Olah Rasa Para Siswa Terhadap Pembelajaran Jarak Jauh


Olah Rasa Para Siswa Terhadap Pembelajaran Jarak Jauh 1

Tidak terasa Pandemi Covid-19 sudah hampir setahun lamanya. Seperti mimpi buruk bagi semua, khususnya bagi  para siswa, merasakan pembelajaran Daring yang sangat lama. Awalnya disangka satu atau 2 bulan, Covid-19 bakal cepat berlalu. Namun nyatanya sampai  hari ini pun Pandemi Covid  semakin menggila. Semakin banyak korban yang berjatuhan dan pembelajaran pun masih menggunakan pembelajaran Daring (di daerah penulis).

Olah Rasa Para Siswa Terhadap Pembelajaran Jarak Jauh 3

Pembelajaran jarak jauh / daring menimbulkan beberapa hambatan. Dari sisi para siswa, mereka merasa jenuh dan bosan dengan banyaknya materi dan tugas yang diberikan serta lamanya pembelajaran berlangsung (hampir setahun). Ada seloroh yang menghujam hati ketika lulusan tahun 2020  menyebut “ Angkatan Covid”.  Bercanda namun getir mendengarnya dan senyum pun dibarengi kepahitan. Mudah-mudahan hal ini tidak terjadi di tahun 2021.

Dalam hal pemahaman materi juga menjadi satu masalah bagi para siswa. Sosok guru yang mendampingi mereka dalam belajar, sangat didambakan para siswa. Guru menjadi fasilitator dan konselor bagi siswa dalam pembelajaran. Mereka lebih leluasa untuk bertanya dan berdiskusi  dengan guru jikalau bertatap muka  di sekolah. Mereka seringkali perlu beberapa waktu untuk bisa memahami materi atau kompetensi yang diajarkan. Untuk siswa  yang aktif dan kreatif, mereka bisa browsing dan mencari informasi dari berbagai sumber secara online. Namun bagi yang slow learner, hal ini menjadi hambatan untuk bisa belajar.

Seringkali mereka bertanya kepada Bapak atau Ibunya. Namun seringkali mereka tidak tahu. Hal ini menimbulkan konflik diantara keluarga. Anak menuntut orang tua itu harus serba tahu, padahal banyak hal yang mereka tidak tahu. Selain itu, orang tua memiliki kesibukan yang berbeda-beda. Mereka tidak hanya memikirkan proses pembelajaran siswa, namun harus tetap mencari nafkah untuk mereka bisa bertahan hidup, membeli kuota dan keperluan lainnya. Hal tersebut akan membuat anak dan orang tua tertekan.

Ada hal yang lucu terjadi. Seorang ibu ikut pembelajaran daring, sedangkan anaknya tidak. Betapa besar rasa tanggung jawab ibu tersebut untuk membantu proses pembelajaran anaknya walaupun dengan cara yang keliru. Yang belajar adalah ibunya. Dan ibu tersebut berharap dia bisa menyampaikan ke anaknya. Di kasus yang lain, orang tua ikut “sibuk” mengerjakan tugas-tugas anaknya. Mereka  bertanya ke sana kesini untuk bisa menyelesaikan tugas anaknya sedangkan anak nya bisa lebih bersantai melakukan aktifitas lainnya.

Selain itu,  penggunaan media pembelajaran Daring baik melalui WA grup, Youtube, maupun zoom/Google meet dirasa kurang memberikan pelayanan individu yang optimal bagi para siswa. Pemantauan bagi siswa dalam belajar seringkali dirasakan kurang optimal. Ada kalanya para siswa  hanya mengisi daftar hadir melalui HP, namun tidak mengikuti pembelajaran dan lajut main game Ada juga yang mengikuti pembelajaran namun tugas-tugas tidak dikerjakan. Dan yang lebih parah, ada siswa yang tidak memiliki HP, tidak ada komunikasi dengan pihak sekolah dan tidak peduli mau belajar atau tidak. Para siswa yang seperti inilah berpotensi lose learning dan lose contact.

Sejalan dengan  hal ini, dari hasil penelitian  sederhana, ditemukan bahwa dari satu kelas yang terdiri dari 32-40 siswa, sekitar 5-10 orang siswa lose learning. Situasi yang lose learning adalah suatu keadaan dimana hilangnya pengetahuan  dan keterampilan  khusus atau umum, atau pembalikan kemajuan akademis. Pendeknya para siswa tidak belajar.  Pihak sekolah bekerjadama dengan para guru dan para wali kelas sudah menindak lanjuti para siswa yang berpotensi lose learning dengan pemanggilan orang tua ke sekolah, kunjungan ke rumah siswa (home visit) dan guru kunjung.

Ada kasus dimana ditemukan para siswa (anak) ‘terpaksa” ikut bekerja, membantu keuangan orang tua. Ada yang menjahit, menjadi SPG maupun ikut dalam industry rumahan. Keberadaan mereka lebih banyak dirumah menjadi  satu kesempatan untuk membantu orang tuanya atau memiliki penghasilan sendiri. Hal yang ditakutkan adalah para siswa yang sudah bekerja enggan untuk kembali belajar. Mereka akan lebih nyaman untuk meneruskan pekerjaannya atau menikah dini.Hal ini bisa  meningkatkan angka DO (Dropped out).

Dari hasil karya siswa tentang Resolusi 2021, mereka menaruh harapan bahwa Pandemi Covid cepat berlalu. Mereka sudah rindu dengan situasi sekolah sebenarnya. Mereka rindu teman-teman dan guru-gurunya. Kursi-kursi di kelas dibiarkan bisu dan berdebu. Pintu-pintu kelas terkunci rapat. Kantin-kantin tempat biasa makan dan bercengkrama kini sepi tanpa penghuni. Mereka rindu teriakan-terakan atau candaan ketika bermain atau berolahraga di halaman sekolah.

Olah Rasa Para Siswa Terhadap Pembelajaran Jarak Jauh 4

Pembelajaran Daring perlu kerjasama semua pihak agar terus berjalan sesuai dengan seharusnya. Para guru dituntut untuk lebih kreatif dalam menyampaikan pembelajaran supaya lebih menarik. Para orang tua juga ikut terlibat dalam proses pembelajaran dan pemantauan pembelajaran.  Para pembuat kebijakan dituntut lebih “aware” dan cepat tanggap ketika masalah-masalah pembelajaran timbul.  Para siswa sudah rindu sekolah dan belajar seperti dulu, kembali pada kehidupan normal. Semoga Pandemi cepat berlalu dan harapan-harapan mereka menjadi kenyataan.


Digstraksi adalah platform menulis independen, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

Taryanah

   

Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Copy link
Powered by Social Snap