Pengab Di Kos An: Kesurupan


Pengab Di Kos An: Kesurupan 1

Asahi tersadar di ruangan yang gelap tanpa cahaya sama sekali. Tangannya mencoba meraba- menyentuh apapun yang ada di sekitarnya. Ia melangkah sambil berkata, “Halo? Halo? Dimana ini ya?” Katanya gugup. Ia bisa rasakan keringat mengalir di pelipisnya. Mengingat kembali yang ia lakukan sebelum tersadar disini adalah melongok ke kolong tempat tidurnya. Apa dia di culik hantu perempuan itu?

“Haloo?” Suaranya mengecil karena takut. Kegelapan ini sungguh menyiksa! Ia tidak tau bagaimana ia akan di hantui. Ia tidak tau bagaimana hantu itu akan muncul. Membayangkan suara bisikkan ‘its a horror story’ membuatnya makin takut, apalagi kalau sampai sesuatu menyentuhnya!

“Kalian tinggal menjualnya, kan? Kami butuh tempat ini.” Sebuah suara terdengar cukup lantang. Suara seorang ibu yang terdengar familiar. Sambil menahan takut Asahi mendekati asal suara.

“Jual saja, ya? Jual! Jual! JUAL!!” Ibu itu berteriak jual berkali kali dengan emosi. Suaranya makin keras, di ujung Asahi melihat cahaya samar, hingga ia mempercepat langkah kakinya menuju cahaya itu.

Ia lihat seorang wanita paruh baya sedang me– Asahi mundur karena takut ketahuan. Ibu itu tertawa histeris setelah lawan bicaranya tergolek bersimbah darah di lantai. Ia merasa mengenal wanita itu… Tapi, siapa?

Pria lain datang, seluruh pakaiannya berubah merah karena darah. Senyum puas menghiasi wajahnya. Senyum puas dan jahat. Mereka berdua tertawa histeris, tawanya terdengar menakutkan seperti tawa psikopat di film thriller. Setelah puas tertawa, mereka menyeret mayat– beberapa mayat dan di buang di sumur yang tampak tua di belakang rumah mereka. Sumur itu langsung di tutup dengan tanah dan semen.

Asahi menahan nafasnya. Apa ini? Bagaimana bisa ia ada di lokasi mengerikan seperti ini? Bagaimana kalau mereka melihat dirinya? Dia akan jadi korban selanjutnya, kan? Dengan panik Asahi berlari ke arah berlawanan, mencoba keluar dari rumah itu. Ketika ia sampai di depan pintu, seseorang mendorong pintunya terbuka dari luar. Gadis itu masuk ke dalam rumah sambil berkata, “Aku pulang!” Dan masuk ke dalam rumah, mengabaikannya.

Asahi merasa– aneh. Dia di abaikan? Kenapa?

Gadis itu menuju dapur, membuka kulkas. Saat itu pula tengkuknya di pukul keras dengan bagian belakang cangkul, ia terjatuh di lantai.

Seketika itu juga Asahi sadar kalau ini mungkin cerita horor yang di maksud hantu itu…

Gadis itu di kubur di pekarangan rumah dengan asal-asalan. Setelah selesai mengubur, si bapak berteriak histeris, “Aku membunuh orang! Aku membunuh orang!”

Bapak itu kemudian mencekik si ibu. “Ini semua salahmu! Ini salahmu, wanita sialan!”

Asahi terdiam di tempat. Apa–? Kenapa dengan pria itu? Tiba-tiba berubah pikiran…

“Mereka dirasuki.” Sebuah suara lembut seakan menjawab pertanyaannya. Ia menoleh dan mendapati gadis yang baru saja di kubur di sampingnya. Ia mundur beberapa langkah.

Ruangan itu mendadak gelap, Asahi merasa kalau dirinya di tarik paksa oleh entah siapa.

“Ibu itu masih kerasukan.”

*

Suara histeris tawanya sama persis seperti yang ia dengar di dalam mimpinya tadi. Asahi mundur selangkah karena takut tiba-tiba di serang. Jika mengingat film dan series horor, orang yang kesurupan selalu punya kekuatan luar biasa. Bagaimana ia akan melawan? Apa hantu perempuan tadi akan membantunya?

“Apa kau akan menggunakan ini untuk mengancamku?” suaranya begitu rendah, terkesan ingin mendominasi. Ibu itu bangkit dari sofa nya yang nyaman. “Hantu anak sialan itu pasti yang memberi taumu, ya bukan?” dia tertawa lagi.

Asahi menelan ludahnya dengan susah payah. Jangan takut! Jangan takut!

“Cih! Padahal sengaja ku kurung dia di kamar sempit itu!” Ibu kosan menatapnya. “Lalu, apa yang ingin kau lakukan dengan menunjukkan tengkorak itu padaku?”

“Kenapa kau membunuh mereka?” tanyanya.

Ibu Kos tertawa lagi. Tawanya begitu keras hingga mengundang beberapa penghuni kamar lain datang untuk melihat. Mereka saling berbisik, menanyakan tentang apa yang sedang terjadi. Asahi ragu kalau ibu kos tidak akan menyerang meskipun banyak orang disini. Ia mundur selangkah lagi.

“Kenapa katamu? Aku hanya ingin membeli rumah ini namun mereka menolak!” teriaknya. “Mereka terus menolak, menolak lagi, menolak lagi, menolak lagi! Jadi lebih baik kubunuh untuk mempermudah proses pembelian rumah.”

Penghuni kosan lain terkejut bukan main mendengar berita ini. Beberapa dari mereka pergi entah kemana, dan beberapa lainnya tinggal untuk melihat kelanjutan. Keringat mulai mengucur di seluruh tubuh Asahi. Kenapa lama sekali?

“Bagaimana menurutmu, hah? Setelah kau tau cerita ini, kau tidak berpikir aku akan membiarkanmu begitu saja, kan?” Ibu kosan melompati meja di depannya. Asahi yang terkejut tidak sempat merespon maupun menghindar. Ibu kos mencekik lehernya.

Panik, penghuni lain mencoba membantu untuk melepaskan Asahi dari genggaman ibu kos. Asahi memegangi tangan ibu kos, berharap bisa melepaskannya. Sementara orang-orang yang berusaha membantunya satu-persatu tergeletak di lantai setelah ibu kos memukul mereka.

“Jangan menghalangiku, nak!” ancamnya sambil  menambah tenaga pada tangannya. Asahi meringis. “Akhirnya aku mendapatkan lahan ini. Aku akan menikmati keberhasilanku hingga aku puas.”

Asahi berharap dia bisa menggunakan bacot no jutsu pada hantu yang merasuki ibu kos agar dia sadar bahwa caranya untuk mendapatkan rumah ini sangat salah. Tapi apa daya, ia bahkan sulit bernafas, apalagi bicara! Sial, sial, sial, aku akan mati sebentar lagi! Refleks, Asahi menendang ibu kos dengan segenap kekuatannya namun tidak ada hasil.

Kehabisan tenaga, kehabisan nafas. Hal terakhir yang ia lihat adalah seringaian jahat ibu kos. Ah sial! Harusnya aku tidak ikut campur dengan urusan hantu-hantu ini.


Digstraksi adalah platform menulis independen, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

Lauren

   

Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Copy link
Powered by Social Snap