Pembelajaran Daring : Apakah hanya tentang tugas saja?


Pembelajaran Daring : Apakah hanya tentang tugas saja? 1

Tak terasa pandemi di ibu pertiwi ini sudah memasuki anniversary ke-1. Mungkin kalau dihitung terakhir berangkat sekolah normal sekitar Februari tahun lalu. Semenjak saat itu juga, sistem pendidikan di Indonesia diganti dengan belajar mengajar secara online atau daring. Awal sistem ini diberlakukan mungkin kita sangat menyambutnya, bagaimana tidak, sekolah yang identik dengan berangkat pagi, duduk seharian, dan pulang sore tiba-tiba menjadi sebatas buka dan cek gadget kita saja, dan uniknya kita bisa melakukannya dimana saja. E

ntah kita saat baru bangun tidur, sedang dikamar mandi, atau bahkan sedang ditengah-tengah match game online yang akan berlangsung. Cukup absen dengan buka link yang tersedia, serta isi form dengan identitas, kita sudah dianggap menghadiri jam pelajaran tersebut. Setidaknya untuk diawal, sistem itu sangat memudahkan.

Bulan berlalu, hari-hari sekolah daring yang kita lalui mendadak berubah menjadi hal paling “mengesalkan” saat pagi weekday. Seperti tugas yang menumpuk, serta deadline tugas pada jam-jam belasan. Mungkin untuk beberapa tugas, kita tidak begitu mempermasalahkan. Seperti tugas yang hanya copy paste, atau menulis tangan tak lebih dari satu halaman. Tapi untuk jurusan disiplin ilmu penulis, deadline hari yang sama, jujur sangat menyebalkan.

Seperti tugas-tugas coding, membuat program, atau mencatat materi yang kurang lebih jika di gores pada kertas buku hampir 2-3 halaman penuh, dalam pandangan subyektif saya deadline pada hari yang sama lumayan merepotkan. Okelah, sebenarnya memang cukup, mengerjakan semua itu mungkin hanya perlu waktu 2-4 jam saja. Tetapi masalahnya tidak semua jam dalam sehari cuma kita luangkan untuk mengerjakan tugas saja. Seperti beberapa teman yang penulis kenal, setiap harinya mereka tidak hanya sekadar menunggu tugas saja.

Ada yang bekerja sampingan untuk mendapatkan uang jajan karena tidak sekolah, adapun juga yang menginvestasikan waktu untuk mempelajari disiplin ilmu lain. Bukan hanya mencatat materi dalam bentuk file elektronik yang diberikan, dan mengubahnya menjadi catatan tulis. Tetapi penulis salut untuk beberapa guru pengajar yang mempunyai metode pembelajaran tugas intuitif. Seperti memberi tugas berkala atau berlanjut, juga tugas sekali setiap dua atau tiga minggu. 

Mungkin tambahan lagi untuk “kekurangan” pembelajaran daring yang penulis alami ialah peresapan materi yang kurang jelas, juga terbatasnya pembelajaran daring dengan wujud interaktif. Seperti diskusi, atau tugas kelompok bulanan. Mungkin pembelajaran seperti itu terlihat merepotkan, tapi dilain sisi, pokok dari Kurtilas kan seperti itu, daripada mencatat dan hanya menyimak, tetapi siswa juga kritis dan kreatif. Harapannya, beberapa tugas dengan tenggat waktu hari yang sama dapat di imbangi dengan jenis tugas yang “cukup” masuk akal diselesaikan pada hari itu juga. Karena tidak semua siswa mengalokasikan waktu seharian hanya untuk mengerjakan tugas saja. Untuk beberapa aspek pembelajaran daring mungkin sudah tergapai, yaitu efisiensi dan efektivitas yang bagus.

Sekian opini dari penulis, semoga kedepannya tidak ada miskomunikasi antara guru dan murid dalam memahami konsep pembelajaran daring. Tetap semangat untuk para Bapak/Ibu guru pengajar SMKN 3 Kendal. Kita bisa menjadi unggul, walau situasi sedang amburadul. SMK bisa. Salam sehat dan wal afiat.


Digstraksi adalah platform menulis independen, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

Revian Jedha A

   

Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Copy link
Powered by Social Snap