Pembunuhan dengan Versi Modern 4.0

Pembunuhan dengan Versi Modern 4.0 1

Pembunuhan. Siapapun yang tahu artinya, pasti tahu perbuatan tersebut adalah hal yang tidak bisa dimaafkan. Pembunuhan sendiri adalah hal yang sudah jelas terlarang, tidak hanya dari sekarang tapi sejak dulu juga sudah ada larangan membunuh untuk siapapun. Meskipun ada beberapa pembunuhan yang dikecualikan dan diperbolehkan. Misalnya, dalam eksekusi mati, atau penangkapan buronan. Tapi jelas untuk masyarakat luas, sederhananya membunuh itu dilarang.

Jika dibandingkan, pembunuhan zaman dahulu memang terdengar mengerikan. Mendengar bagaimana tahap eksekusinya, atau langkah-langkah pelaksanaannya, sudah membuat diri gemetar. Jelas, tidak mungkin orang berperasaan tidak gemetar mendengar bagaimana langkah-langkah seseorang akan kehilangan nyawanya dan meninggalkan kehidupan yang sebenarnya bisa dibuat menjadi indah.

Tapi karena hal itu juga, kita bisa memahami bahwa orang yang bunuh diri itu memang sudah terlalu sulit hidupnya. Kita juga bisa menjadikan ini sebagai tolak ukur untuk bersyukur, karena sekeras apapun ujian yang kita alami, kita masih bisa bertahan hidup dan tidak terlintas pikiran untuk bunuh diri.

Zaman berubah, pembunuhan juga berubah bentuknya. Pembunuhan secara fisik memang tetap dilarang, tapi karena itu dilarang dan hukumannya berat, pembunuhan lain yang justru sekarang malah marak terjadi. Pembunuhan secara mental.

Lalu mengapa saya menyebut pembunuhan secara mental dengan sebutan “Pembunuhan Versi 4.0”? Jawabannya simpel. Era 4.0 adalah era yang sangat modern. Pembunuhan secara mental tentu sangat berpeluang sukses di era seperti ini. Dimana semua orang bisa berkomunikasi dengan telepon genggam, media sosial, dan masih banyak hal lain. Dimana orang bisa kehilangan semangat hanya dengan ucapan tidak langsung, hanya dengan teks, atau komentar-komentar dari orang yang sebenarnya dia juga tidak kenal.

Tetapi tidak sesederhana itu. Era 4.0 digadang-gadang menjadi era baru, yang katanya harus ada revolusi mental. Menarik. Saya sendiri tidak mengerti yang dimaksud revolusi mental itu seperti apa. Entah mentalnya berevolusi menjadi lebih lemah atau seperti apa saya juga tidak tahu. Mungkin sejenis dengan pejabat yang baru dikritik sedikit langsung menangkap pengkritik. Mentalnya kuat, dan mungkin itulah revolusi mental.

Tapi lupakan hal itu sejenak. Ini adalah zaman dimana kita seharusnya lebih menghargai apa pendapat orang, sudut pandang orang, impian orang, dan cita-cita masing-masing individu yang mana setiap individu memiliki perbedaan. Sederhananya, menghargai perbedaan. Jangankan antara ayah dan anak, dua orang kembar saja perbedaannya banyak.

Pembunuhan 4.0 dilakukan dengan cara melanggar perbedaan dan kemanusiaan. Namun lebih modern, dan lebih rapi tentunya. Sehingga, kasus pembunuhan seperti ini tidak bisa dituntut.

Mencaci-maki dan Kekerasan

Dulu, hal ini biasa dilakukan dengan alasan ‘mendidik’. Tapi apakah orang dulu yang melakukan ini bukan orang berpendidikan? Kita tentu tidak bisa bilang begitu. Karena zaman dulu penelitian tidak se-mutakhir sekarang. Sangat wajar jika orang dulu menganggap caci maki dan kekerasan itu bisa mendidik hanya karena mereka melihat orang lain yang diperlakukan seperti itu bisa sukses. Dan korban juga justru sadar diri, karena melihat orang lain bisa sukses, tentu tekad yang tumbuh dalam dirinya adalah keinginan untuk menjadi sukses.

Lain halnya dengan sekarang. Sudah ada ketentuan yang menyangkut hak asasi manusia. Kekerasan verbal maupun fisik tetap tidak bisa dibenarkan dari sudut manapun, terutama untuk anak. Anak-anak, remaja, atau anak muda khususnya, mereka memiliki jiwa yang rapuh dan belum sekuat orang-orang dewasa pada umumnya. Memarahinya mungkin akan memecutnya untuk maju, tapi apakah dia akan ikhlas menerimanya? Belum tentu.

Lalu bagaimana dengan kekerasan di pendidikan militer? Ini adalah hal yang berbeda. Untuk bisa mendapatkan pendidikan militer, seleksinya juga tidak main-main. Memang dipilih hanya orang-orang yang mampu menerima hal-hal yang ada di pendidikan tersebut yang bisa masuk. Pertanyaannya, apakah seorang ayah mengadakan seleksi untuk calon-calon anaknya?

Pembunuhan Impian

Ini tak kalah sering terjadi. Dimana seorang anak dipaksa untuk menjadi sesuatu yang menurut orang tua atau siapapun itu “sukses”. Misalnya bagaimana orang memilih jurusan IPA dan IPS saja ributnya sudah sangat panjang. Sidang paripurna saja mungkin tidak sampai segitunya. 

Pemaksaan impian seperti ini juga sebenarnya sudah ada dari dulu. Dimana anak dipaksa untuk menjadi insinyur lah, tentara lah, dokter, atau PNS. Zaman dulu, memang eksplorasi seorang anak masih sempit karena memang internet masih belum ada. Sehingga, yang tahu dunia luar hanyalah orang tua. Sebenarnya tidak wajar juga, tapi kita masih bisa mengerti mengapa orang tua memaksa kita untuk menjadi insinyur, tentara, dokter, ataupun PNS.

Tapi jangan disamakan dengan era sekarang, dimana anak-anak muda bisa mengeksplor dunia luar sendiri. Anak-anak muda yang mengeksplor dunia luar seharusnya punya kesempatan untuk memilih sendiri apa cita-cita yang dia inginkan. Seharusnya setiap orang punya kesempatan untuk memilih sendiri seperti apa dia ingin hidup, meraih impiannya, dan mencari obsesinya. 

Menyedihkannya lagi, pembunuhan impian tidak hanya terjadi di keluarga namun di sekolah, sebuah instansi yang katanya diharapkan bisa mendidik karakter siswa dan membantu siswa dalam meraih impiannya. Salah besar. Benar-benar salah besar. Ada sekian banyak sekolah yang membuat impian siswa-siswanya hancur tak bersisa dengan pendidikan yang salah. Tak terhitung sekolah yang memperlakukan guru-gurunya dengan perlakuan yang seenaknya dan tidak pantas, sehingga membuat murid terpaksa mengurungkan cita-citanya menjadi guru.

Tak sedikit juga sekolah yang justru bukannya mempermudah, malah mengarah ke mempersulit seseorang untuk meraih cita-citanya. Ada yang ingin jadi dokter, “Jangan, sekolah dokter itu mahal. Kamu gak sayang sama orang tua kamu?!” bukannya diarahkan untuk meraih beasiswa. 

Kesimpulan

Pembunuhan dengan Versi Modern 4.0 3

Kedua hal diatas sama-sama membunuh secara mental. Tapi biarkan saya menganalogikan sekali lagi. Zaman dulu, orang menghancurkan benteng besi dengan menghancurkan langsung, mendobraknya, dan memukulnya sampai hancur. Lain halnya dengan sekarang, cairan tertentu bisa disemprotkan pada benteng besi sehingga menimbulkan karat dan pada akhirnya, besi akan hancur oleh karatnya sendiri.

Dua hal diatas memang tidak akan membunuh manusia secara langsung. Tapi justru membuat hatinya berkarat, sehingga manusia bisa mati oleh dirinya sendiri. Berapa banyak orang yang akan kehilangan semangat hidupnya, atau bahkan tidak menyadari bahwa dia adalah makhluk hidup. Hidupnya beresensi mencari makan, mempunyai keturunan, dan melanjutkan kehidupan. Kalau seperti itu, hewan-hewan juga seperti itu. 

Lebih parahnya lagi, bukan hanya hakikat kehidupan yang akan hilang dari manusia, namun manusia juga bisa mendapatkan niat untuk bunuh diri. Padahal sebenarnya ini pembunuhan. Hanya saja, lebih modern dan rapi. 4.0

Digstraksi adalah Media User-Generated, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

EnamDelapan

   

Sukses hanyalah tentang seberapa beruntung kita. Tuhanlah yang menentukan keberuntungan itu, kita hanya bisa berdoa dan berusaha.