Pemudik Menangis karena Disekat, Implementasi Sikap Tegas tapi Humanis Aparat


Pemudik Menangis karena Disekat, Implementasi Sikap Tegas tapi Humanis Aparat 1

Jelang Hari Raya Idul Fitri 1442 H atau tahun 2021 ini, masyarakat Indonesia berbondong-bondong ingin melakukan mudik lebaran. Seolah menjadi tradisi, mudik lebaran memiliki intensi khusus yaitu untuk melepas rindu dengan orang tua di kampung halaman, terutama bagi perantau yang mengadu nasib di kota metropolitan.

Namun sayang harapan tersebut nampaknya terpaksa harus pupus. Pemerintah resmi melarang mudik lebaran mulai Kamis, 6 Mei 2021 hingga Selasa, 17 Mei 2021. Hal tersebut guna menekan penularan virus Covid-19 di situasi pandemi.

Sang Juru Bicara Kementerian Perhubungan, Adita Irawati menyampaikan, pemerintah melarang semua pengoperasian transportasi untuk kepentingan mudik, baik di darat, laut, dan udara. “Pengawasan pada tahun ini dilakukan di 383 titik penyekatan. Petugas gabungan di lapangan akan menerapkan aturan ini dengan tegas namun tetap humanis,” tuturnya.

Petugas kepolisian dengan gagahnya bersiaga di sejumlah titik lintas arus mudik. Seolah tak mengenal lelah, mereka berjaga siang dan malam demi menghalau para pemudik yang nekat. Tak jarang tindakan tegas pun mereka lakukan agar masyarakat mematuhi aturan pemerintah.

Mendengar frasa “tegas namun tetap humanis” membuat saya teringat dengan cerita pemudik perempuan yang viral di media sosial baru-baru ini karena menangis ketika disekat oleh petugas kepolisian di kawasan Tangerang, Banten. Pemudik perempuan ini merupakan seorang anak rantau yang hendak mudik ke kampung halamannya di Lampung pada Selasa, 4 Mei 2021.

Namun keberuntungan rupanya belum berpihak padanya, perempuan tersebut tertahan petugas lantaran tak memiliki surat keterangan bebas Covid-19. Petugas polisi pun terpaksa menahannya, karena menurut mereka aturan tetaplah aturan. Pemudik perempuan tersebut pun pasrah meratapi nasibnya yang terancam gagal mudik ke kampung halaman.

Seolah tak ada harapan, air matanya tiba-tiba jatuh saat menceritakan alasan mudiknya kepada petugas. Cucuran air matanya mengalir hingga membasahi pipi dan maskernya yang sedang ia kenakan. Dengan mata yang sembab ia memohon kepada petugas untuk tetap diizinkan mudik meski tanpa dilengkapi surat bebas Covid-19. Pasalnya, ia baru saja kena PHK sehingga tak ada lagi penghasilan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari di Jakarta.

Kisah pemudik yang menangis di hadapan petugas ini pun rupanya ada yang mengabadikan dan merekam momen tersebut dalam bentuk video. Sontak video ini pun menarik perhatian masyarakat luas hingga sempat menduduki peringkat keempat trending di YouTube. Masyarakat menaruh rasa simpati atas apa yang dialami oleh pemudik perempuan ini.

Tak hanya masyarakat, petugas pun merasa iba melihatnya berderai air mata sekaligus terharu atas kisah sedihnya. Akhirnya petugas kepolisian memberikan diskresi kepada perempuan ini untuk melanjutkan perjalanan mudiknya menggunakan sepeda motor. “Yaudah jalan aja, hati-hati ya, jangan nangis,” ujar polisi kepada perempuan berjilbab merah jambu tersebut.

Mungkin itulah implementasi nyata dari sikap tegas tapi humanis dari seorang aparat kepolisian. Meski pekerjaan menuntutnya untuk bersikap tegas, namun rasa perikemanusiaan tetap mendorongnya untuk selalu bersikap humanis sesama manusia. Kendati demikian, bukan berarti masyarakat bebas untuk melakukan mudik. Tetap patuhi aturan pemerintah untuk tidak mudik agar orang tua dan keluarga di kampung halaman tidak terpapar Covid-19.


Digstraksi adalah platform menulis independen, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

Rizqi Rajendra

   

Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Copy link
Powered by Social Snap