Pemahaman Filsafat Kebahagiaan Plato Dikaitkan dengan Era Saat Ini

Pemahaman Filsafat Kebahagiaan Plato Dikaitkan dengan Era Saat Ini 1

Sosok Plato pasti sudah tidak asing di telinga masyarakat sebagai filsuf dan matematikawan jenius yang hidup di era Yunani Kuno. Guru dari Aristoteless tersebut memberikan peradaban pengetahuan yang bahkan masih cukup relevan hingga saat ini.

Salah satu ajaran filsafat yang diajarkan Plato ialah tentang filsafat kebahagiaan. Dalam pemahamannya tersebut Plato menyampaikan bahwa,

via pexels.com
via pexels.com

Orang itu baik apabila dikuasai oleh akal budi dan buruk apabila ia dikuasai oleh keinginan hawa nafsu. Selama manusia masih dikuasai oleh nafsu dan emosi, maka ia dikuasai oleh sesuatu yang berada di luar kendalinya.-Plato 

Apa yang disampaikan Plato memang benar. Saat manusia dikuasai oleh hal-hal yang berada di luar kendalinya, maka ia menjadi sosok yang tidak teratur dan mudah terombang-ambing oleh kuasa irasional dalam dirinya.

Ia menjadikan dirinya sendiri sebagai objek untuk mencapai sesuatu yang sebenarnya berada di luar kontrolnya. Saat manusia dalam mode ini, maka secara tidak langsung ia sama saja menyusahkan dirinya sendiri dan semakin jauh dari kebahagiaan yang sebenarnya ingin ia rasakan.

Dan hal ini bisa menjadi sebaliknya, saat manusia dikuasai oleh akal budinya maka ia akan berpusat pada dirinya sendiri. Bahkan menurut Plato, hidup secara rasional berarti bersatu dengan dirinya sendiri. Ia menyadari sepenuhnya bahwa kebahagiaan yang sejati memang berasal dari hal-hal rasional dalam dirinya.

Apabila manusia dapat menguasai hidupnya dengan akal budi, maka terdapat 3 kenikmatan yang ia rasakan yaitu kenikmatan kesatuan dengan dirinya sendiri, ketenangan, dan pemilikan diri yang tenang.

Bukan hal yang mudah untuk mengenali manusia yang seperti tidak memiliki kesatuan dengan dirinya sendiri. Seperti kata bijak Ali bin Abi Thalib,

Jangan menganggap diamnya seseorang sebagai sikap sombongnya, bisa jadi dia sedang sibuk bertengkar dengan dirinya sendiri.-Ali bin Abi Thalib

Dalam kutipan bijak tersebut dapat mencerminkan bahwa pemahaman Plato mungkin memang benar dan para khalifah Islam pun juga mengakui akan adanya sebuah fenomena ketidaksatuannya manusia dengan dirinya sendiri.

Bahkan dalam kehidupan modern yang sangat dinamis saat ini, manusia sering dihadapkan pada hal-hal yang sering membuatnya menjadi sulit bersatu dengan dirinya sendiri seperti, selalu menjadi sosok people pleasure dan kurang mempedulikan dirinya sendiri, ketika diri sendiri dominan pada sebuah ekspetasi dan kontra terhadap realitas yang harusnya dihadapi, dan masih banyak fenomena lainnya.

Pemilikan jiwa yang tenang di era yang menuntut serba cepat ini bahkan tampaknya menjadi sebuah tantangan tersendiri. Dari sosok pekerja yang bisa dibilang sibuk dengan terus dikejar deadline pekerjaannya dan sosok yang menganggur sekalipun, cukup sering memunculkan fenomena ketidakpemilikan jiwa yang tenang.

Orang-orang modern saat ini cukup mudah untuk tersulut emosinya, mudah diprovokasi, bahkan mudah menghakimi orang lain. Banyak fenomena seperti ini yang terjadi di dunia maya, kala hidup menuntut untuk serba cepat dengan informasi yang dapat mudah tersebar luas tanpa perlu filter sekalipun. Netizen mudah untuk menelan mentah-mentah sebuah informasi yang tersebar luas.

Cermin sosok yang memiliki jiwa yang tenang tidak akan mudah untuk menjadikan hal-hal yang bisa dikatakan di luar kendalinya, menjadikan hal tersebut merenggut sebuah ketenangan dan kebahagiaan yang sudah ia rasakan selama ini.

Plato mengkategorikan manusia ada 3 yaitu Philosophos yang merupakan sosok manusia yang digerakkan cintanya kepada kebenaran. Manusia ini lebih didominasi dengan akal, dibandingkan nafsu, ambisi, bahkan keinginan yang bersifat sesaat. Manusia ini sudah berada pada titik ketenangan jiwa dan kebahagiaan.

Selanjutnya yaitu Philonikan/philotimon sebagai sosok manusia yang disibukkan pada pencarian-pencarian kemenangan, nama besar, penghormatan, dan validasi dari orang lain. Buruknya lagi manusia kategori ini harus menghadapi konsekuensi dengan menempuh berbagai cara untuk meraih ke-aku-an.

Yang terakhir ialah Philokrematon sebagai sosok manusia yang sibuk mengumpulkan harta benda atau kekayaan. Parahnya manusia tipe ini tidak mempermasalahkan harga dirinya, asalkan ia dapat mengumpulkan kekayaan sebanyak mungkin.

Itulah filsafat kebahagiaan yang Plato cetuskan. Meskipun ajaran-ajaran filsafat terkadang kurang menarik bagi masyarakat, namun apabila terus dipelajari sebenarnya memiliki banyak keterkaitan dengan kehidupan manusia bahkan dapat memberikan solusi dan pandangan baru untuk kehidupan manusia ke depannya.

Digstraksi adalah Media User-Generated, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

Shinta