Penantian di Batas Senja


Penantian di Batas Senja 1

Jalanan ibu kota yang padat merayap membuat para pengendara mengumpat. Mereka adalah manusia-manusia yang baru saja pulang dari menjemput rezeki. Tubuh yang lelah membuat mereka mudah marah, sehingga tersulut emosi. Namun, ada satu pemandangan yang menarik, dia berbeda dengan kebanyakan orang lainnya. Di saat yang lain mengumpat akan kemacetan wanita itu dengan santai memakan cokelat sambil mengendarai Honda Jazz merahnya. Dia menikmati jalanan yang padat dengan sesuatu yang menyenangkan. Menarik bukan?

Wanita itu bernama Saras Putri Widiyanti. Gadis yang memiliki kulit putih seperti susu dengan gigi kelinci yang membuatnya terlihat manis ketika tersenyum. Saras menikmati kemcetan dengan cokelat di tangannya sambil mendengarkan lagu kesukaannya. Dia sangat menikmatinya, tanpa mempedulikan pengendara motor yang terus menyalip. Wanita berambut panjang itu hanya menggeleng melihat manusia-manusia egois tersebut. Hanya untuk cepat sampai tujuan, mereka rela mengambil hak orang lain, miris.

Saras tersedak cokelat yang dimakannya karena ada pengendara motor yang tiba-tiba muncul. Beruntung rem mobilnya bekerja dengan baik, sehingga tak ada kecelakaan. Jantung Saras berdetak lebih cepat karena terkejut. Dia menatap nyalang pengendara tersebut. Ya, Saras sempat melihat nomor polisi motor tersebut. Saras pun memiliki ingatan yang baik. Jadi, dia hapal nomor polisi tersebut. Dia akan menegurnya di lain kesempatan, jika bisa kembali dipertemukan.

Dia mengatur napasnya dan kembali melanjutkan perjalanan. Mama sudah menelepon dari tadi. Jalanan pun berangsur lancar, sehingga Saras dapat melajukkan kendaraannya dengan kecepatan sedang. Dia selalu diwanti-wanti oleh sang mama agar selalu berhati-hati saat mengendarai dan jangan ngebut. Saras pun mematuhinya. Dia adalah anak yang penurut.

Saras memakirkan kendaraannya dengan baik. kemudian, melangkah masuk ke rumah. Langkahnya terhenti ketika melihat ada mobil dan motor asing terparkir di halaman rumahnya. Dia memerhatikan motor tersebut yang tidak asing di matanya. Saras menjetikkan jari ketika ingatannya kembali.

“Itu kan motor yang tadi,” gumam Saras sambil melihat nomor polisinya.

“Tidak salah lagi.” Saras pun melanjutkan langkahnya memasuki rumah.

Mama sudah menunggu Saras di teras depan. Senyumnya mengembang melihat putri satu-satunya sudah tiba. Mama mendekat ke Saras yang masih saja melihat motor tersebut. Mama merangkul anaknya sambil menuntunya ke dalam.

“Masuk, yuk. Kamu udah ditunggu dari tadi,” ujar mama.

“Siapa?”

“Mama berharap kali ini kamu tidak menolak.” Mama berkata penuh harap sambil mengelus punggung tangan Saras.

Saras mengernyitkan keningnya. Dia berusaha mencerna maksud mama. Matanya membulat sempurna ketika sudah mengerti maksud dari wanita yang telah melahirkannya. Saras tak pernah bermasud mengecewakan sang mama. Dia hanya merasa belum siap dan entah sampai kapan dirinya siap.

“Kalau itu membuat Mama senang, Saras ikut aja.” Saras berkata dengan berat.

“Mama yakin pria ini bisa membahagiakanmu.” Mama tersenyum mendengar jawaban anaknya.

“Aamiin.”

Mama pun menggandeng tangan Saras untuk memasuki rumah. Mama tersenyum kepada tamunya. Saras pun mengangguk sopan dan menyalami sepasang suami istri tersebut dan tersenyum ramah kepada pria yang berada di samping wanita berjilbab yang diyakininya ibu dari si pria di sebelahnya.

“Mari duduk,” ujar mama sambil megaja Saras ikut duduk.

“Terima kasih, Bu Nina,” ucap wanita berjilbab itu.

“Perkenalkan ini putri saya yang pernah saya ceritakan, Saras.” Mama memperkenalkan Saras.

“Saras, Om, Tante.” Saras pun tersenyum ramah.

“Cantik, ya, Pa.”

“Iya, Ma.”

Saras tersipu mendengar pujian tersebut. Dia menunduk malu. 

“Terima kasih, Om, Tante.”

Saras pun akhirnya mengetahui nama pria tersebut, pria yang mebuatnya tersedak cokelat. Pria tersebut bernama Aydin Dayyan. Pria dengan tubuh tegap, rahang yang tegas serta sorot mata yang tajam. 

Wanita berkulit putih itu tersenyum samar ke pria yang hanya menuduk. Kekesalan di hatinya kembali, pria itu hampir membuatnya tak bisa bernapas karena tersedak cokelat. Namun, waktunya tidak tepat untuk menegur pria berahang tegas itu.

Sepanjang acara Saras hanya mengangguk patuh mengikuti pendapat sang mama. Dirinya sadar mama telah banyak berbuat untuk kebahagiannya. Sekaranglah waktu yang tepat untuk membuat mama bahagia meskipun harus menikah dengan pria yang baru dikenalnya.

***

Hari yang dinanti pun tiba, pernikahan Saras dengan Aydin. Pesta sengaja di gelar sederhana berdasarkan permintaan Aydin yang memang tidak menyukai keramaian. Saras hanya mengikuti. Baginya kesakralan pernikahan jauh lebih penting dibanding pesta mewah. Uangnya pun  bisa digunakan untuk keperluan setelah menikah.

Selama menikah dengan Aydin, Saras merasa hampa. Aydin tak pernah sekali pun berusaha dekat dengannya. Pria itu lebih senang dengan urusan pekerjaannya. Pulang selalu larut malam, hari libur pun masih berduaan dengan laptop kesayangan.

Saras pun tak mempermasalahkannya karena dia juga sibuk dengan pekerjaannya sendiri. Namun, semakin berjalannnya waktu Saras mulai merasa jika hubungan pernikahannya harus diperbaiki. 

“Kak aku mau bicara,” ujar Saras di Sabtu sore,

“Bicara aja,” sahut Aydin tanpa mengalihkan fokusnya dari laptop.

“Aku mau bicara serius. Bisa enggak laptopnya di tutup dulu?”

Aydin pun menutup laptopnya lalu menghadap Saras dengan menaikan sebelah alis.

“Kamu merasa enggak, sih selama satu tahun menikah hungan kita hampa?” Saras menatap mata suaminya dengan serius.

“Terus?”

Sungguh bukan itu tanggapan yang diharapkan Saras, tetapi sepertinya Aydin belum memahami maksud pertanyaan wanita yang duduk di depannya.

“Buat apa kita nikah jika tidak bisa saling mengisi?”

Aydin menegakkan tubuhnya. Dia mulai tertarik dengan arah pembicaraan Saras. Beberapa saat dirinya terdiam, memikirkan perkataan Saras. 

“Maaf, aku mengabaikanmu selama ini.” Rasa penyesalan hadir di hati Aydin.

“Aku pun. Bagaimana kalau kita mulai semuanya dari awal?”

“Boleh. Mulai sekarang kita harus belajar saling mencintai.” Aydin ragu ketika mengatakan kata terakhirnya.

Dia tidak yakin bisa mencintai wanita di depannya ketika di hatinya masih tersimpan dengan rapih satu nama yang selalu berhasil menghadirkan getar rindu. Aydin tahu perasaannya itu harus segera dikubur dalam-dalam, tetapi dia belum juga berhasil. Nama itu masih terukir indah di hatinya, meskipun si empunya nama telah lama meninggalkan dunia.

“Aku setuju.” Saras menanggapinya dengan senyum yang merekah. Dia mengulurkan tangannya.

Aydin paham dengan maksud Saras. Dia menyambut uluran tangan itu. Ada getar aneh di hati Saras ketika Aydin menerima uluran tangannya. Setelah acara pernikahannya Saras dan Aydin memang minim sekali kontak fisik, sehingga jabat tangan pun menjadi hal yang jarang dilakukan oleh keduanya.

***

“Kak, ini tehnya.” Saras meletakkan secangkir teh di meja kerja Aydin.

“Makasih,” ucap Aydin tanpa sedikit pun melihat Saras.

Saras menghela napas karena lagi-lagi Aydin lebih senang melihat layar datar di depannya dibandingakan dirinya. Saras berusaha maklum, tetapi sakit di hati tetap terasa.

Dia merasa jika selama ini hanya dirinya yang berusaha menghadirkan cinta di pernikahannya, sedangkan Aydin hanya sebatas menjalankan kewajiban. Saras tak mengerti kenapa mencintai bisa sesakit ini.

Dia keluar dari ruang kerja Aydin sambil menghapus bulir bening yang mengalir dari sudut mata. Saras berusha mengusir segala pikiran buruk tentang Aydin yang juga belum bisa menerima pernikahan ini sepenuhnya.

Untuk mengusir pikira buruknya, Saras memilih itu merapikan pakaian yang masih berserakan di tempat setrika. Dia melipatnya dan memasukkannya ke lemari. Satu lembar foto terjatuh dari tumpukan pakaian Aydin. Saras pun mengambilnya.

Dia terkejut ketika melihat foto itu adalah foto seorang wania cantik dengan senyum memesona dan tatapan mata yang teduh. Saras berusaha mengingat wajah saudara-saudara wanita dari suaminya, tetapi dia merasa wanita di foto itu bukan salah satunya. 

“Siapa wanita ini?” gumam Saras sambil membalik foto tersebut.

Jantung Saras terasa berhenti sejenak dan padangannya mulai mengabur. Dia menggeleng lemah. Saras sangat mengenal tulisan tangan itu. Dia sangat yakin jika itu adalah tulisan tangan suaminya. 

“Aku akan selalu mencintaimu.” Saras membaca tulisan di balik foto itu dengan suara bergetar.

Lututnya lemas, dia pun terduduk di lantai. Semua pertanyaannya selama ini tejawab sudah. Saras tak mengira jika suaminya selama ini mencintai wanita lain. Dia pikir sikap dingin Aydin hanya karena pria itu butuh waktu untu bisa mencintainya.

Aydin yang baru saja meyelesaikan pekerjaannya pun melangkah ke kamar. Dia terkejut melihat kondisi Saras yang jauh dari kata baik. Wanita yang biasanya terliha ceria itu sedang terisak di lantai. 

Aydin menghampirinya dengan tatapan bingung. Pria itu tidak mengerti mengapa Saras menangis. Aydin berusaha menenagkannya dengan mengusap punggung wanita itu, tetapi Saras menjauh.

“Kenapa? Ada yang salah denganku?” tanya Aydin dengan tatapan bingungnya.

“Udah pura-puranya?” Saras berusaha menghapus air matanya. Dia tidak ingin terlihat menyedihkan di depan pria yang sudah berhasil membuatnya jatuh hati.

“Pura-pura apa?” Aydin semakin dibuat bingung.

Saras memberi foto yang dipengannya. Dia merasa perjuangannya selama ini sia-sia. Saras lelah menunggu orang yang mencintai orang lain untuk bisa mencintainya. Dia sudah ada di batas senja yang artinya sebentar lagi malam, gelap. Hatinya tak punya harapan.

Aydin menegang. Dia berusaha menjelaskan kepada Saras, tetapi wnaita itu sudah terlanjur sakit.

“Aku bisa menjelaskan semuanya.” Aydin berusaha meraih tangan Saras.

“Semuanya sudah jelas. Aku lelah. Kamu bisa pergi bersama wanita itu. Memang tidak seharusnya aku menunggumu untuk bisa mencintaiku.” Saras berkata dengan hati yang perih.

“Maaf, aku tahu seribu permintaan maafku tidak bisa mengobati luka di hatimu, tapi izinkan aku menjelaskan semuanya.” Aydin menatap dengan lembut mata yang penuh kabut itu.

“Terlambat. Penantianku telah sampai di batasnya. Kamu tahu malam itu telah sampai? Senja telah berakhir.”

“Tidak, bukankah ketika malam telah usai, matahari pagi akan menyambut?” Aydin berkata dengan sungguh-sungguh. Dia merasa bodoh selama ini karena telah membiarkan wanita secantik dan sebaik Saras harus merasakan luka akibat dirinya.

Aydin pun menceritakan semuanya. Dia pun berjanji untuk belajar mencintai Saras. 

“Aku pegang janjimu.” 

“Terima kasih karena menerimaku kembali. Aku akan menghapus segala kenangan itu dan mulai menorehkan kenangan baru bersamamu.” Aydin memeluk dengan erat tubuh kecil Saras. Dia berjanji akan benar-benar berusaha mencintai wanita yang dinikahinya.


Digstraksi adalah platform menulis independen, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

Permata_S

   

Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Copy link
Powered by Social Snap