti sepatunya. Namun, hal itu tak berlangsung lama karena Debut memilih mundur dari sekolah. Bu Desi patah hati. Ia mengenakan kembali sepatu pemberian ayahnya yang tentu saja sudah butut karena sepatu itu dibelikan ayahnya ketika Bu Desi akan berangkat ke Ketumbi.

Suatu hari, bak disambar petir di siang bolong, ada seorang murid yang bernama Aini menghadap Bu Desi. Aini yang ternyata anak dari bekas murid Bu Desi adalah murid yang terkenal bebal, terlebih tentang Matematika. Ia mempunyai sindrom yang aneh yaitu selalu merasa sakit perut ketika ada pelajaran Matematika. Nilai matematikanya selalu 0-1 sejak kelas 3 SD. Tentu keinginan Aina ini tidak wajar dan sungguh mengundang bencana karena semua murid sebisa mungkin menghindari kelas Bu Desi tetapi Aini malah meminta untuk menjadi muridnya. Aini ingin belajar Matematika karena Ia ingin menjadi dokter demi mengobati ayahnya tiba-tiba sakit dan belum ditemukan obatnya. Karena mengurus ayahnya yang sakit tersebut, Aini sampai tidak naik kelas. Tekadnya kuat maka meski ditakut-takuti Bu Desi, Aini tetap teguh pendirian. Akhirnya Bu Desi menerimanya.

Bu Desi muntab bukan kepalang mendapatkan murid bebal seperti Aini. Dampratan halilintar Bu Desi nyaris tiap hari diterima Aini namun, Aini tak gentar sedikit pun. Semakin didamprat semakin semangat belajar bahkan setiap sore ia mendatangi rumah Bu Desi demi belajar Matematika. Bu Desi tak habis pikir, berbulan-bulan mengajar Aini tak ada hasil sedikit pun. Aini mendapat ultimatum yaitu bila nilai Matematikanya tidak lebih dari satu, Ia akan dikembalikan ke kelas Pak Tabah, kelas asal Aini. Pada akhirnya, Anini bisa mendapatkan nilai di atas 1 namun tetap di bawah angka 3. Hal ini membuatnya lega karena tidak jadi dikembalikan ke kelas Pak Tabah.

Di tengah keputusasaan Bu Desi mengajar Aini Matematika, tiba-tiba terlintas ide untuk mengajari Aini dengan pendekatan dari salah satu cabang matematika, yaitu kalkulus. Ternyata benar, Aini bisa memahami matematika dengan baik ketika Bu Desi memulai dengan pendekatan Kalkulus. Dengan pendekatan ini, Aini ternyata sseorang jenius Matematika. Dengan demikian Bu Desi mengganti sepatunya,

Pelan tapi pasti Aini akhirnya sepenuhnya memahami Matematika, bahkan pelajaran lain pun ikut membaik. Ia menjadi murid dengan nilai ujian Matematika terbaik di pulau terpencil itu yaitu 10 dan menjadi lulusan terbaik ketiga di sekolahnya. Jelas tergambar pesan yang ingin disampaikan ke pembaca bahwa siapa yang bersungguh-sungguh maka akan berhasil. Terkesan klise, ya namun benar adanya.

Pada akhirnya, Aini berhasil masuk Fakultas Kedokteran namun, Aini sebelumnya tidak mempertimbangkan bahwa untuk masuk Fakultas Kedokteran harus menyediakan uang yang tidak sedikit. Ia hanya bermodalkan semangat belajar, tidak menyadari sepenuhnya bahwa menjadi seorang dokter juga membutuhkan uang. Aini yang hanya anak seorang penjual mainan anak tidak bisa membayar daftar ulang masuk Fakultas Kedokteran tersebut, artinya ia gagal untuk kuliah. Aini kembali ke kampung halaman dan menjadi pelayan di sebuah kedai kopi. Banyak realitas seperti ini, murid cerdas, bertekad kuat namun harus menerima kenyataan bahwa ia miskin maka tak bisa melanjutkan ke jenjang pendidikan yang diinginkannya.

2. Kelebihan Novel

Novel Guru Aini, Cocok Untuk Pejuang Cita-Cita 3

Mendidik. Novel Andrea Hirata yang bertema pendidikan selalu layak untuk dibaca karena sarat dengan pesan positif,seperti berjuang keras untuk meraih mimpi, persahabatan, dan religius. Semuanya disampaikan dengan diksi-diksi yang ringan namun berbobot dan kental dengan logat Melayu. Logat Melayu ini menjadi salah satu daya tarik novel Andrea Hirata. Soal meramu kata, Andrea Hirata memang jempolan, ringan tetapi berbobot, serius tetapi jenaka. Semacam paradoks.

3. Kekurangan

Novel Guru Aini, Cocok Untuk Pejuang Cita-Cita 4

Menurutku, novel ini nyaris sempurna jadi susah bagi saya untuk menemukan kekurangannya. Sedikit yang membuat saya kecewa adalah dengan perjuangan Aini yang keras dan dalam waktu yang tidak sebentar hingga akhirnya Ia berhasil masuk Fakultas Kedokteran tetapi, di akhir cerita malah terbentur biaya dan akhirnya gagal menjadi mahasiswa kedokteran. Seperti diangkat tinggi-tinggi lalu dijatuhkan sekonyong-konyong tanpa ampun. Menyakitkan.

Kenapa Andrea Hirata tidak membuat Aini berpikir soal biaya sejak awal? Jadi Ia bisa mempersiapkannya jauh-jauh hari, entah dengan mencari beasiswa atau lainnya. Sangat tidak mungkin, kan bila orang tidak memikirkan biaya ketika ingin melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi ? Namun, Novel ini Trilogi dan Guru Aini adalah novel pertama dari Trilogi tersebut. Jadi, di novel selanjutnya akan dilanjutkan kisah Aini ini.

4. Kesimpulan

Novel Guru Aini, Cocok Untuk Pejuang Cita-Cita 5

Novel ini layak untuk dibaca oleh semua pejuang cita-cita, yaitu bahwa tekad dan kesungguhan dalam berusaha adalah modal yang harus dimiliki oleh mereka yang memiliki cita-cata. Selamat berjuang meraih cita-cita.

Digstraksi adalah Media User-Generated, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

A Yahya Hastuti