Pemikiran Ekonomi Pada Masa Imam Asy-Syatibi

Pemikiran Ekonomi Pada Masa Imam Asy-Syatibi 1

Perlu kita ketahui bahwa Imam Asy-Syatibi merupakan tokoh muslim yang terkenal didunia. Nama lengkap Imam Asy-Syatibi adalah Abu Ishaq bin Musa bin Muhammad al-Lakhmi al-Gharnati asy-Syatibi, Beliau berasal dari suku arab Lakhmi dan nama asy-syatibi dinsbatkan ke daerah asal keluarganya, syatibah (Xatiba/Jativa) yang terletak di Spayol bagian timur. Masa muda beliau bertepatan dengan masa keemasan Islam kala itu, saat Granada menjadi pusat kegiatan ilmiah dengan berdirinya Universitas Granda.Seperti ilmuan-ilmuan Zaman dulu, Imam Asy-Syatibi bukan sepesialis dibidang ilmu ekonomi tetapi beliau adalah seorang (‘alim) cendikiawan yang memiliki berbagai pemikiran ilmu seperti yang kita ketahui sekarang ini, diantaranya beliau yaitu tentang 4 pemikiran ekonomi pada masa Imam Asy-Syatibi.

1. Objek Kepemilikan

Asy-Syatibi, a mengakui adanya hak milik individu. Namun, saat kepemilikan bisa menghilangkan atau menghalangi kepemilikan orang lain terhadap setiap sumberdaya yang pada dasarnya itu adalah milik umum, atau artinya ketika benda tersebut semula adalah milik bersama (Pemberian dari Allah swt, teruntuk orang banyak), al-Syatibi memangkaskan kepemilikan individu itu terhadap benda yang diberikan oleh Allah kepada semua mahluknya. Menurut beliau benda tersebut dalah pemberian Allah terhadap orang banyak yang sudah menjadi milik bersama, misalnya air baik yang ada di laut maupun yang ada di sungai.

2. Pajak

Menurut Al-Syatibi, pemungutan pajak terhadap kaum muslim saat itu diperbolehkan, dikarenakan baitul mal yang semuanya menanggung pajak atau keperluan kau muslim sudah tidak mampu lagi, sebagamana yang terjadi pada Asy-Syaikh Al-Malaqi dalam kitab Al-Warn` ,ia berkata “diberlakukanya penarikan pajak atas setiap muslim adalah hal yang termasuk dalam al-mashalil al-mursalah”. Menurut beliau, pemerintah boleh memungut pajak baru kepada masyarakat untuk kepentingan ke-maslahatan ataupun kepentingan umum, contohnya pada masa itu pajak yang dikumpulkan dari masyarakat untuk pembagunan Granada sebagai benteng pertahanan.

3. Maqashid Syariah

Sumber daalam pengembangan hukum islam terutama di bidang muamalah yaitu Al-quran dan Hadits. Dengan kedua sumber inilah, Imam asy-Syatibi mengemukakan pemikirannya tentang Maqashid Syariah. Secara bahasa Maqashid al-syariah terdiridari dua kata yaitu Maqashid dan al-syariah. Maqashid berarti kesengajaan atau tujuan, sedangkan al-syariah berarti jalan menuju sumber air atau jalan ke arah sumber pokok kehidupan. Sedangkan pengertian maqashid al-syariah menurut beliau yaitu; ‘Sesungguhnya Syariah itu bertujuan untuk mewujudkan kemaslahatan manusia di dunia maupun akhirat’ Berkaitan dengan pengertian tersebut ia mengemukakan bahwa tidak satupun hukum allah swt. Yang tidak mempunyai tujuan atau membebankan sesuatu yang tidak dapat dilaksanakan. Kemaslahan yang dimaksud yaitu segala hal yang menyangkut rezeki manusia, pemenuhan kehidupan manusia, dan perolehan apa-apa yang dituntut oleh kualitas-kualitas emosional dan intelektualnya dalam pengertian mutlak. Dengan begitu, kewajiban-kewajiban dalam Syariah yang menyangkut perlindungan maqashid al-syariah yang bertujuan melindungi kemaslahatan manusia.

4. Implikasi Maqashid Syariah terhadap teori perilaku konsumen

Konsep Maqashid Syariah dalam artian hemat erat hubungannya dengan konsep motivasi. Dalam aktivitas produksi misalnya, dari perspektif syari’ah seorang muslim terlibat dalam aktivitas produksi dan kegiatan-kegiatan ekonomi secara umum adalah sebagai upaya untuk menjaga kemaslahatan. Semua kegiatan ekonomi yang mengandung maslahah bagi manusia, dalam Islam disebut dengan kebutuhan (needs); sesuatu yang harus dipenuhi.

Mungkin cukup sekian, pada pada dasarnya pemikiran-pemikiran Imam Asy-Syatibi banyak dikembangkan bahkan digabungkan dengan pemikiran-pemikiran tokoh lainnya.

Digstraksi adalah Media User-Generated, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

Ayu Widaningsih