Pemimpin Muda, Bisa Tidak, Ya?!


Pemimpin Muda, Bisa Tidak, Ya?! 1

Memang, dalam aspek kemajuan pembangunan, peran pemuda sangat signifikan. Sebagai agent of change, pemuda memiliki power (jika tidak dibilang super power) untuk mewujudkan tatanan sosial yang berkemajuan. Benar rasanya, apa yang pernah Ir. Soekarno pekikkan puluhan tahun lalu, bahwa dengan sepuluh pemuda dunia dapat digoncangkan.

Sejarah membuktikan hal itu. Peran pemuda di masa-masa pra-kemerdekaan begitu penting dan sangat diperhitungkan. Dengan gagasan intelektual yang mereka tuangkan, persatuan bangsa dapat diwujudkan. Puncaknya, bangsa yang ratusan tahun lamanya dalam bayang-bayang hantu penjajahan, bangkit dan mampu membuat penjajah hengkang dari tanah pertiwi. Tidak berhenti sampai di situ, peran penting pemuda pasca kemerdekaan begitu sangat kentara. Bukti yang tidak dapat disangkalnya adalah, selepas pemuda-pemudi kita merubah perjalanan hidup bangsa dari orde lama, orde baru, kemudian menuju era reformasi.

Pepatah Arab mengatakan, “Himmatu al-rijal tahdimu al-jibal (obsesi kaum muda dapat merobohkan gunung). Dapatkah orang-orang muda kini mampu merobohkan gunung? Mari kita lanjutkan!

Kualifikasi kaum muda di ranah publik kadang mendapatkan tatapan sebelah mata. Tak jarang perilaku brutal, glamour, provan dan segala sifat negatif lainnya disematkan ke wajah kaum muda. Namun, dunia kini telah menampakkan eksistensi positif orang-orang muda. Di banyak negara maju kepemimpinan orang muda mendapat ruang sejuk di hati rakyat. Tipikal karakter buruk tersebut seperti telah sirna dan berganti arah. Maka, muncullah sebuah adagium, “Dunia berada di tangan orang-orang muda.”

Kemudian, bagaimana cara memunculkan pemimpin muda yang berkualitas dan memiliki kapabilitas? Sebenarnya memunculkan pemimpin muda tidaklah seberapa sulit. Membangun kualitas insan muda kita amatlah mudah, dan sebenarnya kualitas itu sudah ada dalam diri pemuda kita. Pasalnya, untuk membentuk kualitas pemuda yang handal yang siap menjadi leader masa depan, sedikitnya ada empat hal penting yang harus dipenuhi. Pertama, pendidikan yang bermutu. Pendidikan yang tidak hanya mentransfer materi pelajaran, akan tetapi yang membangun karakter dan mental.

Kedua, kepekaan sosial. Pemuda harus memiliki jiwa peduli akan kasus-kasus keumatan terkhusus yang membelit di sekitar lingkungannya serta arif dalam memberikan respons dan solusi.

Ketiga, memiliki kemampuan pengembangan diri. Cerdas berwirausaha dan pantang menyerah dalam bekerja serta memiliki karakter  mandiri.

Keempat, mampu membangun komunikasi antar element.

Memang, tantangannya sangat berat. Politik oligarki kaum tua dalam dipan dan ranjang empuk kekuasaan tak jarang menjadi benalu bagi ruang gerak para orang muda. Kemunculan ekses rumit lagi pelik biasa adanya. Namun, ketika keempat pra-syarat di atas ada dalam diri pemuda kita, semua ekses (gesekan) tadi akan hilang dengan sendirinya.

Di hadapkan pada dunia politik, terkadang pemuda memandangnya dengan pandangan tabu. Padahal, sejak berada di bangku kuliah mereka sudah merasakan manis asin berorganisasi. Sehingga muncul komentar-komentar mereka, mengolah seni kepemimpinan berbeda dengan mengolah organisasi. Mereka beralasan, ruang lingkup kepemimpinan politik lebih luas, pelik, dan rumit. Berbeda dengan ruang organisasi yang sempit dan hanya begesekan dengan segelintir orang. Pada akhirnya, pemuda jarang untuk pede berkecimpung dalam dunia “tampuk kuasa”.

Membangun pemimpin muda kita, nyaris sama dengan bercocok tanam. Butuh waktu dan proses panjang. Menanam kepercayaan mereka untuk tampil ke panggung politik dengan membawa spirit muda yang sebenarnya, terbelit oleh ragam benalu. Sebab, kita bisa melihat, meskipun mereka tampil dengan wajah muda, namun masih saja terbenalu oleh cara-cara lama. Politik pragmatis masih membayang-bayangi dada-dada mereka. Tengok saja pemimpin yang tersandung kasus korupsi, wajah-wajah muda dari waktu ke waktu mewarnai pemberitaan layar kaca. Antara yang muda dan yang tua, masyarakat menjadi menilai sama saja. Gaung pemuda sebagai agen perubahan, hanya lipstik semata.

Akhirnya, pemimpin muda menjadi dua sisi yang bersebelahan. Mengahadirkan wajah muda dalam kursi kuasa berada di antara harapan dan patah arang. Berharap mereka melahirkan tatanan baru yang memancarkan cahaya gemilang ke dalam rias politika kita, hingga nampak gagasan dan dari tanggannya mewujudkan bangsa yang berkemajuan. Atau, harapan-harapan itu menjadi arang yang patah. Jika begitu, lalu, kemana lagi harapan-harapan mulia itu dipundakkan?!


Digstraksi adalah platform menulis independen, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

Holikin

   

Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Copy link
Powered by Social Snap