Pelajar Nggak Harus Pintar di Semua Bidang, ‘kan?


Pelajar Nggak Harus Pintar di Semua Bidang, 'kan?

Hai, sebelumnya, perkenalkan namaku Naura Danishtya Maharani. Aku baru saja lulus di pendidikan sekolah menengah pertama. Ini adalah artikel pertama yang akan aku selesaikan di digstraksi. 

Jika mengingat pendidikanku, artinya aku sudah pernah menempuh pendidikan selama kurang lebih 12 tahun, sejak pendidikan prasekolah sampai kelas sembilan SMP.

Selama berada di jenjang sekolah dasar, boleh dikatakan itu adalah masa gemilangku saat menjadi pelajar sejauh ini. Beberapa lomba telah aku ikuti juga menyabet gelar juara kelas.

Saat itu, aku jarang sekali percaya dengan yang namanya “semua orang memiliki potensi di bidangnya masing-masing”, karena di posisi itu, aku merasa seseorang bisa menguasai dan mungkin saja memiliki potensi di segala bidang selama dia mau. 

Sayangnya, menjelang masuknya aku ke sekolah menengah pertama, beberapa hal mulai berubah dalam dunia belajarku. Gelar juara kelas terasa sangat jauh dari genggaman.

Padahal, aku merasa, aku masih menjadi Danish yang belajar. Namun, beberapa pelajaran memang sedikit sulit aku cerna secara cepat. Bahkan, pelajaran seperti matematika dan IPA seolah menjadi musuh bebuyutanku. 

Waktu berlalu cepat, sampailah aku di penghujung kelas tujuh. Dimana saat itu, wabah covid 19 melanda tanah air tercinta dan tanpa memberi pilihan lain kepada hampir seluruh pelajar Indonesia untuk menimba ilmu dari rumahnya masing-masing. Awalnya, aku merasa kesulitan akan proses belajar yang baru ini. Berbasis media sosial dan aplikasi penunjang pembelajaran, tak lantas membuat pemahamanku akan pelajaran yang sulit dimengerti menjadi mudah. 

Mengingat kata orang tua yang katanya, sesuatu pasti memiliki baik dan buruknya.

Setelah memaknai dampak yang kurang baik dari pandemi, agaknya aku dihantarkan pada masa dimana aku menemukan ‘aku’. Sedikit berlebihan sepertinya jika dikatakan begitu.

Tapi, begitulah adanya. Waktu yang banyak kosongnya membuatku lebih sering menonton konten-konten di jejaring internet, seperti misalnya youtube.

Sejak dulu, aku memang tertarik dengan hal-hal yang berkaitan dengan politik dan keadaan suatu negara.

Dan, akhirnya, aku menemukan beberapa content creator yang menyajikan tayangan mengenai beberapa negara yang mulai menarik perhatianku.

Saat itu, aku sangat tertarik dengan kondisi dan keadaan negara Korea Utara, Thailand, dan India. Aku mulai menyelam, mencari berbagai informasi yang ingin aku tahu lebih. 

Awalnya, beberapa pandangan buruk mulai muncul. Ketika pembahasanku dengan orang-orang di sekitar tak jauh dari tiga negara tersebut.

Pelarangan untuk tak menonton hal serupa pun sempat dilayangkan. 

Tetapi, tanpa disadari, disinilah aku mulai menyadari tentang kekeliruan pandanganku pasal “semua orang bisa menguasai dan mungkin saja memiliki potensi di segala bidang selama dia mau”.

Sebenarnya, hal tersebut tidak bisa segera disalahkan. Dalam artian memang semuanya bisa selama ada tekad yang kuat dibaliknya.

Namun, mungkin harus diluruskan dengan sisi pandangku yang sekarang dimana “semua orang memiliki potensi di bidangnya masing-masing”.

Baiklah, itu artinya sekarang sudah waktunya untuk berbicara mengenai potensi di bidang masing-masing.

Menurut KBBI, kata potensi memiliki arti kemampuan yang mempunyai kemungkinan untuk dikembangkan; kekuatan; kesanggupan; daya. 

Sekarang, perlu digaris bawahi bahwa potensi adalah kemampuan yang mempunyai kemungkinan untuk dikembangkan.

Daripada menguasai semua bidang namun dengan hasil rata-rata, lebih baik menguasai satu bidang dengan hasil paling maksimal, bukan?

Tak salah memang dan justru sebagai seorang remaja seharusnya dilakukan jika kita ingin mencoba berbagai hal baru.

Tapi, jangan pernah lupa bahwa ada sesuatu yang dimana kita memiliki kelebihan disana.

Seorang penulis tak pernah disalahkan jika ingin mencoba melukis. Begitu pula jika pelukis berminat untuk mencoba menulis.

Yang pastinya, hal yang dihasilkan tentu akan berbeda. Kecuali jika Sang Pelaku memang memiliki bakat dalam kedua bidang tersebut.

Jika diterapkan dalam kasus pendidikan formal Indonesia yang dimana para muridnya mau tidak mau harus melewati semua mata pelajaran, baik yang diminati atau yang tidak.

Meskipun hanya memiliki minat dan potensi di mata pelajaran tertentu, seorang pelajar sama sekali tidak boleh meremehkan atau memandang rendah pelajaran lainnya.

Sebab, kita memang perlu tahu banyak ilmu. Sebab, dipercaya atau tidak, sesuatu yang telah dipelajari tidak akan memiliki kesia-siaan didalamnya selama hal tersebut positif. 

Pun, bagi pelajar yang sama sekali tak memiliki minat dalam dunia akademik. Tidak apa-apa, bukan salahmu, kok.

Teruntuk yang memiliki permasalahan seperti ini, sangat dianjurkan untuk mengasah kemampuannya atau jika mau, bisa mengikuti sekolah khusus sesuatu bidang yang diminati.

Namun, jikalau berada dalam pendidikan formal, kamu harus tetap mengikuti pelajaran sebagaimana mestinya dan mengoptimalkan potensi kamu di bidang nonakademik yang kamu minati. 

Setidaknya, dengan dijalankannya prinsip seperti ini, boleh jadi dapat membantu mengurangi tingkat frustasi atau stress seorang pelajar dalam menghadapi kendala dalam belajarnya.

Sebab, jika seseorang bisa dalam suatu bidang, mungkin belum tentu yang lain dapat melakukan hal serupa.

Dan, pasti mampu di bidang yang lain. Asalkan ada satu hal didalam sana, yakni: konsisten

Mengapa? Karena konsisten merupakan harga paling mahal dalam sebuah langkah perjalanan.