Pengab Di Kos An: Hiking


Pengab Di Kos An: Hiking 1

Ps: maafkan saya malas membuat nama karakter, jadi saya memakai nama dari karakter series favorit saya.


“Daichi, Asahi, kalian merasa tidak, kalau ada yang aneh dengan Kiyoko semenjak kita pulang dari hiking minggu lalu?” Tanya Koushi pada kedua sahabatnya.

Daichi dan Asahi saling menatap satu sama lain, tidak begitu mengerti apa yang dimaksud oleh Koushi. Daichi memutuskan untuk menjawab, “Dia terlihat seperti biasa menurutku…” katanya.

Koushi menghela nafas mendengar jawaban itu. “Aku tau dia memang tipe perempuan yang tidak banyak bicara, tapi—maksudku—kalian bisa—”

Selagi Koushi berbicara, Kiyoko muncul. Bagai muncul begitu saja. Langkah kakinya begitu sunyi, seakan ia melayang. Koushi, Daichi dan Asahi melihat gadis itu melewati mereka begitu saja, bahkan tanpa menyapa sama sekali. Koushi menatapnya lekat-lekat, mencoba mencari informasi apapun yang bisa memperkuat pernyataannya barusan pada kedua sahabatnya.

Tatapan gadis itu begitu kosong, tidak fokus. Namun ia tetap melangkah dengan malas menuju kamarnya di ujung lorong.  Tepat ketika Kiyoko membuka pintu kamarnya, Koushi menyadari bahwa gadis itu membawa pisau. Terkejut, ia bangkit seketika dari kursinya.

Daichi memegang lengannya, “Kenapa? Bikin kaget aja..”

“Di-dia bawa pi-pi-pi-sau…” lapor Koushi terbata.

Daichi dan Asahi sekali lagi melirik satu sama lain. Tidak mengerti kenapa hal itu membuat Koushi terkejut seperti ini. “Dia sering membawa pisau ke kamarnya, kan?” gumam Asahi, lalu menatap Daichi dan Koushi bergantian.

Koushi melepaskan tangan Daichi dengan sedikit emosi. “Dengar… Kiyoko sudah 3 hari tidak menyapa kita, dan itu sangat aneh. Kedua, kalian lihat bagaimana dia terlihat seperti orang mati barusan? Ketiga—“ Koushi berhenti berbicara sebentar. “Aku dengar beberapa kali dia berkata, mungkin lebih tepat disebut berteriak, ‘pergi kau dari sini’…” katanya pelan.

“Lalu?”

“Ketika aku mengeceknya, dia bilang dia baik-baik saja. Setelah dua hari berturut-turut aku mengeceknya, hari ketiga dia sudah tidak lagi bicara denganku.”

“Mungkin dia menganggapmu terlalu mengganggu…” ujar Daichi dengan sedikit tidak perduli.

“Jika benar begitu… Kenapa kalian juga ia abaikan?”

Hening.

Mereka baru menyadari hal tersebut. Meskipun pendiam, Kiyoko adalah gadis yang sopan sehingga ia menyapa semua orang yang ia temui. Benar. Beberapa hari belakangan ini Kiyoko tidak menyapa mereka—

“Aaaaahhh!!!” Suara teriakkan Kiyoko melengking terdengar.

Tanpa pikir panjang, Daichi, Asahi dan Koushi berlari menuju ujung lorong, di mana kamar Kiyoko berada. Asahi mendobrak pintunya langsung hingga terbuka, dan mereka menemukan Kiyoko berteriak histeris dengan tangan berlumuran darah.

“Kiyoko!” teriak mereka hampir bersamaan.

Koushi mendorong Asahi yang terdiam di depan pintu. Kiyoko jatuh pingsan di atas lantai. Daichi mencoba menyatukan pikirannya, mencoba berpikir tentang apa yang harus dilakukan daripada berdiam diri.

“Daichi! Asahi!” teriaknya untuk menyadarkan mereka berdua. “Seluruh kulit tangannya tersayat! Asahi tolong carikan perban! Daichi, panggil ambulans! Atau taksi! Cepat!!” perintahnya.

Koushi mengangkat Kiyoko ke kasur. Sesungguhnya ia sangat panik! Tangannya bergetar dengan hebat ketika ia mencoba membersihkan darah Kiyoko dengan pakaiannya.

Hawa yang seketika menjadi dingin membuatnya terdiam kaku di tempat. Pintu terbanting dengan sendirinya membuat ia terlonjak karena terkejut. Ditambah suara tawa seorang wanita—

Namun hanya ada dia dan Kiyoko yang masih pingsan di dalam kamar itu.           


To be continue~


Digstraksi adalah platform menulis independen, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

Lauren

   

Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Copy link
Powered by Social Snap