Pemiskinan Petani Padi Di Indonesia


Pemiskinan Petani Padi Di Indonesia 1

Dalam tulisan ini penulis akan menjelaskan faktor-faktor yang membuat petani padi miskin. Hal itu sudah cukup jelas jika kita merujuk pada judul, yang berarti keadaan miskin itu semata – mata bukan kodratiah atau takdir melainkan adanya beberapa faktor penyebabnya. Jika ditanya siapa si yang mau miskin? “pastinya semua orang akan menjawap tidak ada yang mau”.  Dengan jawaban tersebut dapat disimpulkan bahwa keadaan miskin itu sangat menyusahkan, maka dari itu banyak orang yang ingin keluar dari zona kemiskinan.

Disini penulis akan menjelaskan devinisi umum dari kemiskinan terlebih dahulu.
Kemiskinan secara umum dapat didevinisikan adalah bentuk ketidak mampuan seseorang dalam pemenuhan minimum dari kebutuhan dasar baik dalam hal makanan ataupun non makanan dan hidup dibawah garis kemiskinan. Garis kemiskinan merupakan nilai upiah yang harus di keluakan untuk pemenuhan kebutuhan baik makanan ataupun non makanan.

Kemiskinan memiliki beberapa bentuk. Yaitu yang pertama kemiskinan absolut. kemiskinan absolut adalah  seorang yang hidup dibawah garis kemiskinan  atau jumlah pendapatannya tidak cukup dalam pemenuhan kebutuhan pokok, seperti pangan, pakaian, dan tempat tinggal.

Kedua kemiskinan relatif kemiskinan ini memiliki artian jenis kemiskinan yang terpengaruh oleh kebijakan pembangunan yang tidak menjangkau seluruh elemen masyarakat. Sehingga hal itu mengakibatkan terjadinya kesenjangan kepada pendapatan atau bisa dikatakan bahwa seseorang sebenarnya telah hidup di atas garis kemiskinan tapi keadaanya masih berada di bawah masyarakat lainya.

Kemiskinan struktural, kemiskinan ini diakibatkan hak suatu golongan yang membuat golongan masyarakat lainya tidak bisa ikut serta dalam pemanfaatan sumber-sumber pendapatan yang sebenarnya itu bisa digunakan.

Kemiskinan kultural, kemiskinan ini adalah kemiskinan yang diakibatkan oleh budaya contoh budaya boros dan budaya konsumtif.

DIatas penulis memaparkan devinisi dan bentuk-bentuk kemiskinan, setelah pembaca memahami tulisan diatas kini penulis akan memfokuskan tulisan ini kepada konteks pemiskinan petani padi. Pemiskinan merupakan suatu faktor penyebab dari suatu kemiskinan. Maka dari itu penulis lebih sepakat menggunakan kata “pemiskinan” karena dalam keadaan miskin itu ada penyebab atau yang membuat suatu fenomena tertentu terjadi. Berikut adalah faktor-faktornya:

1. Yang pertama adalah pola pikir petani padi yang merujuk pada ketakutan dan menjauhkan diri resiko. Seorang petani yang hidup ditengah garis kemiskinan antara hidup dan mati. Ada sedikit permasalahan sedikit dalam tanaman padinya bisa menyebabkan masalah besar kepada keberlangsungan keluarganya. Hal itu dapat dilihat kenapa petani tidak menanam tanaman komersil yang menyerahkan segalanya kepada mekanisme pasar. Jawapanya petani tidak mau mengambil resiko ketika harja anjlok, karena mekanisme pasar selalu tidak ada kepastian. maka dari itu petani menanam padi agar sesulit apapun keadaanya seorang petani masih dapat makan.

2. Padi Indonesia tidak masuk pasar bebas, yang membuat masyarakat petani mendapat harga murah, dan di tambah lagi dengan dengan biaya pupuk, obat, perairan dan lain-lain. Hal itu memotong cukup besar keuntungan petani.

3. Pemilihan patron klien yang salah, ketika peteni mengalami masalah dan memiliki kemrosotan ekonomi ada beberapa petani lari ke tengkulak yang sekalian punya toko obat-obatan dan pupuk, dan memberlakukan bayar hasil panen. Sementara beberapa yang menggunakan mekanisme tersebut memberlakukan bunga pinjaman.

4. Berbagi kemiskinan atau kemiskinan bersama. Seorang petani padi seringkali membagi-mbagi kemiskinan. Contoh seorang petani memiliki 5 petak sawah dan memiliki 2 anak. maka tanah tersebut akan di bagi menjadi 3 bagian, 2 petak untuk anak pertamanya, dua petak untuk anak anak kedua dan satu petak untuk rumah tangga ayahnya. Selain itu mekanisme pekerjaanya lahan sawah yang semakin sempit otomatis akan menurunkan pendapatan panen per kepala keluarga. Namun dalam panen pengerjaanya pun masih menggunakan mekanisme komunal serta pengupahan kaum kerja dibayar dengan padi. maka akan semakin tipis lagi pendapatan seorang petani yang memiliki lahan.

Diatas adalah maslah – masalah mendasar pertanian yang sudah sejak kemerdekaan Indonesia sampai saat ini. Lantas apa yang harus dilakukan seorang petani, kalangan akademisi, dan pemerintah? perlukah penyadaran mengingat kebanyakan petani sendiri masih berada pada tahap kesadran magis dan naif? 

Saat ini sudah banyak kalangan kalangan akademisi di Indonesia dan para pemegang kebijakan yang handal. Mampu kah mereka campur tangan dan membuat keadaan lebih baik? 

Bagi penulis semuanya absurd karena semua serba berbenturan, menurut penulis “kemiskinan akan selalu ada sepanjang kemiskinan masih memiliki fungsi”. Dan tidak semua orang cerdas itu bijak dan adil karena orang cerdas menurut penulis hanya memiliki 3 pera yaitu “menyelesaikan masalah, mempertahankan masalah dan menciptakan masalah” semua itu tergantung pada kepentingan dan kebijaksanaan dalam pemanfaatan kecerdasan.


Digstraksi adalah platform menulis independen, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

pengendara bajai

   

Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Copy link
Powered by Social Snap