Paru-paru Kota, Apa Fungsinya bagi Kita?

Paru-paru Kota, Apa Fungsinya bagi Kita? 1

Keberadaan hutan kota bagi sebuah kota menjadi salah satu indikator untuk menentukan apakah kota itu sehat atau tidak. Robert W Miller (1997) mendefinisikan hutan kota sebagai kelompok pepohonan atau vegetasi yang berada di sekitar kota atau kelompok pepohonan atau vegetasi yang berada di tengah-tengah lingkungan bangunan fisik kota.

Menurut Miller, hutan kota meliputi antara lain pepohonan di pinggir jalan, taman-taman kota serta ruang-ruang terbuka hijau di sekitar kota. Peterken (1995) menyatakan bahwa minimal 30 persen dari areal sebuah kota harus berupa hutan kota.

Selain menambah estetika kota, keberadaan hutan kota memiliki manfaat untuk membersihkan udara kota. Pohon-pohon dalam hutan kota menjadi penabir partikel debu sekaligus menyerap gas-gas beracun seperti karbondioksida, nitrogen oksida, sulfur oksida serta timbal. Di sisi lain, hutan kota menjadi sumber oksigen yang notabene dibutuhkan manusia. Karenanya, sementara pihak kerap menjuluki hutan kota sebagai paru-paru kota.

Manfaat lainnya, adanya hutan kota akan mengurangi aliran air di permukaan tanah sewaktu turun hujan sehingga mengurangi banjir, karena air akan segera terserap ke dalam tanah yang pada gilirannya akan memurnikan dan meningkatkan cadangan air.

Hutan kota juga berfungsi dalam mengurangi pantulan matahari sehingga mengurangi efek rumah kaca serta mengurangi kecepatan angin. Yang juga tidak kalah penting, keberadaan hutan kota dengan aneka pepohonannya turut pula mengurangi polusi suara.

Sementara itu, hadirnya hutan kota akan membuat suasana kota menjadi teduh dan adem. Kondisi ini akan membuat warga kota tidak perlu menggunakan alat pendingin ruangan. Dengan demikian, secara tidak langsung, keberadaan hutan kota ikut menyumbang bagi penghematan energi.

Ditilik dari aspek sosial, ternyata keberadaan hutan kota juga membawa manfaat yang tidak kecil. Hasil kajian yang dilakukan Kaplan dan Sulivan (2001) menujukkan bahwa hutan kota memberi kontribusi bagi peningkatan produktivitas kerja, meningkatkan interaksi sosial warga kota, mengurangi kekerasan rumahtangga, mengurangi perilaku agresif anak, meningkatkan kinerja belajar anak di sekolah serta meningkatkan kesehatan jiwa warga kota.

Kota-kota di negeri ini seharusnya memiliki areal hutan kota yang memadai. Aneka pepohonan nan rimbun di kedua sisi jalan, dan membentuk kanopi, dipadu dengan banyaknya lahan hijau terbuka yang mewujud dalam bentuk taman-taman nan asri mestinya menjadi ciri khas kota-kota kita.

Namun, kenyataannya, pembangunan fisik yang lebih mengedepankan aspek komersial telah membuat banyak kota kita saat ini mengalami defisit pohon. Di sisi lain, kian bertambahnya jumlah kendaraan bermotor membuat pengelola kota lebih suka mengambil jalan pintas dengan melebarkan sejumlah ruas jalan, membangun jalan layang, menebangi pepohonan dan merampas ruang terbuka hijau.

Padahal, mengingat berbagai manfaatnya seperti dipaparkan di atas, sudah seharusnya pengelola kota-kota kita mempertahankan dan sekaligus memperluas areal hutan kotanya. Pembangunan kota-kota kita semestinya jangan hanya mengutamakan aspek materialistik, tetapi juga semestinya lebih menyentuh aspek kelestarian ekosistem.

Sungguhpun demikian, semuanya berpulang kepada para pengelola kota. Apabila pola pembangunan kota-kota kita masih tetap mengutakan kepada aspek materialistik, jangan harap ada penambahan areal hutan kota secara signifikan di kota-kota kita.

Mudahan-mudahan saja para pengelola kota-kota kita dapat segera menyadari persoalan tersebut dan mau segera mengoreksi berbagai kebijakan mereka selama ini sehingga kebijakan pembangunan kotanya lebih berorientasi kepada kelestarian lingkungan.***

Digstraksi adalah Media User-Generated, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

Waku