Nyaris Terjebak di Rumah Siluman

Nyaris Terjebak di Rumah Siluman 1

Hengki, Juned, dan Hardi bekerja di kontraktor tambang dengan mendapat tugas melakukan survei seismik. Tak jarang mereka berpindah-pindah lokasi untuk melakukan survei seismik dari kota satu ke kota lainnya. Biasanya mereka mendapat tugas di tengah alas. Mereka kembali ke mess perusahaan malam hari.

Waktu tak terasa telah menunjukkan pukul 20.00. Mereka baru saja menyelesasikan pekerjaan mereka. Mereka tampak kelelahan setelah seharian bekerja. Mengingat akses ke rumah makan atau yang cukup jauh, sekitar 10 kilometer mereka makan malam dengan roti yang telah disiapkan dari pagi.

 Dengan penerangan lampu senter, mereka makan roti sangat lahap. Tak lama kemudian, mereka memutuskan untuk kembali ke mess mengingat suasana alas yang sangat gelap. Jarak dari lokasi survei menuju mess kurang lebih 5 kilometer. Hardi mengendarai mobil sangat hati-hati, mengingat alas yang sangat gelap tiada penerangan sama sekali.

Saat di tengah perjalanan kurang lebih lima kilometer, mereka melihat sebuah rumah panggung yang berada di tengah alas dengan penerangan rumah yang sangat terang dan banyak orang berkumpul di depan rumah tersebut. Hengki pun mengusulkan untuk bermalam di rumah panggung. Usul Hengki disetujui oleh Juned dan Hardi.

****

”Eh coba kau lihat Ned, Har, tampaknya ada rumah panggung di situ dan banyak orang yang berkumpul di siru, kita nginep semalam aja di rumah itu, macam kali penghuninya mau kasih ijin buat nginep, gimana menurut kalian ?”, ujar Hengki.

”Wah mantap lah itu, ide bagus pula kau Heng, ayo sudah kita nginep aja di situ”, ujar Juned.

Yoi, ayo sudah nginep, aku juga udah capek ni, kita nginep ajalah”, ujar Hardi.

Tak lama kemudian, mereka pun tiba di rumah panggung dan bergegas keluar dari mobil.

”Ayo sudah kita turun”, kita sambangi pemilik rumah”, ujar Hardi.

Hengki dan Juned kompak berkata, ”Oke”.

”Selamat malam Pak, Bu, perkenalkan saya Hardi, beserta teman saya berdua, Hengki dan Juned, kami bertiga bekerja di kontraktor tambang, kebetulan kami mendapat survei seismik di daerah sini, kami sudah seminggu survei di lokasi ini”, ujar Hardi.

”Selamat malam juga Nak, perkenalkan saya Suleman atau biasa dipanggil Pak Leman, ini istri saya namanya Martha atau biasa dipanggil Bu Mar, dan ketiga anak laki-laki  saya, yang pertama namanya Gerri, yang kedua namanya Abram, serta yang ketiga namanya Berto, maaf kalau boleh tahu, tujuan kalian datang ke sini ada apa ya ?”, ujar Pak Leman.

”Kami bertiga mau minta izin untuk bermalam di rumah Bapak, sekiranya bila Bapak mengizinkan kami bertiga untuk bermalam di sini”, ujar Hardi.

”Boleh, boleh sekali kalian bermalam di sini, dengan senang hati saya senang bila ada tamu yang datang, ayo Nak silakan masuk”, ujar Pak Leman.

”Mari Nak silakan masuk”, ujar Bu Mar.

”Ayo Om silakan masuk !”, ujar Garri.

Mereka bertiga memasuki rumah Pak Leman untuk istirahat sejenak mengingat besok paginya mereka kembali mess untuk persiapan berangkat kerja.

”Silakan duduk Nak, maaf ya kondisi rumah kami seperti ini, sangat sederhana”, ujar Bu Mar.

”Tidak apa-apa Bu, yang penting kami bisa istirahat”, ujar Hengki.

”Oh ya, kalian mau minum apa ?”, tanya Bu Mar.

”Minum teh saja Bu, tapi tehnya tidak usah manis-manis”, ujar Juned.

”Sudah Bu, biar Bapak yang membuatkan teh kepada mereka bertiga, biar Ibu istirahat saja, Gerri, Abram, Berto, kalian beritga istrahat, biar bapak yang menemani mereka bertiga”, ujar Pak Leman.

Saat Pak Leman meracik teh panas untuk mereka bertiga, tiba-tiba mereka melihat keanehan Pak Leman mengaduk teh panas dengan jari Pak Leman. Mereka heran dengan cara tak lazim yang dilakukan Pak Leman.

Hardi berbisik-bisik kepada Juned dan Hengki, ”Ned, Heng, coba lihat itu Pak Leman kok aneh sekali ya ngaduk teh pakai jari, kalau jari dimasukkan ke dalam air yang mendidih sudah pasti kepanasan, kok Pak Leman malah nggak terasa kepanasan jarinya”.

”Iya Har, kok aneh sekali ya Pak Leman”, ujar Juned.

”Ah itu kan macam tradisi orang lokal aja, jadi kalian tak usah macam mikir yang aneh-aneh lah”, ujar Hengki.

Tak lama kemudian, Pak Leman menyajikan teh panas kepada mereka bertiga. Mereka tak sabar ingin menikmati teh buatan Pak Leman.

”Silakan diminum tehnya Nak, maaf kalau kalian menunggu”, ujar Pak Leman.

”Oh tidak apa-apa Pak”, ujar Hengki.

Tanpa berpikir panjang, mereka bertiga menyeruput teh panas buatan Pak Leman.

”Bagaimana Nak teh panas buatan saya ?”, tanya Pak Leman.

”Wah enak sekali Pak rasa tehnya, rasanya pas, aromanya mantap lah”, ujar Hengki.

”Setelah ini, Bapak masakkan kalian ayam goreng dan ikan goreng, kalian tidak usah repot-repot membantu saya, biar saya yang urus”, ujar Pak Leman.

”Baik Pak”, ujar Hardi.

Sembari Pak Leman berada di dapur menyiapkan masakan untuk mereka bertiga, mereka bertiga berbincang-bincang di depan rumah. Seakan mereka masih heran dengan tingkah laku Pak Leman yang mengaduk teh panas dengan jari Pak Leman.

”Kok aku masih heran aja dengan Pak Leman yang ngaduk teh panas pake jari”, ujar Hardi.

”Iya Har aku juga heran, lagipula bulu kudukku merinding lagi”, ujar Juned.

”Sudahlah kalian di sini nikmati sajalah bermalam di rumah Pak Leman, jarang-jarang kita dapat makan gratis, sudah kalian tak usah macam mikir yang aneh-aneh”, ujar Hengki.

”Apa kamu nggak merasa heran atau takut atau gimana gitu Heng ?”, tanya Hardi.

”Masalah takut, aku tak mau ambil pusinglah, aku serahkan sama Yang Maha Kuasa”, ujar Hengki.

Saat mereka berbincang-bincang, tiba-tiba terdengar suara lolongan anjing memecah keheningan malam.

(Auuuuuuuuuuuuuuuuuuuu)

”Wah bulu kudukku makin merinding dengar lolongan anjing”, batin Hengki.

”Har, Heng, aku ada ide ni, gimana kalo kita menyelinap diam-diam ke dapur ? kita amati tingkah laku Pak Leman saat memasak, usahakan jangan sampai ketahuan Pak Leman, selagi Bu Mar dan anak-anaknya sedang tidur”, ujar Juned.

”Wah ide bagus juga Ned, ayolah kita ke dapur diam-diam, jangan sampai Pak Leman tahu gerak-gerik kita”, ujar Hengki.

Mereka bergegas menuju dapur untuk melihat Pak Leman memasak, mereka menyelinap diam-diam menuju dapur untuk mengamati tingkah laku Pak Leman saat memasak. Benar saja, mereka kaget ternyata Pak Leman memasak dengan cara yang tak lazim. Pak Leman menghisap darah ayam dengan mulutnya dan memotong ayam dengan giginya. Hal yang sama juga dilakukan saat Pak Leman memasak ikan.

Mereka merasa jijik saat melihat Pak Leman memasak ayam dan dengan ikan cara tak lazim. Melihat kejanggalan yang dilakukan Pak Leman, mereka menduga bahwa ada sesuatu yang beres. Tak berselang lama, Pak Leman menggoreng ayam dan ikan dengan menggunakan tangannya.

Pak Leman membolak-balikkan ayam dan ikan dengan tangannya. Setelah melihat kejanggalan yang terjadi pada Pak Leman, mereka kembali ke ruang tamu untuk berbisik-bisik perihal keanehan pada Pak Leman. Waktu tak terasa menunjukkan pukul 24.00, suasana malam menjadi semakin dingin dengan lolongan anjing yang saling bersahutan.

”Ini pasti ada sesuatu yang nggak beres, tak mungkin jugalah kalau tradisi orang setempat dengan cara yang tak lazim, sumpah jijik kali tadi, aku hampir muntah melihat Pak Leman memasak ayam dan ikan, untung kutahan-tahan ”, ujar Hengki.

”Sekarang kau baru sadar kan Heng ? sama aku juga tadi hampir muntah melihat Pak Leman memasak ayam dan ikan, jelas sekali ini pasti bukan Pak Leman yang asli”, ujar Hardi

”Kalau kita mau kabur, kita jadi nggak enak sama Pak Leman”, ujar Juned.

”Kalau sekarang tidak mungkin untuk kabur, mengingat kita semua sudah dalam kondisi kantuk berat, kita bermalam di sini saja, mudah-mudahan tidak ada apa-apa”, ujar Hardi

Sekitar 10 menit kemudian, Pak Leman menyajikan ayam goreng dan ikan goreng, serta air putih kepada mereka bertiga di ruang tamu. Pak Leman mempersilakan mereka bertiga untuk memakan ayam goreng dan ikan goreng.

”Maaf ya agak lama nunggunya, ini ayam goreng dan ikan gorengnya sudah jadi sekarang silakan dimakan, Bapak mau istirahat ya, Bapak sudah kantuk”, ujar Pak Leman.

”Ya Pak, Baik Pak, Terima kasih banyak Pak atas suguhannya”, ujar Hardi.

”Sama-sama Nak, ya sudah kalau begitu, Bapak mau istirahat dulu”, ujar Pak Leman.

Saat mereka mencicipi ayam goreng dan ikan goreng, mereka merasakan bau yang sangat amis dan air putih yang mereka minum tiba-tiba berubah warna menjadi kecoklatan berbau tanah.

”Kok daging ayamnya sama ikannya bau amis sekali, mana masih ada sisa darahnya lagi”, ujar Hardi.

”Lagipula daging ayamnya sama ikannya masih mentah gini, ah aku nggak kulanjutkan makan”, ujar Juned.

”Weeeek, air putihnya berubah jadi coklat, mana bau tanah lagi, sudah kita kabur saja dari rumah ini, selagi Pak Leman dan keluarganya masih tidur”, ujar Hengki.

Mereka memutuskan untuk kabur dari rumah tersebut, setelah melihat kejanggalan yang terjadi pada Pak Leman. Dengan lari ketakutan mereka bergegas menuju mobil, mengingat ini adalah jebakan rumah siluman. Hardi menyetarter mobil nya dan langsung tancap gas untuk perjalanan pulang menuju mess. Waktu menunjukkan pukul 01.00.

Tak lama setelah mereka kabur dari rumah tersebut, tiba-tiba mereka dicegat oleh sesosok penampakan lima orang dengan wajah yang sudah hancur dan isi perut yang terurai, menampakkan taring dan kuku panjang. Mereka sontak kaget dan sangat ketakutan. Dengan keberanian yang sangat tinggi, Hardi bergegas keluar dari mobilnya, sementara kedua temannya tetap berada di mobil.

Dengan nada lantang, Hardi berkata,”Kalian siapa ? berani-beraninya kalian mengganggu kami”.

”Saya adalah Pak Leman beserta keluarga yang asli, saya mau menuntut balas dendam atas pembunuhan saya dan sekeluarga, whoaaaaaaaaaa, kami mau mencari korban selanjutnya di rumah kami, kalian bertiga adalah korban yang kami cari whoaaaaaaaa”, ujar arwah Pak Leman.

”Pergilah kalian, pergiiiiii, alam kalian bukan di sini, kami di sini hanya bekerja, kami tidak ingin mengganggu kalian” ujar Hardi.

”Tidak mau, whoaaaaaaaa, aku akan menghabisi kalian”, ujar arwah Pak Leman.

Dengan mengeluarkan taring dan menjulurkan kuku-kuku yang panjang, mereka mendekat menuju Hardi. Mengingat keselamatan Hardi beserta kedua temannya terancam, Hardi membaca Ayat Kursi beserta bacaan surat-surat pendek Al-Qur’an untuk mengusir arwah Pak Leman sekeluarga. Seketika arwah Pak Leman sekeluarga terbakar dan lenyap.

Akhirnya Hardi bisa bernapas lega setelah mengusir arwah tersebut dan bergegas menuju mobil untuk perjalanan pulang menuju mess. 30 menit akhirnya mereka telah tiba di mess dengan selamat tanpa gangguan makhlus halus. Mereka langsung istirahat untuk bekerja besok.

Keesokan harinya, saat perjalanan menuju lokasi survei, mereka dikejutkan dengan kuburan persis dengan lokasi rumah yang mereka tinggali semalam. Mereka menduga bahwa itu adalah kuburan Pak Leman beserta keluarganya yang dibunuh secara keji dan dikubur secara misterius.

Mereka pun melupakan kejadian semalam yang mereka alami dan mereka terselamatkan dari jebakan rumah siluman. Berkat ide dari Hengki untuk kabur dari jebakan rumah siluman, akhirnya nyawa mereka terselamatkan.

Digstraksi adalah Media User-Generated, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

Rico Andreano Fahreza