Pembalap Tempramen Dengan Skill Dewa

Pembalap Tempramen Dengan Skill Dewa 1

Desainer mobil asal Amerika, Carroll Shelby, bersama pembalap berdarah Inggris, Kenneth Miles, berusaha membantu perusaha Ford untuk membuat mobil balap yang dapat mengalahkan Ferrari dengan memenangkan perlombaan Le Mans di Perancis.

Poster Ford vs Ferrari
Poster Ford vs Ferrari

Film dimulai dengan Carroll Shelby sedang berlomba di kompetisi Le Mans, Shelby menang, dan kemudia ia mendapat kabar bahwa ia tidak dapat melanjutkan karirnya sebagai pembalap. Scene kemudian beralih ke bengkel milik Ken Miles dengan seorang customer yang marah karena sarannya yang sarkas. Scene berpindah lagi ke manufaktur mobil milik Ford. Henry Ford II datang dengan penuh amarah pada pegawainya dan meminta pegawainya berhenti mengerjakan pekerjaannya dan menyuruh mereka semua pulang.

Ken Miles dengan mobil yang ia rusak di balapan pertamanya
Ken Miles dengan mobil yang ia rusak di balapan pertamanya

Scene beralih ke tempat perlombaan mobil. Ken marah karena mobilnya tidak lolos uji spesifikasi, Shelby datang untuk membantu Ken. Tidak terima karena mobilnya tidak lolos uji, Ken merusak bagasi mobilnya agar lolos uji. Shelby menasehati Ken, tapi Ken tidak terima. Shelby menasehati Ken karena sifatnya yang pemarah; sifatnya tersebut yang membuatnya sulit mendapat sponsor; tanpa sponsor, tidak ada mobil; tanpa mobil, tidak ada kemenangan. Ken melempari Shelby dengan kunci pas.

Balapan berlangsung, Ken dengan mudah menjadi pemenang dengan mendahului mobil pertama di detik-detik terakhir. Kemenangan yang tak disangka oleh siapapun. Sponsor mobilpun mengakui kemampuannya meskipun dengan sifatnya yang pemarah. Shelby yang dilemparinya dengan kunci pas meminta untuk membingkai kunci pas tersebut. Ken pulang ke rumah dengan kemenangan, tapi istrinya bilang bahwa bengkelnya baru saja ditutup karena masalah perizinan.

Lee Iacocca berdiskusi dengn Enzo Ferrari mengenai pembelian perusahaannya
Lee Iacocca berdiskusi dengn Enzo Ferrari mengenai pembelian perusahaannya

Lee Iacocca, menyarankan Henry Ford II berfikir seperti Ferrari. Meskipun Ferrari tidak memproduksi mobil sebanyak Ford, tapi perusahaan Ferrari dikenal sebagai pemilik mobil terbaik. Mobil Ferrari dikenal sebagai mobil terbaik karena selalu memenangkan perlombaan, Lee Iacocca ingin Ford juga memenangkan perlombaan. Henry Ford meminta Lee Iacocca untuk mendatangi Enzo Ferrari untuk melakukan diskusi membeli perusahaan Ferrari dan bekerjasama untuk memenangkan perlombaan balap mobil. Enzo Ferrari menolak hal tersebut dan merendahkan Henry Ford II. Kedatangan Lee Iacocca ke perusahaan Ferrari dimanfaatkan Ferrari untuk meningkatkan nilai perusahaannya untuk kemudian dibeli oleh Fiat.

Henry Ferrari yang marah kemudian meminta Lee Iacocca membuat mobil balap mereka sendiri dan mengalahkan Ferrari dalam perlombaan Le Mans, perlombaan dari negara Ferrari berasal. Lee Iacocca mengajak Shelby untuk bekerjasama dalam mendesain mobil dalam waktu 90 hari untuk memenangkan perlombaan Le Mans. Shelby setuju dan mengajak Ken Miles untuk menjadi rekannya dalam mendesain mobil sekaligus menjadi pengemudi mobil balapnya.

Ken Miles mendengarkan perlombaan Le Mans lewat radio
Ken Miles mendengarkan perlombaan Le Mans lewat radio

Shelby dan Ken menjadi rekan kerja yang dapat saling melengkapi. Ken sebagai pengemudi dapat merasakan apa yang kurang dari mobil yang mereka desain ketika mengemudikannya. Ken dapat memberikan saran yang mendetail dari setiap hal yang kurang dari mobil balapnya. Dan Shelby, sebagai desainer mobil tidak dapat merasakan hal tersebut, Shelby tau apa yang salah dimobilnya, tapi tidak memiliki solusi untuk mengatasinya. Dengan saran dari Ken, membuat Shelby dapat dengan mudah mengetahui apa yang harus ia lakukan selanjutnya. Saran dari Ken membuat mobil yang mereka desain dapat berjalan dengan sangat cepat.

Shelby segera merampungkan mobil balap mereka. Tapi ada satu hal yang menjadi kendala. Perusahaan Ford tidak ingin Ken menjadi pembalap mereka karena sifatnya yang pemarah. Shelby yang mengetahui hal tersebut tidak dapat berbuat apa-apa. Hari kompetisi semakin dekat, Shelby berangkat tanpa Ken. Ken begadang di bengkel milik Shelby sambil mendengarkan balapan Le Mans melalui radio. Ken sudah menduga akan ada kesalah di mobil yang mereka desain, dan hal tersebut terjadi. Kemenangan tidak berpihak kepada Ford kali ini, meskipun mobil buatan mereka cukup kencang melaju di perlintasan balap.

Shelby mengajak Ford merasakan mobil buatannya
Shelby mengajak Ford merasakan mobil buatannya

Mendengar kekalahannya atas Ferrari, Henry Ford II mengadakan rapat bersama seluruh jajarannya dan mendatangkan Carroll Shelby juga. Shelby berkata padanya bahwa mobil desainnya telah begitu cepat dan menanamkan rasa takut bagi Enzo Ferrari. Shelby mengatakan bahwa mereka telah memiliki mobil yang cukup kencang, kini yang mereka butuhkan adalah pengemudi yang tepat. Henry Ford II mengizinkan Shelby untuk melanjutkan proyeknya dan membuatnya menang di kompetisi Le Mans tahun depan.

Tahun 1966, Lee Iacocca memberitahu Shelby bahwa ia tak lagi membawahi proyek mobil balap dan sebagai gantinya Leo Beebe yang memimpin proyek. Ia memberitahu bahwa bahwa Leo Beebe bersikeras ingin agar Ken tidak menjadi pengemudi mobil balap di Le Mans. Karena mengetahui hal tersebut, Shelby mengajak Hendy Ford II mengendarai mobil buatannya dan merasakan seberapa kencang mobil tersebut dapat melaju. Henry Ford II terkesima dengan mobil buatannya. Kemudian Shelby meminta Henry Ford untuk menjadikan Ken pengemudi di kompetisi Le Mans. Shelby meminta agar Ken dapat menunjukan kemampuannya di balapan Daytona. Shelby bertaruh dengan Henry Ford II; jika Ken menang di perlombaan Daytona, Ken yang ajak jadi pengemudi di Le Mans, dan jika Ken kalah di Daytona, seluruh perusahaan milik Shelby akan jadi milik Ford. Henry Ford menerima penawaran tersebut.

Ken Miles dan Shelby di perlombaan Daytona
Ken Miles dan Shelby di perlombaan Daytona

Shelby masuk perlombaan Daytona. Shelby tak sendirian, Leo Beebe juga memasukan tim Ford lainnya untuk ikut lomba tersebut. Ken hampir memenangkan perlombaan tersebut, tapi kalah karena tim milik Leo Beebe memiliki kru NASCAR di dalamnya yang dapat melakukan pergantian ban lebih cepat dari timnya. Pada lap terakhir, Shelby meminta Ken untuk melaju lebih dari 7000mph. Dan seperti biasanya, Ken berhasil mendahului mobil dari tim Ford lainnya di detik-detik terakhir dan memenangkan perlombaan.

Ken berhasil masuk Le Mans ’66. Pada lap pertama, ada masalah dengan pintu mobil milik Ken yang tidak dapat ditutup, membuatnya ketinggalan selama perlombaan. Phil Remington memperbaikinya dengan memukul pintu mobil dengan palu. Ken mulai mencatat rekor putaran sambil mengejar Ferraris.

Ketika Ken berpacu sengit dengan pembalap dari Ferrari, Lorenzo Bandini yang mengemudikan prototipe baru Ferrari 330 P3, Miles mengalami kegagalan rem dan hampir menabrak ketika berada ditikungan. Ia kemudian mengganti sistem remnya selama di pit stop. Enzo Ferrari yang melihat tim Ford melakukan penggantian sistem rem memprotes hal tersebut, tetapi Shelby meyakinkan bahwa penggantian tersebut tidak menyalahi aturan.

Shelby berdebat mengenai penggantian sistem rem saat perlombaan Le Mans
Shelby berdebat mengenai penggantian sistem rem saat perlombaan Le Mans

Ken dan Bandini sekali lagi berpacu sengit di Mulsanne Straight. Tetapi mobil yang dikendarai Bandini telah melampaui batas yang mampu ditempuhnya hingga menyebabkan mobil yang dikendarainya mogok dan Ferrari dinyatakan keluar dari perlombaan.

Dengan tiga tim Ford berada di posisi teratas, Leo Beebe meminta Shelby untuk membuat Ken melambat agar dua Ford lainnya dapat menyusulnya agar dapat tercipta foto bersejarah bahwa 3 mobil Ford masuk garis finis bersamaan. Ken awalnya menentang keputusan ini, dan terus membuat rekor putaran baru di dekat akhir lomba. Tetapi ia berubah pikiran dan memutuskan untuk melamban dan memberikan foto bagi Henry Ford II. Saat mencapai garis finis, McLaren dinyatakan sebagai pemenang secara teknis, bukan Ken Miles. Bukannya marah Ken berterima kasih kepada Shelby karena memberinya kesempatan untuk balapan di Le Mans.

Ketiga mobil Ford masuk garis finis secara bersamaan
Ketiga mobil Ford masuk garis finis secara bersamaan

Dua bulan setelah Le Mans, saat menguji J-car di Riverside International Raceway, Ken sekali lagi mengalami kegagalan rem dan kali ini ia tidak selamat dalam kecelakaan tersebut. Enam bulan kemudian, Shelby mendatangi rumah Ken, tapi tidak masuk ke rumah. Ia bertemu dengan Peter Miles, anak dari Ken Miles. Shelby memberikan kunci pas yang pernah dilontarkan Ken padanya sebelum memenangkan perlombaan SCCA di Willow Springs pada tahun 1963.

Ford melanjutkan kemenangannya di Le Mans pada tahun 1967, 1968, dan 1969. Dan Ken Miles secara anumerta dilantik menjadi Motorsport Hall of Fame of America pada tahun 2001.

Piter Miles menerima kunci pas dari Shelby
Piter Miles menerima kunci pas dari Shelby

Film ini termasuk dalam genre Sport dan Drama.

Film ini mendapatkan rating 8.1/10 dari IMDb dan 92% dari Rotten Tomatoes. Dariku sendiri, ini dapat 8/10 lumayan bagus, meskipun durasi panjang, tapi film tidak begitu membosankan.

Meskipun durasinya cukup panjang, tapi film ini memiliki konflik di alur ceritanya yang membuatnya menarik. Bagi yang tidak menyukai dunia balap atau otomotif, mungkin asing dengan beberapa kata, tapi tanpa memikirkan maknanya, penonton masih dapat menikmati dan mengerti alur ceritanya.

Saya kira Ken Miles belajar banyak hal, salah satunya adalah menghilangkan sifat pemarahnya. Dia dengan rendah hati mau mengalahkan egonya untuk melambatkan mobilnya. Dan bahkan setelah sampai finis, ia tidak marah mengetahui bahwa tindakannya tersebut adalah kesalahan besar yang ia lakukan; malahan ia berterima kasih kepada Shelby karena telah membuatnya dapat mengikuti perlombaan tersebut.

Tapi yang masih saya bingungkan adalah kenapa Ken Miles tidak menang di Le Mans

Digstraksi adalah Media User-Generated, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

Adriel Prastyanto