Pelajaran Bisnis Dari Film Filosofi Kopi (Season 2)


Pelajaran Bisnis Dari Film Filosofi Kopi (Season 2)

Setelah film season 1 sukses, Filosofi Kopi kembali dengan cerita berbeda di season ke 2. Masih dengan karakter Ben yang mengutamakan kualitas sementara Jody yang mengutamakan kuantitas, profit dan oportunis, Filosofi Kopi berjualan dengan konsep baru, yakni berkeliling ke seluruh Indonesia.

Suatu hari 2 pegawai Ben dan Jody memutuskan resign dari kedai karena ingin membangun kedai kopi mereka sendiri.

Omset Filosofi Kopi pun turun karena tidak ada pengganti sebaik pegawai mereka yang baru saja resign. Suatu hari datanglah Tara untuk menemui Ben dan Jody, Tara adalah seorang pebisnis perempuan yang ingin mencoba dunia kopi, akhirnya Tara sepakat untuk menjadi investor di Filosofi Kopi.

Dengan kesepakatan itu, akhirnya kedai di Melawai yang sempat menjadi titik awal Filososfi Kopi berhasil di buyback setelah sempat dijual oleh Ben dan Jody. Setelah itu pendapatan Filosofi Kopi melonjak tinggi, bahkan berhasil membuka cabang di Yogyakarta.

Konflik kembali terjadi setelah Ben yang idealis, si mengerti kopi dan peduli kualitas membeli berbagai alat-alat peracik kopi dengan harga yang mahal.

Tentu saja hal ini membuat Jody yang sensitif soal keuangan sempat kesal dengan kelakuan Ben.

Pasalnya modal yang dikeluarkan untuk pembukaan cabang di Yogyakarta sangat besar dan belum sebanding dengan profit yang akan dihasilkan, apalagi kedai tersebut belum resmi dibuka.

Sampai disini dapat dipahami bahwa dalam berbisnis, apalagi jika bisnis itu didirikan lebih dari satu orang yang mempunyai karakter berbeda pasti akan ada kemungkinan terjadi konflik yang mempengaruhi keberlangsungan bisnis tersebut.

Akan tetapi jika masing-masing pribadi bisa saling pengertian dan mau kompak untuk mengembangkan sebuah bisnis, maka untung yang besar akan didapat.