Parodi Dilan: Untuk Mereka Pengambil Kebijakan


Parodi Dilan: Untuk Mereka Pengambil Kebijakan 1

Dilan, Kamu Salah! Yang berat bukan rindu, Dilan, bukan itu. Kamu tahu? Di tengah terpaan badai musibah ini, narasi-narasi datang bermunculan bagai jamur di musim penghujan. Datangnya kebetulan. Semacam jelangkung, datang tak disambut dan pergi tak diantar. Ragam narasi itu hanyalah dagelan. Bersiliweran datang tanpa dimengerti maksud dan tujuan.

Semua turun, seperti memacu. Bukan bagaimana cara mencari solusi persoalan, agar semuanya lekas-lekas kembali normal.

Di tengah mengharubirunya perjuangan mereka di garda depan. Nasib dan hidup mereka bertaruh di antara semaput dan sekarat. Dagelan pun muncul tiba-tiba, melonggarkan tempat-tempat umum yang biasa ramai. Melonggarkan keramaian. Maka, bagaimana jadinya tagar, “Indonesia?? Terserah!!” lahir memantik, menyembur di permukaan, menyemprot mereka yang punya kuasa.

Yang berat bukan rindu, Dilan! Melainkan mengembalikan kepercayaan di tengah kebijakan yang mencla-mencle. Bukan rindu yang berat, Dilan! Yang berat, hilangnya kepercayaan di tengah ketidakpastian. Sekali lagi, rindu tidaklah berat, Dilan! Tak ada yang lebih berat dari membangun kepercayaan di atas puing-puing pudarnya kepercayaan itu. Itu yang berat, dan bukan rindu.

Dilan, zamanmu tahun 90-an tidak pernah ada seseorang yang hilang kepercayaan sehingga siapapun yang terzalimi merasa sia-sia dan menyerahkan nasibnya di bawah keletihan dan rasa ngambek. Kemudian muncul sebuah public-opinion menegur semuanya, tak terkecuali mereka yang membuka kran pendatang luar masuk dengan aneka alasan yang juga mencla-mencle. Zamanmu tak ada itu. Hingga kau hadirkan narasi, agar tercintamu tidak menanggung beban berat rindu. Lalu kau berkata, “Jangan rindu, rindu itu berat. Biar aku saja!”

Dilan, kamu salah. Jika di hari ini, kamu masih keukeuh bahwa rindu itu berat, itu salah. Yang berat bukan rindu. Yang berat itu mengoplos kepercayaan. Meraciknya agar kembali dapat dirasakan banyak orang, terlebih para medis. Itu yang berat. Jangan percaya, percaya itu berat. Biar aku saja!

Jangan, Milea!

Di daerah yang berzona merah, pergerakan uang tersendat-sendat, jika tidak mau dianggap macet total. Sembako dan 600 ribu tunai entah dimana dituai. Jerit-jerit mereka yang tercekik yang terdampak, tanpa tahu harus ke mana memulangkan keluh dan kesahnya. Milea, betapa kamu telah terpedaya oleh kata-kata Dilan. Kamu tahu, Milea? Yang berat bukan rindu, tapi ulu hati dan rasa perihnya dikhianati, dibohongi, dan dimuakkan oleh janji-janji.

Milea, beberapa kali kau mengajak tersayangmu, Dilan itu, berponcengan di sudut-sudut jalan berkelok. Jangan, Milea! Di sana terpampang banyak sepanduk-sepanduk bertuliskan khotbah-khotbah tentang pysical distancing. Khotbah-khotbah yang tak pernah searus dengan platform real yang punya kuasa. Kamu takkan paham, Milea! Penguasa kita tak pernah serius mengurus, dan itu sangat betapa.

Sedikitlah bentangkan kesadaranmu, Milea. Mereka yang kuasa, terlebih di tanah ini, tidak benar-benar memikirkan nasib orang-orang sekitarmu yang napasnya tersengal-sengal oleh ketidakpastian. Terlebih oleh kebijakan yang tanpa kontruksi, dan tanpa aksi. Realitas masyarakat kita seperti terpesona oleh kalimat-kalimat yang terpajang di layar sepanduk. Nyaris akhirnya, semua menjadi amburadul dan seperti menunggu waktunya tiba. Naudzubillah!

Benar, Milea, jangan rindu, itu berat! Terlebih merindukan tangan-tangan penguasa berbuat nyata demi kebaikan bersama. Ya, itu sungguh sangat berat.

Kita seperti disuguhkan serimbun pohon yang daunnya layu, menunggu jatuh dan gugur satu persatu. Hanya menunggu, tanpa melakukan standar kebijakan yang matematikanya jelas. Tapi, Milea, Dilan sangat sayang padamu. Ia tetap tidak akan membiarkanmu berkerumun, meski kamu tidak memahami isi sepanduk, tidak mengerti kebijakan apa yang dipilih yang kemudian teraplikasi.

Milea, biarlah rindumu itu, cukup Dilan yang menanggung beban beratnya. Pundaknya cukup tangguh memikul beban berat itu. Kendatipun ia selalu geleng-geleng kepala atas dia yang punya kuasa itu, yang sama sekali tidak pernah memberikan langkah-langkah pasti demi meredam amukan pandemi ini. Sama sekali tidak dimengerti. Kamu jangan bersedih, Milea! Jangan, Milea!

Jason, Mengapa Begitu?

Kekuasaan pada akhirnya menampakkan sejarah kelamnya, bahkan menampakkan wajah beringasnya. Fir’aun, Haman, atau Hitler, dan sederet orang-orang yang punya kuasa lalu tumbang karena ulah jahatnya, mereka adalah contoh nyata.

Sejarah mencatatnya. Dan, sejarah selalu menentukan dua paksi, dengan dilakoni oleh dua sosok dua karakter, yaitu jahat dan baik. Musa ada Fir’aun. Ibrahim ada Namrud. Dan Muhammad Saw ada Abu Jahal. Kejahatan tak hanya datang di masa ini, namun sejak dulu. Tak hanya kamu, Jason, yang karena aibmu mencoba menumbangkan Dilan. Sebabnya, kriminal selalu berduet dalam jiwa-jiwa yang binal. Tengoklah bentangan tarikh-tarikh masa lampau.

Tak perlu menyembunyikan deret demi deret kejahatanmu, Jason, karena kita masih mengenal pribahasa, dimana bangkai dikubur pasti terendus bau busuknya!

Jason, kamu tak perlu merasa betapa sedihnya Milea ketika mendengar tercintanya lenyap dan menghilang. Tak perlu menjadi manusia yang paling mendengar getar dan getirnya perasaan Milea sesaat menerima kabar akan Dilan yang tak lagi bernyawa, yang jasadnya entah dikubur di mana. Sebab, engkau, Jason, tercipta menjadi sosok tokoh protagon, persis sama mereka raga-raga yang berkuasa di bawah kendali jiwa-jiwa durjana.

Apa yang ada dalam pikiranmu, Jason, ketika kamu melakukan sesuatu yang tak seharunya? Mengeksploitasi tubuh Indah tanpa hak, laiknya binatang? Kemudian dengan tega, kamu menjorok tubuh Dilan, saat-saat aksi binalmu diendusnya? Apa yang ada dalam pikiranmu? Syetan apa yang merasukimu, Jason?

Jason, mengapa begitu? Dilan hanyalah rakyat biasa yang punya hak hidup, dan diperhatikan kehidupannya. Dirinya tak hanya butuh masker untuk bertahan hidup dari pandemi. Ia juga butuh makan, yang saat ini pekerjaannya terpaksa gulung tikar. Ia butuh bayar iuran BPJS yang ini hari mencekiknya. Butuh bayar angsuran kredit sepeda butut, dan bayar kosan. Butuh semuanya sebagai makhluk yang bernama manusia.

Ulahmu, Jason, tidak hanya Dilan yang harus meregang nyawa. Tak hanya Milea yang harus merasakan hidup di bawah pedihnya kesepian. Tak cukup Indah yang masa depannya terpenggal begitu saja. Namun, semuanya. Bentuk terbesar dan terberatnya adalah keberlangsungan hidup generasi setelah ini, terlebih generasimu. Sejarah akan mencatatnya.

Andai kamu tahu, Jason, di bentang luasnya dunia, di banyak sejarah peradaban dunia, kejahatan pasti menemukan titik kulminasi. Dan sejarahmu pasti berakhir. Pilihanmu hanya dua, berakhir dikenang mulia atau hina sepanjang masa?


Suka POST ini ? Bagikan ke temanmu !

Holikin

   

Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments