Pendaftaran Vaksin Covid-19 dan Lansia Gaptek

Pendaftaran Vaksin Covid-19 dan Lansia Gaptek 1

Pandemi Covid-19 telah menunjukkan trend mereda. Meski begitu kewaspadaan harus tetap dijaga. Mengingat karakter virus yang mudah sekali bermutasi dan hidup di udara bebas. Dalam setahun terakhir, program vaksinasi terus digencarkan meski menuai pro dan kontra. Mulai jenis vaksin, efek sampingnya, dan urgensi vaksin bagi mereka yang ‘setengah’ tidak mempercayai adanya pandemi ini.       

Meski begitu, marilah kita berpikir positif saja. Bahwa vaksin memang proses pembentukan imunitas dalam tubuh dengan cara ‘memasukkan virus’ ke dalam tubuh. Secara logika, efek samping jelas ada namun bukan hal itu tujuannya. Manakala tubuh mampu bertahan dari ‘pertarungan’ dua virus dalam tubuh maka tubuh akan memiliki kekebalan terhadap virus serupa. Kondisilah yang terkadang kurang bisa diterima oleh awam.           

Di sisi lain, proses pemberian vaksin di Indonesia sebagai program nasional juga tak lepas menuai pro kontra. Jika saya mengamati hal tersebut hanya karena sengkarut pelaksanaan sosialisasi di tingkat bawah. Betapa pentingnya sosialisasi, yakni memberi pemahaman secara jelas dan mengerti oleh awam sekalipun. Saya contohkan; proses pendaftaran vaksin saat ini, saya nilai kurang berpihak kepada lansia yang gagap teknologi (gaptek). Aplikasi yang dibuat pemerintah visinya memang bagus, namun kurang disosialisasikan dengan baik. Akibatnya, terlalu banyak yang mengeluh bahwa memperoleh vaksin pasti sangat ribet dan menyita waktu.              

Intinya, jika saya menilai, minimnya pelibatan secara total hingga tingkat bawah (pelosok desa) kurang diperhatikan. Selama ini yang terlibat hingga tingkat bawah hanyalah mereka yang terbungkus baju satgas covid-19. Namun bagaimana dengan tokoh masyarakat, pendidik, tokoh agama, tokoh adat, dan sebagainya? Apakah mereka juga dilibatkan dalam rangka sosialisasi pentingnya vaksin?            

Jelas, jika melihat fenomena hari ini, mereka tidak terlibat secara optimal. Saya contohkan saya (seperti judul tulisan ini), bagaimaba dengan mereka yang lanjut usia dan tentu gaptek? Mereka tentu tidak bisa mengakses laman yang dibuat pemerintah dalam rangka menjaring peserta vaksin. Kerumitan semakin meruncing manakala tidak ada masyarakat sekitar lansia tersebut yang peduli. Jujur saja, kondisi seperti ini banyak terjadi di pelosok tanah air.       

Lantas apa langkah yang harus dilakukan?                 

Mengingat vaksin adalah program nasional maka metode layanan harus menyentuh hingga lapisan masyarakat manapun. Otomatis pelibatan semua lini atau unsur masyarakat harus dilakukan. Caranya? Sosialisasi harus dilakukan secara gencar dan massif. Tidak sekedar mengajak masyarakat untuk datang ke pos pos vaksinasi, tetapi juga pembekalan pengetahuan singkat agar semua warga dapat mengakses laman pendaftaran vaksin yang dibuat pemerintah.

Inilah akar persoalannya. Dimana pembekalan atau sosialisasi secara cukup belum optimal dilakukan. Selama ini, hanya mengajak –secara manual—masyarakat bahwa terkesan memaksa untuk datang ke tempat vaksin. Sementara penyadaran dan kemudahan akses laman tidak dilakukan. Padahal menurut saya, itulah yang paling penting. Patut diingat bahwa di pelosok Tanah Air masih banyak lansia yang gaptek dan membutuhkan pencerahan untuk dapat mengakses laman pendaftaran vaksin.            

Kita harus bantu mereka. Siapapun kita harus terlibat secara aktif.

Digstraksi adalah Media User-Generated, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.