Makanan merupakan suatu kewajiban yang harus dipenuhi bagi seluruh makhluk hidup, bahkan makan termasuk dalam kebutuhan pokok bagi manusia. Dalam memenuhi kebutuhan pokok, makan tidak bisa dilakukan secara sembarangan.

Diperlukan adanya aturan guna membatasi jumlah kalori yang masuk ke dalam tubuh. Istilah pembatasan ini bisa disebut dengan pola makan. Pola makan yang baik dapat menyebabkan tubuh kita terlihat lebih sehat, sebaliknya pola makan yang buruk dapat memungkinkan timbulnya efek buruk pada tubuh kita.

Salah satu pola makan yang buruk dapat dilihat ketika makan secara berlebihan. Makan secara berlebihan identik dengan para penderita obesitas. Kebiasaan seperti ini seringkali ditemui disekitar kita. Namun, dapatkah kita menyimpulkan bahwa orang yang gemuk merupakan penderita obesitas atau memiliki pola makan yang buruk?

Hal tersebut tidak bisa disimpulkan demikian. Pemilik tubuh gemuk atau berbadan besar dapat juga disebabkan karena adanya faktor genetik dari orang tua atau generasi sebelumnya. Sehingga, hal ini tidak bisa dijadikan patokan bahwa orang yang bertubuh gemuk merupakan penderita obesitas atau makan secara berlebihan.

Makan secara berlebihan secara tidak langsung dapat berdampak pada atau bahkan berbahaya bagi otak. Oleh sebab itu, sangat tidak sarankan untuk makan dengan porsi yang sangat besar. Perlakuan yang ideal tentu saja dengan makan secukupnya.

Kenapa makan berlebihan bisa berbahaya bagi otak? Sebab, kelebihan makanan dapat mengeraskan pembuluh darah pada otak dan kemudian dapat menyebabkan penurunan daya ingat. Inilah yang harus kita perhatikan. Mengenai hal ini, hasil penelitian yang dilaporkan di American Academy of Neurology, New Orleans, membuktikan bahwa daya ingat bisa menurun akibat makan berlebih.

Sumber : unsplash.com/photos/IHfOpAzzjHM

Dalam penelitian tersebut diungkapkan bahwa semakin banyak kalori yang dikonsumsi orang dewasa, maka risiko mild cognitive impairment (MCI) menjadi lebih tinggi.

MCI merupakan istilah medis untuk kehilangan memori ringan.

Orang dengan MCI berisiko lebih besar untuk mengembangkan demensia, tetapi tidak terjadi pada semua kasus MCI. Meskipun tidak cukup serius menganggu dalam kehidupan sehari-hari, namun orang dengan MCI mungkin memiliki masalah untuk mengingat peristiwa atau informasi baru, serta bermasalah dengan lainnya.

Penelitian tersebut melibatkan lebih dari 1.200 orang berusia antara 70-89 tahun, termasuk pula orang yang memiliki tanda-tanda MCI. Peserta dijelaskan mengenai diet yang akan dilakukan selama setahun sebelum mengisi kuesioner penelitan.

Penelitian tersebut juga mengambil faktor-faktor lain, seperti usia, jenis kelamin, tingkat pendidikan, riwayat stroke, dan depresi. Peserta penelitian yang mengambil kalori dalam jumlah tertinggi per hari memiliki risiko dua kali lipat untuk mengalami MCI.

Itulah risiko bagi orang yang suka makan berlebih. Sebenarnya banyak faktor pemicu seseorang makan secara berlebihan. Selain karena faktor kepuasan, ada pula anggapan bahwa makan berlebih dapat menambah berat badan. Orang-orang yang memiliki berat badan ringan (kurus) tentu termotivasi untuk melahap makanan sebanyak mungkin dengan harapan bisa gemuk.

Kegemukan tentu tidak hanya mengubah bentuk dan lingkar perut, namun yang paling berbahaya ialah bisa mengubah atau menurunkan fuingsi otak.

Makan terlalu banyak juga berbahaya bagi otak untuk orang yang telah lanjut usia. Dalam sebuah riset mengungkapkan untuk usia 70 tahun atau lebih tua lebih berisiko mengalami penurunan fungsi memori yang dapat menjadi awal penyakit kepikunan akibat makan berlebihan.

Bagi anda yang selama ini terobsesi untuk gemuk dan sebagai alternatifnya kemudian makan secara lahap dan berlebih, Anda harus segera meninggalkannya. Hal ini penting kita perhatikan. Sebab, kegemukan atau obesitas itu sangat berbahaya bagi otak.