Pelajaran Berharga dari Dunia Jurnalistik


Pelajaran Berharga dari Dunia Jurnalistik 1

Sejak tahun 2011 lalu Saya resmi masuk di dunia jurnalistik, dengan menjadi reporter pada salah satu media cetak ternama di Kota Manado, Sulawesi Utara.

Sejak itu, kecintaan terhadap profesi ini terus tumbuh. Mencari dan menyajikannya dalam bentuk tulisan seakan telah membuatku ketagihan.

Apalagi pada beberapa momentum, karya jurnalistik yang dihasilkan harus mendapatkan kritikan keras dan pedas dari redaktur maupun pemimpin redaksi karena beberapa sejumlah hal.

Memang jika dihitung, baru 9 tahun profesi ini kugeluti. Namun, pengalaman yang didapatkan darinya terasa lumayan banyak dan cukup membekas di hati dan pikiran.

Tentu saja, bagi mereka yang lebih senior atau lebih lama akan mengatakan bahwa pengalaman yang kudapatkan masih sedikit. Sebab semakin lama seseorang menjadi jurnalis, pengalaman yang didapatkan akan semakin banyak.

Secara sederhana, profesi ini membuat seorang wartawan mendapatkan banyak pengetahuan dari berbagai bidang, mulai dari ekonomi, budaya, agama, politik, pemerintahan, hingga kemasyarakatan.

Hal itu, tentu saja, diperoleh jika seseorang pernah melakukan peliputan pada bidang-bidang itu. Atas dasar itulah jurnalistik seperti menjadi jendela dunia. Dan Saya akan menyebutnya sebagai pendidikan nonformal yang berpenghasilan. Jadi, pasti memuaskan bagi mereka yang haus ilmu pengetahuan.

Sebenarnya, tidak hanya itu saja yang bisa kita dapatkan. Bagi Saya, dunia jurnalistik membuatku bisa mengenal dan memahami karakter manusia.

Ya, profesi ini mengharuskan seorang wartawan membangun relasi yang sangat luas, sehingga bisa mendapatkan informasi sebanyak-banyaknya.

Tidak hanya membangun, pewarta juga berkewajiban menjaga relasi tersebut. Sehingga mencari dan menggunakan pola pendekatan terbaik sudah menjadi sebuah keharusan. Dengan kata lain, banyaknya relasi ini secara otomatis akan membuat pewarta memiliki banyak pengetahuan tentang karakter manusia.

Di sisi lain, seseorang juga akan menemui tantangan besar terkait idealisme saat menjadi pewarta. Apakah mampu mempertahankan idealisme ataukah harus menggadaikannya dengan selembar amplop berisi uang tunai.

Pada akhirnya, kita semua akan tetap berharap bahwa pers akan tetap berfungsi sebagaimana mestinya, yakni sebagai agen perubahan yang akan terus memelototi isu-isu kekinian secara akurat dan terpercaya.

Selamat Hari Pers Nasional.


Digstraksi adalah platform menulis independen, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

Sahril Kadir

   

Tulisanku membuatku tetap hidup, meski saat ku tiada nanti

Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Copy link
Powered by Social Snap