Pahlawan Tanpa Tanda Jasa Itu Guru Honorer


Pahlawan Tanpa Tanda Jasa Itu Guru Honorer 1

Sejarahnya bermula dari meletusnya perang di Surabaya antara pasukan Indonesia dengan pasukan Britania Raya. Ada sekitar enam ribu pahlawan yang gugur waktu itu. Peristiwa bersejarah tersebut terjadi pada tanggal 10 November 1945. Oleh sebabnya, setiap tanggal 10 November kita peringati sebagai hari pahlawan.

Menurut situs Wikipedia, pahlawan berasal dari bahasa Sanskerta, yang berarti orang yang dari dirinya menghasilkan buah (phala) yang berkualitas. Menurut laman situs tersebut, muasal kata pahlawan diambil dari kata phala-wan.

Kemudian berlanjut pada pengertian, pahlawan adalah orang yang menonjol karena keberaniannya dan pengorbanannya dalam membela kebenaran, atau pejuang yang gagah berani membela tanah airnya. Sumber lain menyebutkan, pahlawan berasal dari kata pahala-wan. Artinya, seseorang yang melakukan sebuah kebaikan semata-mata hanya mengharapkan pahala.

Selanjutnya, kata pahlawan mengalami perluasan makna. Ia tidak hanya digunakan sebagai penyebutan untuk seseorang yang berjasa bagi negara karena keberaniannya membela tanah airnya di masa penjajahan. Namun, lebih luas dari itu.

Penyebutan gelar tersebut juga dapat disematkan pada siapa saja yang berjasa bagi bangsa dan negara di bidang apa saja. Tak terkecuali di bidang pendidikan. Untuk itu, guru sering disebut sebagai pahlawan tanpa tanda jasa.

Senjatanya berada pada keteladanannya. Penyampaian materi melalui kata-kata memiliki bekas yang mudah terhapus. Namun tidak dengan keteladanan perilaku. Keteladanan perilaku seorang guru jelas melahirkan torehan bekas yang abadi. Dengannya maka, “guru” berakronim “digugu dan ditiru”.

Seorang guru mengemban misi mulia. Mereka menanam bibit-bibit unggul, lalu menumbuhkan generasi gemilang di masa akan datang. Dengan ilmu, guru menorehkan jalan lurus yang menyelamatkan generasi muda. Tidak berlebihan rasanya jika penyair Arab, Imam Syauqi berkata, “Guru hampir-hampir menjadi seorang rasul”.

Pahlawan Tanpa Tanda Jasa Itu Guru Honorer 3

Di tangan seorang guru harapan dan cita-cita generasi penerus bangsa tertumpu. Mereka memikul tanggung jawab besar masa depan negeri ini. Maju tidaknya sebuah negara tergantung seberapa hebat guru mencerdaskan anak didiknya, dan seberapa jitu guru menumbuhkan nilai-nilai kebenaran di dalam jiwa anak didiknya.

Oleh karena, tatkala dua kota di Jepang (Hiroshima dan Nagasaki) porakporanda akibat ledakan bom atom, pemimpin Jepang kala itu memberikan mandat pada bawahannya agar menghitung jumlah sisa guru yang masih hidup (bukan jumlah tentara). Akhirnya, dengan memperhatikan nasib guru, Jepang kembali bangkit dan menjadi negara dengan kemajuan teknologi yang luar biasa. Membangun negara wajib dimulai dari memperhatikan para guru. Begitu kata Kaisar Hirohito (tokoh penting pada masa Perang Dunia II dan pembangunan kembali Jepang) kala itu.

Ironisnya, akhir-akhir ini ratusan hingga ribuan guru honorer berdemonstrasi di kota-kota besar negeri ini. Puncaknya, pada tanggal 30 Oktober 2018 kemarin, mereka memperjuangkan nasibnya di depan istana negara. Meski demonstrasi ini bukan kali yang pertama, namun hal tersebut tetap menjadi fenomena yang memantik ladang berdebatan yang cukup menarik. Pro dan kontra jelas pasti mewarnai.

Di sinilah maka, guru dihadapkan pada dualisme perjuangan yang menguras banyak daya. Di satu sisi ia berjuang demi mencerdaskan anak bangsa, di sisi yang lain ia juga berjuang demi taraf hidup diri dan anak-bininya.

Perjuangan yang pertama barangkali mudah mereka lalui. Saban hari bergelut dengan buku, bertumpuk-tumpuk tugas, menyelesaikan ragam pekerjaan di sekolah, dan lain sebagainya, semuanya merupakan rutinitas yang biasa mereka lakukan. Buktinya, banyak dari mereka yang berprestasi, bahkan telah banyak mengantarkan anak didiknya meraih prestasi. Pendeknya, dedikasi tinggi sudah mereka curahkan demi tugas kepahlawanannya.

Namun, di tahap perjuangan yang kedua ini sulit mereka taklukkan. Seorang guru tidak hanya sebagai pahlawan dalam misi beratnya sebagai agent pencerdas bangsa. Mereka juga pahlawan bagi diri dan keluarganya.

Dua kepahlawanan yang melekat dalam diri seorang guru terkadang menjadi dua sisi yang bertolak belakang. Tak jarang di antara mereka gugur sebelum berlaga. Mereka dengan berat hati meninggalkan profesi sebagai guru. Meninggalkan halaman sekolah, meninggalkan anak didiknya, dan melancong ke luar negeri sebagai TKI.

Kenyataan ini banyak kita jumpai di pelosok-pelosok negeri ini. Mengabdi berpuluh-puluh tahun sebagai guru, namun taraf hidup keluarga masih ala kadarnya dan serba kekurangan. Jika keadaan ini masih terus berlangsung, maka bukan sesuatu yang mustahil jika kelak negeri ini kekurangan stok guru. Dampaknya juga berakibat fatal pada kelangsungan hidup bangsa ini.

Namun, di tengah situasi sulit tersebut, banyak juga di antara mereka yang masih bertahan. Mereka adalah guru sebenar-benarnya pahlawan, (benar-benar) pahlawan tanpa tanda jasa. Meski begitu, mereka masih menatap mimpi-mimpinya di ujung sana segera menjadi nyata. Sekalipun harus dengan bersuara lantang di sepanjang trotoar.

Jika pahlawan “tempo doeloe” merebut kemerdekaan berdarah-darah melawan penjajah, maka pahlawan di era kemerdekaan ini adalah guru yang memiliki tugas ganda, yaitu melawan kebodohan dan berlaga demi keluarga tertatih-tatih menjalani hari-harinya. Mestinya di titik yang terakhir ini pemerintah benar-benar memperhatikan nasib mereka. Jika tidak, pahlawan keteladanan ini setapak demi setapak akan tinggal nama.


Suka POST ini ? Bagikan ke temanmu !

Holikin

   

Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments