Pamali, bukan sekedar kutukan!


Pamali, bukan sekedar kutukan! 1

Bagi orang Indonesia terkhusus yang tinggal di pulau Jawa tentu sudah tak asing mendengar istilah “Pamali” dari orang tua atau kakek dan nenek kita. Bahkan saking terkenalnya istilah Pamali, belakangan istilah ini digunakan sebagai salah satu judul Game bergenre horror.

Kata Pamali secara sederhana bisa diartikan sebagai sebuah larangan atau pantangan, dipercaya jika kita melanggar Pamali ini, maka kesialan akan menimpa pada diri kita. Sebagai contoh, pamali yang paling populer adalah Pamali jika kita duduk di depan pintu. Alasannya adalah jodoh kita akan jauh, setidaknya itulah alasan para orang tua untuk menjelaskan pantangan itu. Padahal penjelasan logis dari Pamali ini adalah menghalangi jalan jika kita duduk di depan pintu.

Menurut cerita para orang tua, penggunaan Pamali dalam rangka mendidik perilaku dan membangun karakter anak-anak pada generasi terdahulu terbilang cukup efektiv. Anak-anak generasi terdahulu kita dikatakan Pamali maka seketika akan langsung menurut. Kalaupun mereka bertanya alasan mengapa hal yang mereka lakukan termasuk pamali, maka para orang tua zaman dahulu cukup memberikan jawabah berupa siloka (kiasan, bhs. sunda).

Berbeda dengan generasi muda saat ini, ketika orang tua mengatakan “Pamali” mereka tak akan langsung menurut, justru akan mempertanyakan alasannya. Kemudian ketika orang tua menjawab dengan alasan berupa kiasan, maka akan timbul pertanyaan baru yang bersifat meminta penjelasan yang lebih logis dan argumentatif.

Pada masa sekarang ini mungkin akan kurang relevan jika para orang tua tidak beradaptasi dengan memberikan penjelasan logis secara langsung kepada anak-anak mereka. Pasalnya perkembangan ilmu pengetahuan yang pesat telah memaksa manusia senantiasa berfikir logis dan kepercayaan terhadap hal hal mistis makin terkikis.

Namun terlepas dari itu semua, saya justru kagum dengan orang-orang zaman dahulu yang taat pada penggunaan Pamali dan menerapkannya dalam rangka mendidik dan membangun karakter anak-anaknya. Kekaguman saya terletak pada kecerdasan para orang tua terdahulu yang dapat membuat penjelasan berupa kiasan. Meskipun kebanyakan kiasan ini bersifat menakut-nakuti tetapi justru karena ini anak-anak menjadi enggan untuk melakukan hal-hal yang kurang sopan atau kurang etis.

Kekaguman kedua saya adalah terletak pada tingginya wibawa para orang tua terdahulu  di mata anak-anaknya. Mengapa? Karena meskipun alasan yang diberikan atas Pamali itu berupa kiasan yang sulit dicerna akal, tetapi anak-anaknya tetap taat pada pantangan.

Kekaguman ketiga adalah terletak anak-anak jaman dahulu yang sangat taat kepada orang tua mereka. Mengapa? Karena mustahil anak-anak ini begitu polos sehingga tak punya fikiran bahwa alas an yang dikatakan orang tuanya bersifat tidak logis. Tetapi tanpa banyak tanya mereka langsung menaati Pamali yang dikatakan orang tuanya. Hal ini menunjukan betapa hormat dan taatnya anak terhadap orang tua mereka.

Yang terakhir, kekaguman saya terletak pada metode orang tua jaman dahulu yang mendidik anak dengan cara “memberi umpan” bukan menyuapi. Alas an atas Pamali yang berupa kiasan memberikan stimulus kepada anak-anak untuk berfikir. Pasalnya alas an Pamali yang tidak logis tentu akan menimbulkan berbagai pertanyaan dalam benak anak-anak, hal ini akan memacu otak mereka untuk memikirkan penjelasan yang lebih logis. Pada akhirnya mereka akan mememukan jawaban logis yang nantinya membentuk diri dan karakternya ketika dewasa.

Kebanyakan Pamali jika kita fikirkan alasan logisnya adalah berbagai cara mendidik agar sikap, perilaku, dan sopan santun kita terbentuk. Bahkan meskipun kita tak benar-benar mengerti dengan alasannya, pantangan berperilaku itu agan sangat berpengaruh pada kehidupan kita baik secara individu maupun secara social. Misal saja beberapa Pamali di daerah saya yang saya ketahui:

1. Pamali memakai topi di dalam rumah, karena si pemakai topi bakal tersambar petir. Padahal ini mendidik kita untuk bersikap sopan di hadapan orang lain di dalam rumah. Karena topi berpotensi menutupi wajah, sehingga lawan bicara kita kesulitan melihat wajah kita.

2. Pamali keluar rumah di waktu sareupna (sekitar jam 18.00 s.d. 19.00), karena bakal diculik setan. Padahal alas an sebenarnya adalah kita dilarang keluyuran antara waktu maghrib hingga isya karena memang waktunya untuk beribadah bagi umat muslim

3. Pamali memotong kuku di malam hari, karena akan menimbulkan penyakit bahkan kematian. Padahal alas an sebenarnya adalah khawatir akan mengakibatkan teririsnya bagian kulit/daging pada jari. Hal iini mengingat pada jaman dahulu system penerangan belum begitu baik dan alat pemotong kuku juga belum secanggih sekarang ini.

Kekaguman saya terhadap orang zaman dulu yang menciptakan Pamali menimbulkan sekelumit fikiran dan sudut pandang yang berbeda terhadap leluhur kita. Mereka bukanlah masyarakat terbelakang dan primitif, mereka adalah masyarakat dengan peradaban yang tinggi, buktinya adalah karena mereka punya kecerdasan yang luar biasa dalam metode membentuk sikap dan karakter manusia.


Digstraksi adalah platform menulis independen, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

Ind Radeta

   

Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Copy link
Powered by Social Snap