Otak Perasa & Otak Pemikir


Otak Perasa & Otak Pemikir 1

Untuk yang sedang berjuang dimana saja dan dalam konteks apa pun, saya berharap kita semua terus konsisten dengan hati yang seperti semula, ketika kita hendak memulai untuk berjuang.

Mari kita mulai dengan memikirkan ulang hari saat anda merasa sangat percaya diri dengan semangat yang membara itu. Mungkin anda memulai sesuatu dengan terpaksa, mungkin anda memulai sesuatu dengan motivasi anda harus berhasil,  mungkin anda mulai karena sudah tidak ada pilihan lain, atau mungkin anda memulai sesuatu karena anda menyukai hal tersebut.

Apa pun alasannya itu, ketika hati anda telah memutuskan untuk memulai semua itu, Otak pemikir akan memproses itu sebagai suatu keharusan yang wajib terselesaikan.

Lalu anda mungkin bertanya, jadi kenapa sekarang saya merasa seperti ingin menyudahi sesuatu yang sudah saya mulai?, kenapa saya menjadi tidak berniat untuk menyelesaikan apa yang sudah saya mulai?

Disini saya akan mencoba membantu anda memahami ini semua.

Pada dasarnya kita terlahir sebagai manusia yang komplit. Manusia diberkati otak sebagai suatu mesin utama dalam komponen tatanan biologis manusia. Pada dasarnya otak kita terbagi menjadi 2, yaitu otak pemikir (thinking brain) dan otak perasa (feeling brain), menurut Mark Manson dalam bukunya.

Saya mengasumsikan bahwa pikiran kita adalah sebuah mobil kesadaran yang terdiri dari 2 orang didalamnya, Si otak perasa melambangkan emosi, dorongan hati, intuisi, insting. Sedangkan otak pemikir melambangkan  pikiran-pikiran sadar anda, perhitungan dan kalkulasi, serta ekpresi ide melalui bahasa.

Kebanyakan orang berfikir bahwa manusia bertindak sesuai dengan pikiran yang logis, digerakan oleh otak pemikir yang memiliki perhitungan dan teori yang kompleks. Jika anda berfikir seperti itu artinya anda sama dengan pemikiran klasik pada umumnya. 

Tapi sebelumnya coba anda pahami penjelasan yang akan membantu anda meluruskan pemikiran klasik itu.

Tanpa kita sadari bahwa manusia adalah komponen lemak dan tulang yang hanya digerakan oleh otak perasa, bukan otak pemikir. Dalam mobil kesadaran, otak perasa adalah sang pemegang kemudi dan otak pemikir hanya penumpang yang duduk dikursi bagian belakang, dengan segelas kopi ditangannya lalu bernyanyi ria sambil memandangi pemandangan sepanjang jalan.

Mark Manson dalam bukunya berjudul “everything is f*cked” mengatakan bahwa pada akhirnya hanya emosi yang menggerakan kita untuk bertindak. Amarah mendorong badan untuk bergerak, kecemasan menariknya, kegembiraan mencerahkan otot-otot wajah, sementara kesedihan menyembunyikan eksistensi anda agar tidak dilihat orang. Emosi mencetuskan aksi, dan aksi mencetuskan emosi. Keduanya tak terpisahkan.”

“Ini mengantarkan kita pada jawaban yang paling jelas dari pertanyaan abadi, mengapa kita tidak mengerjakan tugas-tugas yang kita tahu, seharusnya kita kerjakan? “

“Karena kita tidak merasa menyukainya.”

“Otak pemikir hanyalah sebuah navigator yang memiliki bertumpukan peta menuju realitas yang telah dikumpulkan semasa hidup. Otak pemikir tidak memiliki kendali sedikitpun dalam mengendalikan otot berbalut lemak ini, Otak pemikir hanya dapat menyarankan dimana tindakan itu harus dilakukan. Namun otak perasa sangat keras kepala dan tidak mudah untuk diluluhkan. Oleh karena itu otak pemikir kita perlu edukasi dalam mengendalikan otak perasa.”

Kita contohkan bahwa otak perasa adalah seoranga anak kecil manja yang keras kepala dan arogan. Apa yang bisa mempengarhui anak kecil itu?

Anak kecil itu membutuhkan sebuah bujukan halus dengan memberikan sesuatu yang menghasilkan keuntungan buat bersama (win-win solution). “ adik kecil, kamu boleh membeli boneka Barbie yang cantik itu, tapi hanya jika anda sudah menyelesaikan tugas sekolahmu”

Mulailah dengan hal yang mudah-mudah, ingat si otak perasa sangat mudah tersinggung.

Lalu apa hubungannya dengan berjuang?

Memutuskan untuk berjuang adalah sebuah kehendak dari otak perasa, dan saat anda sedang merasakan capek adalah sebuah feedback yang wajar dari otak perasa.

Otak pemikir hanya bisa memberikan saran melalui perhitungan “jika anda berjuang saat ini, anda akan mendapatkan hasil yang mengagumkan esok”.

Ini yang disebut (win-win solution), perlu anda ingatkan pada otak perasa anda, untuk berjuang sedikit lagi dan akan ada sebuah hadiah besar dikemudian hari yang menunggunya digaris finish. Kita (mobil kesadaran) hanya perlu bekerja sama sedikit lagi untuk mencapai hadiah megah itu.

Jika otak perasa anda mengeluh tentang masalah dan ringtanan, otak pemikir perlu menjelaskan bahwa masalah adalah hal alamiah yang turun bersama manusia ke dunia. Masalah adalah bagian dari kehidupan, sifat masalah adalah datang siring berganti dan/atau bertambah, tidak pernah berhenti.

Ketika berjuang untuk memiliki bentuk tubuh atletis, anda akan menemukan masalah bahwa anda harus melatih otot tubuh anda. Setelah anda menemukan solusinya adalah dengan mengikuti member bulanan keangotaan gym, anda baru saja menambah masalah baru dalam hidup anda, yaitu anda harus bangun lebih awal agar bisa sampai ditempat latihan anda.

Atau ketika anda sudah memiliki alasan untuk menunda janji dengan pasangan anda untuk makan malam bersama karena ada rapat bersama manajer baru. Anda baru saja menimbulkan masalah baru, yaitu harus kembali mencocokan waktu dan tanggal buat makan malam bersama pasangan anda.

Untuk bisa konsisten dalam menjalani perjuangan, kita perlu untuk bisa menyenangkan otak perasa kita. Membuat ia tetap merasa bahagia adalah pilihan paling memungkinkan. Ketika kita berhasil menyetarakan kebutuhan otak perasa dengan keinginan otak pemikir, disanalah titik kesuksesan kita dalam mengontrol diri.


Digstraksi adalah platform menulis independen, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

Andy Chandra

   

Dari Kelompok Minoritas yang mayoritas menolak untuk bersastra!

Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Copy link
Powered by Social Snap