Panduan Wisata Restoran Alam Baka


Panduan Wisata Restoran Alam Baka 1

Selamat datang di restoran Alam Baka. Perkenalkan, saya adalah pemandu Anda hari ini. Anda tidak perlu bingung kenapa Anda tiba-tiba ada di sini, karena restoran ini pasti akan Anda kunjungi satu kali sepanjang sejarah kehidupan Anda.

Maaf karena pembukaan saya yang terlalu panjang ya. Mari-mari, silakan masuk ke dalam dan menuju meja penerima tamu. Kami perlu mencocokkan nama Anda dengan daftar tamu undangan hari ini.

Siapa nama Anda?

… Baik, akan saya cek dulu ya.

Wah, karena Anda belum terdaftar, saya akan memanggil Anda dengan sebutan Tanpa Nama ya.

Ah… Maaf. Meskipun saya sudah mengetahui nama Anda, saya tidak bisa memanggil nama Anda jika tidak terdapat di daftar nama. Sudah menjadi peraturan di sini. Karena itu, mohon Anda menunggu selama lima belas menit sambil berkeliling dalam tur kami di restoran ini. Biasanya nama Anda akan masuk ke dalam daftar kami setelahnya.

Baiklah, mari kita mulai tur di restoran kali ini ya. Mari kita langsung naik ke lantai dua. Hati-hati ya, lantai satu agak gelap. Nanti ketika semakin dekat dengan lantai dua, akan semakin terang.


Nah, Tanpa Nama. Inilah lantai tempat para koki dan pelayan kami mempersiapkan seluruh hidangan untuk para tamu kami. Kenapa? Sekolah memasak?

Para koki kami tentu dulu adalah seorang koki. Tapi di sini para koki tidak memerlukan keahlian membumbui, mengolah daging, sayur, ataupun buah yang enak seperti hotel-hotel bintang lima. Karena makanan dan minuman untuk para tamu kami merupakan hasil dari perbuatan mereka sendiri.

Kira-kira makanan dan minuman apa ya yang akan Anda cicipi hari ini? Saya selalu penasaran dengan menu yang akan dimakan oleh para tamu, karena pasti berbeda antara yang satu dengan yang lainnya.

Perkenalkan, ini adalah Franky, koki utama di restoran ini. Alasannya menjadi koki utama hanya karena dia sudah lama berada disini. Mungkin 30 tahun?

Ah… sudah lama juga ya, Franky. Tapi Anda tampak semakin muda saja karena di sini waktu akan berhenti ya. Kenapa? Belum Franky, orang itu belum ada di daftar nama hari ini. Mungkin kau harus menunggu beberapa menit lagi sampai kau bisa menyajikan minuman itu ya.

Maafkan saya karena malah sibuk menjawab pertanyaan Franky ya, Tanpa Nama. Ayo Franky, minta maaflah. Kenyamanan tamu adalah yang utama di lantai ini bukan?

Bagaimana, Tanpa Nama? Di lantai ini sangat menyenangkan bukan? Ruangannya terang, tidak seperti ketika kita menutup mata. Di sini juga ramai, bisa mengobrol dan berinteraksi satu sama lain. Tidak seperti rasa sepi dan kesendirian ketika satu per satu orang yang mengubur kita pergi. Dan yang paling mengasyikkan adalah kita bisa bereksperimen di sini. Membuat makanan-makanan yang… spektakuler.

Baiklah, mari kita menuju ke lantai selanjutnya ya. Hati-hati ketika melangkah. Tapi tenang saja, tangga yang akan kita lalui kali ini akan terasa empuk dengan karpet berwarna merah yang berasal dari China. Karpet ini merupakan barang yang sangat disukai pemandu wisata sebelumnya. Tapi dia harus pergi karena orang yang ditunggunya sudah tiba.

Aduh.. Maaf ya jadi murung seperti ini suasananya. Tapi jujur saja, agak sulit memisahkan perasaan pribadi dengan tamu di sini.

Baiklah, ini dia lantai dua. Tidak ada hal yang menarik di lantai ini. Hanya hamparan pintu dan ruangan kedap suara. Oh, tunggu sebentar. Saya baru menerima pesan masuk. Saya harus mengeceknya dahulu. Siapa tahu ini nama Anda yang baru masuk.

… wah betul, ini nama Anda. Mari-mari, saya antarkan ke ruangan Anda untuk menikmati hiburan serta camilan Anda. Jadwal keberangkatan Anda satu jam lagi menuju alam baka ya. Jadi, kuharap Anda benar-benar menikmati apa yang kami suguhkan di sini.

Waktu? Oh ya, maaf karena membuat Anda bingung. Di lantai ini terdapat penghitungan waktu yang dibuat dengan aturan kami. Tapi untuk lebih mudahnya kami menyebutnya dengan satuan detik, menit, dan jam. Artinya menit lebih lama dari detik dan jam lebih lama dari menit. Kurang lebih seperti itu. Tapi akan terlalu panjang jika saya menjabarkannya. Jadi Anda memiliki waktu yang cukup panjang di ruangan Anda, karena satuan waktu Anda adalah jam.

Ruangan Anda berada di kamar VIP 101. Wah, VIP ya. Pasti akan meriah sekali di sana. Terakhir kali saya menerima seorang nenek di kamar tersebut. Dia didandani dengan kebaya dan dirias dengan bedak, lipstik, serta bunga-bunga yang menyelimuti sanggulnya. Sungguh cantik! Lalu keroncong diputar dan dia berjoget dengan asyik sambil menikmati hidangan khas seperti semur daging, lodeh, siomay, dan… saya lupa apalagi.

Untuk makanan-makanan yang enak ini, kami mengandalkan chef Wira. Dia sangat handal dalam memasak makanan daerah begini. Kenapa? Ah ya, Anda koki juga ya? Jika atasan kami membutuhkan Anda, mungkin mereka akan langsung menyeret Anda ke dapur. Tapi sepertinya atasan kami belum membutuhkan koki lagi. Jadi maaf ya.

Baiklah, silakan masuk. Sebentar saya tutup dulu ya pintunya.

Ruangan Anda sepi sekali, hanya ada jendela yang berhiaskan malam serta sofa dan meja. Bahkan lampu tidak dinyalakan. Kenapa? Anda ingin menerangi ruangan?

Maaf, tapi lampu ini diatur dari pusat. Tidak bisa saya nyalakan sesuai keinginan tamu. Silakan duduk dulu di sofa. Sebentar lagi kita akan memulai acaranya ya. Untuk susunan acaranya akan dimulai dengan hidangan makanan dan minuman, dilanjutkan dengan eksekusi acara. Setelah itu, Anda akan dikirimkan dengan tenang.

Tunggu sebentar, hidangan Anda sudah sampai. Akan saya bukakan pintunya ya.

Silakan Franky dan Wira. Wah… benar-benar spesial sekali ya! Sampai dua chef masuk kesini. Kira-kira makanan apa yang akan dinikmati ya? Baiklah, silakan Wira, sajikan makanan yang dibawa.

Sebentar! Tolong berikan saya aba-aba. Saya perlu mendokumentasikan ekspresi tamu ketika melihatnya.

Satu, dua, tiga

Menarik sekali. Ini jari sungguhan? Dan… darah sungguhan? Oh bukan ya, saya kira ini asli loh. Ternyata dari tepung dan saus ya. Benar-benar hebat, terlihat seperti asli. Bahkan tamu kita pun kaget dibuatnya. Silakan dinikmati hidangan ini ya. Jangan ragu, Wira adalah koki terhebat selama saya di sini.

Wira, bisakah kau jelaskan filosofi dari jari-jari ini? Saya melihat ada jari yang kelihatannya terukir berbeda satu sama lainnya. Ada yang kecokelatan, ada yang seputih susu. Eh? Tunggu sebentar. Coba letakkan tanganmu di samping piring.

Wah? Sama persis ya? Aduh, harusnya saya mengambil foto sebelum tamu kita memakannya ya. Sudah habis satu ya jarinya?

Tunggu sebentar. Kok ada darah yang menetes ya? Apa? Dibiarkan saja? Baiklah. Tapi kok jari tamu kita hanya ada… 9?


Wira – 32 tahun

Izinkan saya yang mengambil peran pemandu Anda hari ini, Amanda. Ini adalah tamu spesial saya yang sudah saya nantikan bersama Franky.

Selanjutnya saya akan menceritakan filosofi dari makanan ini. Jari-jari ini berjumlah lima, dengan tiga jari berwarna putih susu dan dua jari berwarna kecokelatan. Saya menghiasnya dengan saus tomat, karena saya mengetahui kalau Anda menyukai saus tomat. Silakan menikmati sambil melihat satu per satu jari Anda menghilang secara berurutan.

Kenapa? Anda tidak mau memakannya?

Tidak apa-apa. Karena kami bisa melakukan apapun pada jari-jari imitasi ini dan Anda akan merasakannya secara langsung. Wah, Anda memakan jari telunjuk dan jari tengah ya? Harusnya Anda memakan jari manis dulu, karena makan tanpa telunjuk dan jari tengah akan sulit ya. Tapi jauh lebih sulit bagi saya untuk memotong tanpa jari telunjuk loh. Tapi saya bisa menyuapi Anda jika Anda mau.

Hei, hei. Kenapa berlari seperti itu? Darah dari jari-jari Anda menetes ke lantai. Kalau sudah mengering, jadi sulit untuk membersihkannya nanti. Ngomong-ngomong, Anda butuh berapa hari untuk membersihkan darah dari lantai tempat Anda memotong jari-jari kami?

Aduh… jangan berteriak begitu. Tak akan ada yang dengar. Ruangannya kedap suara dan di luar sana hanya ada lepas pantai dengan cahaya bulan itu tak ada siapa-siapa. Berbeda ya ketika Anda menyumpal mulut saya dengan kain, hingga saya tak bisa berteriak sekalipun ada banyak orang di sana. Serba terbatas, disiksa secara mental.

Bagus, akhirnya kau duduk juga ya. Tak apa-apa jika di lantai. Mungkin kau lebih nyaman di sana. Selanjutnya Franky akan melanjutkan hidangannya untuk membuat Anda sedikit terhibur. Silakan Franky.


Franky – 28 tahun

Halo! Saya senang sekali ketika melihat Anda muncul di restoran hari ini. Karena saya sudah sangat menantikan hari ini untuk bercakap-cakap dengan Anda. Baiklah, ini dia hidangan Anda hari ini. Segelas air putih!

Silakan-silakan. Saya yakin Anda haus setelah kaget dengan semua ini. Minumlah pelan-pelan, nikmati tiap tegukannya. Wah cepat sekali habisnya. Ini, saya bawakan lagi untuk Anda.

Ayo, teguk gelas ke dua! Bagus, Anda meminumnya dengan lebih perlahan sekarang ya. Ini, saya tuangkan lagi. Kenapa? Sudah cukup?

Loh, saya kan menyajikannya agar Anda minum. Tidak peduli Anda mau atau tidak. Silakan nikmati gelas ke tiga ini dan minum sampai habis. Masih akan saya tuangkan ribuan gelas lagi nanti. Jadi nikmatilah secara perlahan hingga tetes terakhir. Saya sudah terlalu kembung di laut setelah Anda lempar hingga ke dasar.

Wah, sampai dibuang ke lantai begini airnya. Bisa-bisa menjadi lautan ya ruangan ini. Jika Anda kembung, makanlah lagi jari-jari ini. Kalau jari-jari ini sudah habis, kami bisa memberikan makanan lain lagi sebelum jadwal keberangkatan Anda.

Tenang saja, kita baru menghabiskan waktu satu detik di sini. Oh ya, Amanda, sebaiknya kau kembali, karena kita sudah kedatangan tamu lagi. Tamu yang baru datang luar biasa! Ruangan di tempatnya akan membuat ada bahagia. Sebaiknya Anda bersenang-senanglah di sana. Daripada menunggu kami yang masih lama.

Nah karena Amanda si pemandu tur Anda sudah pergi, kami akan menggantikan perannya di sini. Karena Anda tidak berminat untuk makan, kita akan memulai eksekusi hari ini dalam keheningan yang tak Anda sukai.


Digstraksi adalah platform menulis independen, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

Carter

   

Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Copy link
Powered by Social Snap