Pendemi; Keniscayaan dan Hikmah Untuk Manusia

Pendemi; Keniscayaan dan Hikmah Untuk Manusia 1

Manusia merupakan makhluk ciptaan Tuhan yang paling sempurna dari makhluk yang lainnya, kesempurnaan manusia tidak terlepas dari tiga unsur darinya yaitu pikiran, perasaan, dan nafsu, ketiga unsur tersebut nantinya akan dijelaskan secara eksplisit oleh penulis. Terlepas dari itu, penulis ingin menyampaikan bahwa sebagai manusia, kususnya umat muslim meyakini bahwa Allah SWT menciptakan manusia dengan tujuan menjadikannya Khalifah, seperti yang dijeaskan dalam Al-Qur’an Surah Al-Baqarah ayat 30: Wa idz qala Rabbuka lilmala’ikati innija;ilunfil ardhi khalifatan (Ingat, ketika Tuhanmu berkata pada malaikat, Aku ingin menciptakan khalifah di bumi), dari beberapa literature yang penulis baca, kata khalifah dalam ayat tersebut merujuk pada seorang pemimpin dan dalam literature lainnya mengartikan khalifah adalah wakil Tuhan atau pengabdi. Sehingga penulis beranggapan bahwa kata khalifah dapat diartikan sebagai pemimpin maupun pengabdi, karena menurut penulis itulah tujuannya Allah SWT menciptakan manusia agar dapat menjalankan fungsinya sebagai pemimpin untuk dirinya dan orang lain di dunia serta menjalankan fungsinya sebagai pengabdi untuk menyebarluaskan ajaran Islam yang termaktub dalam Al-Qur’an.

Sehingga membahas tentang pemimpin maka secara tidak sadar kita sedang membahas sesuatu yang sangat umum dan luas, dikarenakan seluruh umat manusia mempunyai keniscayaan ini, penulis teringat dengan hadits Rasulullah SAW, Kullukum raa’in wakullukum mas uulun’anraiyyatihi (setiap dari kalian adalah pemimpin dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban), ini menandakan bahwa pada dasarnya pemimpin adalah sebuah keniscayaan umat manusia, tentu dalam hal ini adalah menjadi pemimpin untuk dirinya sendiri. Namun dalam menjalani kehidupan, kita harus memahami bahwa kita hidup berdampingan dengan manusia lainnya dan inilah yang dinamakan kehidupan sosial, pemahaman tentang kehidupan sosial ini harus terus ditingkatkan agar kita tidak terjerumus pada paradigma-paradigma individual semata melainkan sosial, sehingga menurut penulis, atas dasar itulah Allah SWT memberikan tiga unsur besar dalam diri manusia yaitu pikiran, perasaan, dan nafsu agar dapat digunakan oleh manusia dalam menjalani kehidupan.

Maka dari itu, dalam menjalani kehidupan di muka bumi yang berdampingan dengan manusia lainnya, tidak lagi berbicara pemimpin secara individu karena hanya untuk dirinya dan hanya diketahui oleh dirinya tetapi sudah berbicara pemimpin secara sosial yaitu yang mampu mengontrol dirinya dalam kehidupan sosialnya, seperti yang dikatakan oleh ahli Miftha Thoha dalam bukunya Perilaku Organisasi (1983:255) bahwa pemimpin adalah seseorang yang memiliki kemampuan untuk mempengaruhi orang lain atau kelompok tanpa mengindahkan bentuk alasannya, begitupun yang disampaikan oleh ahli Kartini Kartono bahwa pemimpin adalah pribadi yang memiliki kecakapan dan kelebihan disatu bidang, sehingga dia mampu mempengaruhi orang lain untuk bersama-sama melakukan sebuah aktifitas untuk pencapaian tujuan. Yang pada intinya bahwa menjadi seorang pemimpin maka harus mampu mempengaruhi orang lain untuk mencapai sebuah tujuan yang telah disepakati ataupun belum disepakati.

Oleh karena itu, dari pemaparan diatas, penulis berpikir bahwa hal terpenting yang harus dimiliki oleh manusia adalah tujuan, alasannya simple, bagaimana diri kita mampu memimpin diri, menggerakan diri, bahkan orang lain, jika kita tidak tahu bahkan tidak memiliki tujuan? Wajar saja jika, setiap hal yang kita lakukan seolah berjalan ditempat, stagnan (tetap), bahkan tidak memiliki makna, alhasil kita menjadi manusia yang malas, menjadi manusia yang lemah, dan menjadi manusia yang tidak siap dengan masa depan. Padahal Tuhan telah bekali diri kita dengan pikiran untuk memikirkan, perasaan untuk merasakan, dan nafsu untuk kemauan. Walaupun menjadi pemimpin merupakan fitrah atau sebuah keniscayaan umat manusia tetapi untuk mengaktifkan hal ini tentu harus adanya proses belajar dan latihan yang harus dilalui, penulis teringat dengan sebuah pepatah yang mengatakan bahwa “hidup adalah pembelajaran” sehingga apapun yang kita lakukan di muka bumi ini adalah proses-proses pembelajaran, entah menyedihkan, menyenangkan, keburukan, maupun kebaikan, semuanya adalah pembelajaran, selalu ada hikmah di setiap apapun yang terjadi dalam kehidupan ini. Dalam hal ini terdapat beberapa hal yang harus dilakukan, pertama adalah menambah/memupuk pengetahuan (entah dengan membaca maupun berdiskusi), karena tanpa hal ini, kita tidak akan mengetahui apapun, bahkan mengetahui bahwa manusia diciptakan menjadi pemimpin adalah hasil dari proses mencaritahu (belajar), singkatnya tidak akan kita mengetahui, jika kita tidak mencaritahu. Kedua adalah menentukan atau menetapkan sebuah tujuan di setiap apapun yang kita lakukan, contohnya ketika hidup, untuk apa kita hidup? Ketika kuliah, untuk apa kita kuliah? Ketika masuk organisasi, untuk apa masuk organisasi? Pertanyaan-pertanyaan tersebut sebagai dasar untuk menentukan tujuan melakukan segala sesuatu. Menurut penulis, dengan melakukan hal ini merupakan sebuah bentuk menghargai, mensyukuri pemberian Tuhan pada kita yaitu akal pikiran untuk digunakan oleh manusia untuk menjalani, mengatur dan mengelola kehidupannya selama berada di dunia (manusia-alam) sesuai dengan ajaran yang telah diberikan.

Hikmah Dibalik Covid-19

Negara indonesia bahkan seluruh dunia sedang berperang melawan sebuah virus yang dapat berujung pada kematian jika tidak di atasi secara serius dan teratur, virus ini merupakan sebuah penyakit saluran pernafasan yang baru di temukan di Wuhan, China pada akhir desember 2019 sehingga dinamakan coronavirus disease 2019 (Covid-19), Kumannya sendiri disebut dengan 2019 novel coronavirus / nama lainnya adalah SARS coronavirus 2. Jadi SARS COv 2 itu merupakan salah satu dari kelompok virus corona, ada banyak virus corona ( ada sekitar 7) yg dapat mengifeksi manusia, dan 3 diantaranya adalah MERS COV, SARS COV dan yang sekarang ini anggota terbarunya SARS-COV2 yang menyebakan penyakit covid-19,(dalam Diskusi Online bersama dr. Arini Retono, dengan tema Bersama Melawan Corona).

Berbagai pola dan cara pun dilakukan untuk meminimalisir penyebaran virus ini, antara lain dengan melakukan social distancing atau pembatasan sosial, yang seringkali disalah tafsirkan menjadi peniadaan sosial, jika diperdalam kembali makna sosial, Lewis menyampaikan bahwa—sosial merupakan sesuatu yang dapat dicapai atau dihasilkan serta juga ditetapkan dalam proses interaksi sehari-hari diantara warga suatu negara dengan pemerintahannya, begitupun menurut Endah M.C—sosial merupakan merupakan suatu cara mengenai bagaimana tiap-tiap individu saling berhubungan satu dengan yang lain.

Dalam hal ini, yang dimaksud dengan social distanding ialah pembatasan aktifitas sosial dalam lingkup tatap muka secara langsung, kontak fisik, dan sejenisnya bukan peniadaan aktifitas sosial. Oleh karena itu, beberapa waktu yang lalu World Healt Organisation (WHO) telah mengeluarkan himbauan untuk merubah frasa sosial distancing menjadi physical distancing atau pembatasan fisik. Seperti yang disampaikan oleh Maria Van Kerkhove, pemimpin teknis untuk respons Covid-19 sekaligus kepala unit penyakit dan zoonosis di WHO, “Saat ini hal yang bisa dilakukan untuk menghindari diri dari virus corona adalah tidak berada di kerumunan atau tempat ramai. Salah satu cara yang bisa dilakukan adalah berada di rumah saja dan mengurangi aktivitas yang tidak perlu di luar rumah. Dengan menjaga jarak fisik dari orang lain, hal ini dapat mencegah penyebaran virus ini dari satu orang ke orang yang lain”

Sehingga perlu ditekankan bahwa yang dibatasi hanyalah kontak fisik atau jaga jarak bukan peniadaan aktifitas sosial dan diganti dengan interaksi melalui media online (Whatsapp, Facebook, Instagram dan sebagainya) untuk sementara waktu, karena pada dasarnya manusia tidak akan bisa hidup tanpa orang lain. Dan hal ini pun sudah di ajarkan dalam Islam dalam sebuah hadits yang artinya “Jika kalian mendengar wabah melanda suatu neger. Maka, jangan kalian memasukinya. Dan jika kalian berada di daerah itu, janganlah kalian keluar untuk lari darinya”(Hadits Riwayat Bukhori dan Muslim).

Kehadiran virus ini dapat dikatakan sebaga teguran agar seluruh umat manusia kembali bercermin tentang kehidupan sebelumnya yang menggambarkan kondisi hidup yang seakan sangat individualis, semua orang hanya mementingkan kehidupannya sendiri, seakan asik tenggelam dalam individualitasnya, dalam kelompok atau golongannya, sehingga menghilangkan unsur kemanusiaannya sebagai makhluk sosial, sebagai makhluk yang tidak bisa hidup tanpa adanya manusia yang lain, Allah SWT telah berfirman

‘’hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal, sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu ialah orang yang paling bertaqwa, sesungguhnya Allah maha mengetahui lagi maha mengenal’’ (Q.S. Al-Hujurat 10-13).

Dari ayat tersebut telah jelas mengatakan bahwa pada dasarnya manusia diciptakan berbeda-beda namun dalam perbedaan tersebut bukan membuat kita saling membenci dan menjauh melainkan menyerukan kepada kita untuk saling mengenal, membantu, mendukung dalam menjalani kehidupan di dunia, sehingga sebanyak apapun harta kekayaan, setinggi apapun jabatan janganlah sombong, gunakan kelebihan tersebut untuk membantu sesama, dalam Al-Qur’an surah an-Nisa ayat 86, Allah SWT menyampaikan ‘’apabila kamu diberi penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan lebih baik dari padanya atau balalslah penghormatan dengan yang serupa, sesungguhnya Allah SWT memperhitungkan segala sesuatu”.

Tidak diragukan lagi bahwa hubungan sosial merupakan salah satu unsur kemanusiaan dan sebagai umat manusia seharusnya kita menyadari bahwa kehidupan ini pada dasarnya mengajarkan kita tentang hidup secara sosial (masyarakat) karena puncak dari kehidupan adalah mencapai kebahagiaan di dunia maupun akhirat secara bersama. Mereka yang hanya memikirkan dirinya sendiri pada dasarnya adalah mereka yang individulis dan memang sifat individual merupakan sifat dasar seorang manusia ketika dilahirkan dan mati, “hadir di dunia dalam keadaan sendiri dan mati pun sendiri”, sendiri dalam artian tidak mengenal, mengetahui siapapun, namun ketika sudah menjalani kehidupan di dunia maka hilanglah kesendiriannya, karena mulai mengenal, mengetahui sekelilingnya bahwa dalam kehidupan ada individu lainnya.

Dapat kita pikirkan jika dalam menjalani kehidupan manusia masih tenggelam dalam kesendiriannya, maka mereka telah kehilangan rasa cintanya, seperti dalam pepatah bahwa “Hanya cinta yang dapat membawa penyelesaian sempurna bagi keberadaan  individual, sebab hanya cinta yang dapat memiliki dan menyatukan mereka dengan apa yang terdapat dalam sanubari mereka yang terdalam.” (Pierre Teilhard de Chardin), begitupun yang disampaikan oleh Pramodya Ananta Toer “dan bukankah satu ciri manusia modern adalah juga kemenangan individu atas lingkungannya dengan prestasi individual? Individu-individu kuat sepatutnya bergabung mengangkat sebangsanya yang lemah, membernya lampu pada yang kegelapan dan member mata pada yang buta.

Penulis kembali berpikir bahwa keberadaan virus ini menjadi tantangan besar negara dan seluruh elemen masyarakat agar tetap tumbuh dan berkembang dengan baik agar tetap produktif. Maka dari itu, sektor pendidikan merupakan salah satu sektor yang sangat penting untuk diperhatikan saat pendemi ini, dikarenakan pertumbuhan dan perkembangan sumber daya manusia tergantung pada pendidikan itu sendiri, seperti yang disampaikan oleh Rohinah M.Noor dalam bukunya pendidikan berbasis sastra (2011) bahwa “pendidikanlah peradaban sebuah masyarakat bisa terbentuk. Bahkan, disebut-sebut sebagai agent of change. Dari institusi pendidikan, diharapkan dapat dibentuk manusia-manusia yang berjiwa luhur, berperikemanusiaan, tidak merampas hak orang lain, jujur, dan mandiri. Pendek kata, institusi pendidikan diharapkan mampu menumbuhkan jiwa-jiwa kebaikan pada setiap manusia”.

Oleh karena itu, saat ini seluruh umat manusia harus kembali merenung dan berpikir tentang bagaimana kehidupan setelah covid-19, setelah berbagai aspek kehidupan yang terganggu dan tidak stabil, bagaimana manusia kembali menggunakan segala kemampuannya (intelektual dan keterampilan) untuk memperbaiki dan menata kembali kondisi hidup yang lebih baik, sektor pendidikan yang kembali menciptakan aktor-aktor kemajuan peradaman, sektor ekonomi yang kembali membaik untuk kesejahteraan, sektor sosial yang kembali menjadi harmonis, saling menghargai, membantu, dan sektor-sektor lainnya.

Digstraksi adalah Media User-Generated, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

Asis Ibrahim