Penerapan Kaidah Pertama Fiqhiyyah dalam Menjawab Permasalahan Kehidupan


Penerapan Kaidah Pertama Fiqhiyyah dalam Menjawab Permasalahan Kehidupan

Dalam kehidupan sehari-hari, akan selalu ada kejadian atau hal-hal yang bersifat baru di kehidupan kita, dan tidak semua dari kejadian tersebut ada diatur dalam Al-Qur’an maupun As-Sunnah. Bagi seorang , Al-Qur’an merupakan sumber dari segala sumber hukum . Didalamnya mengatur perintah, larangan, maupun petunjuk bagi kita.

Permasalahan yang semakin konkrit menjadikan kaidah sebagai dalil hukum untuk menjawab problematika kehidupan di masyarakat. Semua masalah-masalah fiqh tercakup didalam kaidah yang bisa kita tinjau kembali dalam 5 kaidah dasar atau biasa kita sebut kaidah kulliyah untuk dijadikan sumber hukum yang akan datang.

Dari 5 kaidah tersebut, penulis akan membahas secara detail mengenai kaidah pertama .

الاموربمقاصدها

“Setiap perkara dilihat dari maksud dan niatnya”. Kaidah ini bersumber dari salah satu hadis yang mengatakan bahwa segala perbuatan tergantung pada niatnya, dan sudah disepakati oleh para pakar hukum . Fungsi utama niat merupakan hal yang sangat penting dalam kajian , karena dapat diimplementasikan baik pada saat beribadah maupun bermuamalah.

Niat merupakan pondasi penting sebelum melakukan sesuatu. Dengan niat itulah, seseorang bisa mendapatkan pahala kebaikan atau justru diganjar dosa. Misal, seseorang akan mendapatkan pahala dengan mengucapkan niat, meskipun dia belum melaksanakannya. Namun sebaliknya, seseorang akan dosa jika ia beribadah dengan maksud untuk mendapatkan perhatian orang.

Beberapa contoh penerapan kaidah pertama yang membahas tentang niat ini antara lain mencakup permasalahan dalam kehidupan manusia. Ketika seseorang memberikan uang kepada orang lain dan ia mengatakan bahwa itu untuk sedekah, tetapi didalam hatinya ia berniat untuk menunaikan kewajiban zakatnya. Maka hukumnya orang tersebut telah mengeluarkan uang untuk membayar zakat.

Selanjutnya, adalah mandi yang kita lakukan bisa karena hanya untuk membersihkan badan atau untuk menghilangkan hadas besar, semua itu tergantung pada niatnya.

Contoh dalam muamlah, ketika seseorang menghibahkan barang ke orang lain tetapi ia meminta uang, maka hal tersebut bukanlah hibah melainkan akad jual beli. Karena hibah adalah memindah tangan kepemilikan barang secara sukarela.

Sedangkan contoh penerapan kaidah al-umuru bi maqasidiha dalam hukum positif di Indonesia, adalah tentang kasus pembunuhan. Dalam menyelesaikan perkara tersebut, seorang hakim harus melihat motif dan niat pelaku sebelum menjatuhkan hukuman pidana. Apakah niat orang itu membunuh karena dendam, atau kecelakaan.

Dalam Jinayah, sanksi yang diberikan dalam kasus pembunuhan tersebut dibagi menjadi dua, yaitu sanksi hukum asli dan sanksi hukum pengganti. Sanksi hukum asli, pelaku tersebut akan dikenakan qisas, yaitu hukuman yang setimpal dengan perbuatannya, maka dikenakan hukuman mati. Sedangkan hukuman pengganti, apabila pelaku mendapatkan permintaan maaf dari keluarga korban. Maka hukuman nya adalah membayar denda atau kurungan penjara saja.

Nah, itulah pembahasan dari penulis mengenai Kaidah pertama الاموربمقاصدها ( al-umuru bi maqasidiha) yang bermaksud pada setiap perbuatan yang kita lakukan tergantung pada niat didalam diri kita masing-masing

Baca Juga

Exit mobile version