Partisipasi Masyarakat dalam Mendukung Smart City di Makassar

Partisipasi Masyarakat dalam Mendukung Smart City di Makassar 1

Smart City sendiri memiliki definisi atau pemahaman yang berbeda-beda, dimana tidak ada definisi yang jelas mengenai smart city itu sendiri. Walaupun begitu, ada semacam konsensus yang menyatakan bahwa Smart City merupakan perwujudan dari adanya inovasi dalam hal manajemen tata kota muapun dalam kualitas pelayanan dan infrastruktur. Pada satu sisi, ada definisi yang menyatakan bahwa hanya perlu berfokus pada satu aspek dalam tata kelola perkotaan saja, dan mengesampingkan aspek-aspek lainnya.

Namun, Monzon (2015) membuat definisi yang berbeda dari definisi sebelumnya, dimana konsep Smart City sendiri merupakan interkoneksi antar aspek-aspek yang berpengaruh pada lingkungan perkotaan. Berdasarkan definisi tersebut, dapat dinyatakan bahwa infrastruktur merupakan kepingan utama dalam Smart City, teknologi juga membantu hal tersebut dapat terwujud, tetapi kombinasi dan integrase dari semua system dan aspek itulah yang baru membuat sebuah kota benar-benar smart (Pardo 2011 dalam Monzon 2015).

Jika sebelumnya telah membahas mengenai e-government, maka konsep Smart City ini merupakan tingkat lanjut dari e-government, dimana sebenarnya dengan system e-government yang maju dan terintegrasi maka Smart City ini baru akan terwujud.

Perkembangan Smart City di Makassar

Konsep Smart City
Konsep Smart City

Berkembangnya Smart City di Kota Makassar di awali pada tahun 2014 lalu, dimana walikota yang terpilih Danny Pornanto mencoba untuk menyelesaikan masalah di perkotaan dengan menggunakan konsep Smart City. Konsep Smart City sendiri pada saat awal sosialiasasinya masih terdengar sanagt asing bagi masyarakat di kota Makassar. Untuk itulah Danny Pornanto, selaku walikota mencoba untuk terus memberikan pemahaman kepada warganya, dimana hal ini tidaklah mudah karena kota Makassar sendiri memiliki penduduk 1,5 juta jiwa dengan latar belanag yang berbeda-beda.  Pendekatan yang dilakukan oleh walikota Makassar Danny Pornanto, ini pun terbilang cukup unik, dikarenakan Pornanto mencoba memperkenalkan konsep smart city menggunakan istilah lokal yang dikenal sebagai Sombere.

Sombere merupakan istilah lokal yang berarti “baik hati dan terbuka” namun istilah lokal ini juga dapat memiliki makna sebagai “pelayanan yang baik, persaudaraan yang erat, dan semangat yang besar.”  Penggunaan istilah lokal ini dimaksudkan oleh pemerintah setempat supaya perkembangan tekonologi dapat berjalan selaras dengan identitas lokal warganya.

Proyek smart city, yang dikenal sebagai Sombere & Smart City Makassar ini secara garis besar memiliki 6 modul, yang antara lain : Smart Governance, dalam rangka untuk mengoptimalkan layanan publik dari pemerintah kota;  Smart Economy, untuk mendorong terciptanya ekosistem yang lebih baik dan mendorong less cash society; Smart Living, untuk menicptakan kehidupan yang nyaman dan meningkatkan kesadaran warganya terhadap kesehatan; Smart Society, dalam rangka menciptakan masyarakat yang interaktif dan humanis; Smart Environment, bertujuan untuk mengurangi dan memanfaatkan sampah serta menciptakan sumber energi yang ramah lingkungan dan berkelanjutan; dan Smart Branding, bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap karakter kota, khususnya  untuk sektor pariwisata (nationalgeographic, 2018).

Konsep smart city ini kemudian diterjemahkan oleh pemerintah kota setempat menjadi beragam program dalam rangka menangani permasalahan yang krusial pada warganya. Dalam langkah awalnya untuk mewujudkan smart city, pemerintah meluncurkan dengan apa yang dinamakan Makassar Smart Card. Dalam Makassar Smart Card ini dapat digunakan untuk merekam data penggunanya seperti ATM, debit card maupun rekam medis.

Mobil ambulan untuk mendukung layanan kesehatan Home Care
Mobil ambulan untuk mendukung layanan kesehatan Home Care

Dengan menggunakan smart card ini pula, maka warganya dapat memperoleh layanan kesehatan yang merupakan program dari smart city, yang disebut dengan Home Care. Layanan kesehatan Home Care ini adalah fasilitas kesehatan berupa mobil mirip ambulans yang beroperasi selama 24 jam dan di dalamnya dilengkapi dengan EKG dan USG. Mobil yang dipakai berbeda dengan ambulans, karena ukurannya yang lebih kecil dengan tujuan untuk menjangkau warganya yang tinggal di daerah yang jauh dan terpencil.

Layanan Home Care ini bekerja dengan cara memeriksa pasien di tempat, kemudian mengirimkan datanya pada dokter spesialis secara online dan kemudian hasilnya akan dikirim kembali secara online juga. Program berikutnya yang diluncurkan menyangkut pada bidang keamanan, yaitu Care and Rescue Center. Program ini dimaksudkan untuk memperkecil angka kriminalitas di Kota Makassar. Dengan memasang 69 kamera CCTV digunakan untuk memantau jalanan dan kamera inframerah untuk memantau apakah seseorang membawa senjata api atau senjata tajam (newsdetik, 2016).

Aplikasi lainnya yang juga diluncurkan adalah Waste Management. Waste Management ini bertujuan untuk mengatur peredaran sampah di Makassar. Semenjak adanya waste management, pertumbuhan bank sampah telah meningkat pesat hingga mencapai 320 di kota Makassar, dimana dengan adanya warga memiliki bank sampah, maka warga dapat menukar sampah dengan uang atau beras. Terobosan lainnya yang dilakukan oleh pemerintah kota Makassar adalah dengan program yang disebut sebagai Alleway. Program Alleway ini dimaksudkan untuk mendorong masyarakat untuk memanfaatkan lorong-lorong atau gang-gang sempit yang ada di sekitar lingkungan tempat tinggalnya. P

emberdayaan warga dengan memanfaatkan lorong atau gang sempit ini supaya masyarakat dapat mandiri secara ekonomi, dengan cara menamam tanaman yang dapat dijual dengan nilai ekonomi yang tinggi pada gang-gang sempit tersebut. Dengan adanya program ini, selain membentuk ruang terbuka hijau, masyarakat juga dapat memenuhi kebutuhannya sendiri dan mendapatkan penghasilan tambahan.

Program lainnya yang juga masih berjalan, seperti Dongkel (Dongeng Keliling) untuk menumbuhkan minat baca pada anak-anak, Jagai Anakta yang berasal dari Bahasa lokal yang artinya “Lindungi Anak Kita”  untuk memberikan kondisi dan fasilitas terbaik bagi anak-anak, kemudian Aparong atau Apartemen Lorong yang bertujuan untuk menyediakan tempat tinggal yang murah dan terjangkau yang diperuntukkan bagi masyarakat berpenghasilan rendah di area padat penduduk, dan Sentra Kaki Lima yang menyediakan area khusus untuk para pedagang kaki lima.

Program Sombere & Smart City Makassar ini dimaksudkan untuk terus berkelanjutan, sehingga nanti diharapkan menjadi bagian dalam kehidupan masyarakatnya. Selain itu aplikasi dalam program Sombere & Smart City Makassar ini juga dapat diunduh oleh warganya, sehingga warganya juga dapat ikut memantau perkembangan kotanya.

Partisipasi Warga dalam Smart City Makassar

Lorong Garden, salah satu bentuk partispasi warga dalam terciptanya lingkungan yang bersih dan nyaman
Lorong Garden, salah satu bentuk partispasi warga dalam terciptanya lingkungan yang bersih dan nyaman

Yang menarik dari keberhasilan Sombere & Smart City Makassar di tangan Danny Pornanto, adalah pernyataan Danny yang mengatakan bahwa keberhasilannya bukan semata-mata karena usahanya atau pemerintah kota saja tetapi berkat partisipasi masyarakat. Partisipasi masyarakat dalam hal ini banyak ditujukan dengan terlibatnya masyarakat dalam program Bank Sampah yang partisipasinya mencapai lebih dari 50.000 warganya dan bagaimana warga terlibat aktif dalam program Alleway dimana masyarakat secara mandiri membangun lingkungan sekitarnya dan memperoleh penghasilan sendiri dari hasil menjual tanaman yang ditanam di lorong.

Berdasarkan hal tersebut dapat dikatakan bahwa partisipasi warga dalam mendukung Sombere & Smart City Makassar cukup tinggi. Namun dalam hal e-participation yang ada di kota Makassar belum dapat disimpulkan sejalan dengan partisipasi warganya, maksudnya adalah partisipasi warga yang besar lebih karena program-program pemberdayaan masyarakat dimana masyarakat dalam hal ini hanya merespon program pemerintah walaupun dapat dikatakan warga memberikan respon yang positif, tetapi belum ada data mengenai berapa banyak warga yang telah berpartisipasi secara online  melalui beragam aplikasi pemerintah kota dan timbal balik yang diberikan warga dari program Sombere & Smart City Makassar.

Referensi :

Bandyopadhyay, A., & Sattarzadeh, S.D., 2010. A challenging e-journey along the silk road : lesson learned from e-government in china and india. Integrated Series in Information, 25, p. 115-138

Baqir, M.N., & Iyer, L. 2010. E-government Maturity over 10 Years : A comparative analysis of e-government maturity in select countries around the world. Integrated Series in Information, 25, p. 3-22

Joseph, B.K. 2010. E-government adoption landscape zambia : context, issues, and challenges. Integrated Series in Information, 25, p. 241-258

Luna-Reyes, L.F. et al. 2010. Digital governance in north america : a comparative analysis of policy and program priorities in canada, mexico and the united States. Integrated Series in Information, 25, p. 139-160

Monzon, D., 2015. Smart cities concept and challenges : bases for the assessment of smart city projects. Smartgreens 2015 and Vehits 2015, CCIS 579, pp. 17–31

Rorissa, A., Potnis, D., & Demissie, D., 2010. A comparative study of e-government service websites of  middle east and north african (MENA) countries. Integrated Series in Information, 25, p. 49-69

Digstraksi adalah Media User-Generated, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

Wicked Minds