Patriotisme di Dalam Vaksin Covid-19


Patriotisme di Dalam Vaksin Covid-19 1

Sebuah gerakan penolakan vaksinasi Covid-19 bermunculan di penjuru negeri kita seperti jamur di musim hujan. Kelompok ini muncul saat vaksin sudah ditemukan. Sebelumnya kelompok ini kemana? Kenapa gaung mereka sama sekali tidak terdengar? Itu karena mereka juga sedang stay at home, menunggu kabar baik musnahnya virus Covid-19 dari muka bumi.

Tapi sekarang mengapa mereka malah menolak vaksinasi Covid-19? Itu karena mereka terlalu banyak nonton fim hollywood 🙂 🙂 🙂

Tidak banyak orang yang tahu betapa susahnya belajar Ilmu Virologi. Ilmu yang mempelajari mahkluk suborganisme, terutama virus. Disebut mahkluk suborganisme karena: Virus bisa dikatakan makhluk hidup tapi tidak punya sel lengkap layaknya anjing, pohon mangga, pak RT. Virus bisa juga digolongkan benda mati tapi dia bisa bereproduksi dengan cara menginfeksi sel inang. Selain itu virus punya ukurang yang sangat – terlalu – amat kecil sekitar 20nm hanya bisa diamati dengan mikroskop elektron, sedangkan virus paling besar seperti penyebab covid-19 ukurannya 100nm masih susah dilihat dengan mikroskop cahaya.

Virus itu hidup, tapi tidak termasuk dalam pengertian makhluk yang biasa kita kenal. Namun manusia memang senang mengelompok-kelompokkan segala sesuatu, dengan tujuan mudah dipahami. Padahal alam pemberian Tuhan tidak sesederhana itu. Disinilah tugas para ahli virologi untuk menyederhanakan kerumitan virus sehingga mudah dipahami otak kita.

Namun tetap saja manusia terus mengelompok-kelompokan segala sesuatunya, hitam atau putih? Kaya atau miskin? Mau masuk tim Avangers atau timnya Thannos? Mau divaksin atau tidak?

Mau divaksin atau tidak adalah keputusan masing-masing orang, selama itu didasarkan pada riwayat kesehatannya. Kelompok yang tidak boleh divaksinasi adalah : anak-anak dibawah 16 tahun, ibu hamil dan menyusui, usia lanjut di atas 60 tahun yang kemungkinan sudah menderita penyakit kronis. Sedangkan sisanya, diwajibkan untuk vaksinasi. Negara kita memiliki undang-undang yang mengharuskan setiap lapisan masyarakat melakukan vaksinasi covid-19. Perencanaan dan detail pelaksaan tertuang dalam Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 84 Tahun 2020 Tentang Pelaksanaan Vaksinasi Dalam Rangka Penanggulangan Pandemi Corona Virus Disease 2019 (Covid-19)

Tapi, ada beberapa kelompok yang menyatakan penolakannya, dengan berbagai macam alasan. Kita akan coba membahasnya:

1. Vaksin covid-19 diduga mengandung unsur non-halal sehingga tidak layak disuntikkan pada kalangan tertentu. Unsur non-halal yang dimaksud adalah dari hewan Sus Scrofa Domesticus alias Babi. Sudah lama dunia farmasi dan medis menggunakan produk turunan hewan untuk pengobatan.

Alasan para ilmuwan lebih memilih babi daripada sapi atau ikan karena produk babi lebih ekonomis, dibandingkan sapi atau ikan yang harganya lebih mahal 20 kali lipat. Sistem organ babi punya kemiripan dengan manusia 80-90%. Yang paling menonjol adalah kemiripan sistem kardiovaskulernya. Ukuran dan bentuk jantung kami (manusia dan babi) itu sama, sama-sama bisa mengalami radang pembuluh darah (ateroskeloris) dan serangan jantung. Sehingga banyak tindakan medis yang melibatkan produk turunan dari Sus Scrofa Domestica.

Dalam pembuatan vaksin, produk babi dimanfaatkan sebagai stabilator dan katalis, agar fragmen vaksin tetap stabil dalam penyimpanan dan efektif saat digunakan, contohnya vaksin meningitis yang menggunakan kuman yang dikembangbiakkan dalam enzim tripsin babi. Enzim ini dipilih karena sangat disenangi kuman. Bakteri, virus dan parasit lain bisa tumbuh dalam hitungan menit. Sedangkan kalau memakai enzim hewan lain membutuhkan waktu belasan tahun, bisa-bisa manusia sudah punah sebelum divaksinasi covid-19.

2. Vaksin Covid-19 dianggap belum layak digunakan pada manusia karena belum selesai uji klinisnya. Itu pendapat orang awam, namun para ahli mikrobiologi terutama virologi sudah mewaspadai munculnya infeksi baru sejak kasus virus Ebola tahun 2014-2016. Kala itu ketika teknologi kecerdasan buatan belum semaju sekarang, menyebabkan respon terhadap serangan Ebola sangat lambat, 11.000 orang menjadi korban.

Dalam jurnalnya Institute Jenner di Oxford University menjelaskan: Vaksin konvensional yang diberikan pada masa kanak-kanak menggunakan virus asli yang dilemahkan, namun pengembangan vaksin dengan cara ini sangat lambat. Sebagai gantinya para peneliti Oxford membuat bibit vaksin bernama ChAdOx1 atau Simpanse Adenovirus Oxford One. Ilmuwan mengambil virus flu biasa yang menginfeksi simpanse dan merekayasa menjadi bahan penyusun vaksin untuk melawan hampir semua infeksi. Vaksin dari bibit ChAdOx1 sudah disuntikkan pada 330 relawan jauh sebelum pandemi virus covid-19 terjadi. Virus dari simpanse merupakan hasil rekayasa genetika sehingga tidak dapat menyebabkan infeksi pada manusia. Kemudian dapat dimodifikasi lagi untuk membuat cetak biru genetik sesuai dengan keperluan melatih kekebalan tubuh pada infeksi baru. Analoginya ChAdOx1 adalah tukang pos canggih dan para ilmuwan hanya tinggal mengubah paket yang dikirimkan.

Para ahli sangat bersyukur bahwa kali ini yang muncul adalah virus corona, karena mereka telah memprediksi sejak 20 tahun lalu. Keluarga virus ini sudah muncul sebanyak 2 kali, Sars coronavirus pada 2002 dan Mers coronavirus 2012. Itu berarti para ilmuwan sudah mengetahui sistem biologi virus, prilaku dan kelemahannya. “Kami memiliki awal yang sangat baik,” kata Prof Andrew Pollard dari tim Oxford. Bibit vaksin ChAdOx1 telah dimodifikasi untuk menghadapi Mers, maka hanya perlu waktu singkat untuk memodifikasi melawan Covid-19. Profesor Pollars mengatakan, “Jika ini adalah virus yang sama sekali berbeda dengan keluarga Corona maka kami akan berada dalam posisi yang sangat berbeda.”

Beruntung juga virus corona menyebabkan infeksi jangka pendek. Artinya tubuh mampu mengalahkan virus dan vaksin yang disuntikkan hanya perlu memanfaatkan proses alami yang sejak awal sudah ada dalam tubuh manusia. Jika ini adalah infeksi jangka panjang atau kronis yang tidak dapat dikalahkan tubuh seperti HIV, kemungkinan besar vaksin tidak dapat bekerja.

3Vaksin Covid-19 tidak boleh disuntikkan dalam tubuh manusia karena mengandung gen antikristus. Kelompok antivaksin dengan alasan agama sudah ada sejak tahun 1800-an, ketika Edward Jenner sedang berusaha menemukan vaksin virus smallpox atau cacar air, yang menyerang negaranya, Inggris. Penolakan paling keras dari kelompok religius, yang meyakini bahwa vaksin adalah tindakan manusia mengingkari pemeliharaan Tuhan. akhir-akhir ini kalangan religius sedikit mengendurkan prinsipnya, dan hanya menekankan masalah moral mengenai vaksin yaitu tentang, bahan baku vaksin tidak boleh diambil dari bahan biologis terlarang manusia, seperti fragmen yang berasal dari janin yang diaborsi. Kecuali ada keadaan darurat yang memaksa karena ketidak tersediaan alternatif vaksin lain. 

Namun, di abad 21 yang semua serba transparan. Perusahaan farmasi dituntut untuk secara terbuka memuat komposisi obat termasuk vaksin dalam jurnal produk mereka. Contohnya perusahaan farmasi di Inggris, Pfizer, menerbitkan. 

Fact Sheet for Recipient and Caregiver yang memuat komposisi vaksin Biontech Covid-19, yaitu: mRNA, lipids ((4-hydroxybutyl)azanediyl)bis(hexane-6,1-dyyl)bis(2-hexyldecanoate), 2[(polyethyleneglycol)-2000]-N,N-ditetradecylacetamide, 1,2-Distearoyl-sn-glycero-3-phosphocholine, and cholesterol), potassium chloride, monobasic potassium phosphate, sodium chloride, dibasic sodium phosphate dihydrate, dan sucrose.

Bingungkan, bahasanya seperti dari republik wakanda 🙂

Kalau dilihat dari komposisinya, tidak ada bahan gen antikristus. Semua bahan baku yang dipakai adalah hasil sintesis di laboratorium yang dikerjakan siang malam oleh para ilmuwan cerdas. Mengapa harus cerdas? Karena Tuhan adalah sosok paling cerdas. Gereja bahkan mengakui bahwa kecerdasan manusia adalah dasar untuk bertemu dengan Tuhan.

Tidak ada agama yang menentang vaksin, tetapi ada oknum dan sekelompok oknum yang mengatas namakan agama dan Tuhan untuk menentang vaksin. Pada tahun 2013 seorang peneliti dari Merck menemukan bahwa banyak wabah ditemukan dalam komunitas-komunitas agama. Dan itu terjadi di awal pandemi Covid-19, seperti di kota Daegu Korea Selatan, dan yang baru viral di kelurahan Petamburan Jakarta.

Menurut penelitian dari Vox.com, orang-orang yang tinggal di kota-kota dengan penghasilan tinggi lebih mempercayai ajaran agama mereka daripada manfaat vaksin; dan, orang-orang yang tinggal jauh dari pusat wabah atau orang-orang yang tidak pernah tahu rasanya menderita sakit akibat wabah lebih memilih menolak vaksin. Mungkin, ini hanya mungkin… orang-orang yang menolak vaksinasi covid-19 adalah mereka yang tinggal di awan-awan permai atau di negara wakanda. Ups… 🙂


Digstraksi adalah platform menulis independen, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

Nana Hadinata

   

Setiap detik kehidupan untuk menghidupi hidup.

Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Copy link
Powered by Social Snap