Pengab Di Kos An: Lantai Semen


Pengab Di Kos An: Lantai Semen 1

Setelah tertipu oleh temannya sendiri –yah dia menganggapnya teman, tapi sepertinya orang itu tidak–, Asahi terpaksa pindah kosan ke tempat termurah yang bisa ia dapat. Dan untungnya, ibu kos mengijinkan bayar belakangan.

Kamarnya sangat kecil. Ukurannya hanya 1.5 × 2 meter. Hanya cukup untuk satu kasur dan satu lemari, itu pun bagian bawah lemari tidak bisa di buka. Tidak ada ruang yang cukup untuk meletakkan meja. Terlalu sempit dan pengap. Apalagi lantai kamar ini hanya disemen, bukan lantai keramik seperti ruangan lainnya. Bahkan kamar mandi pun berlantai keramik.

Yah, ada harga ada rupa. Bagaimana dia bisa protes? Masih untung ibu kos mengijinkannya tinggal disini dan membayar belakangan. Barang bawaannya berserakan di lantai semen yang lembab. Ia melepas jaket dan sepatu, lalu berbaring diatas kasur kecil yang agak berdebu.

Ia perlu tidur sebelum mulai mencari pekerjaan.

**

Ia terbangun pukul 3 sore. Lalu keluar untuk mencari sesuatu untuk dimakan. Helaan nafas terkejut menyambutnya ketika ia menutup pintu.

“Baru, ya?” Tanya seorang perempuan dengan kikuk padanya.

“Iya. Baru sampe tadi jam 12an. Salam kenal, ya!” Katanya, mencoba untuk berlalu dengan cepat.

“Bentar, mas… ” kata perempuan itu. Terpaksa ia berbalik.

“Maaf nih, mas. Cuma mau kasih tau… ” dia terlihat ragu. Perempuan itu membimbingnya menuju pagar kosan sebelum berbisik, “Biasanya yang tinggal di kamar itu langsung pindah setelah semalem. Katanya ada hantunya.”

Ia mengangkat sebelah alisnya mendengar berita itu. Tidak begitu percaya karena suasana kamar itu tidak~~ tidak juga. Kalau diingat dengar benar, suasana kamar itu memang agak angker. Maksudnya, sempit, lembab dan gelap, sebuah tempat yang cocok untuk hantu tinggal, kan?

Ia tersenyum pada perempuan itu. “Terima kasih sudah memberi tau. Kalau ada apa-apa, saya boleh nginep dikamar mbaknya?” Tanyanya langsung.

Perempuan itu segera pergi menjauh. Baguslah. Saat ini ia memang tidak ingin berteman dengan siapapun.

Setelah kenyang, ia kembali ke kamar kecilnya. Hampir tidak ada lantai yang bisa diinjak di kamarnya. Ia hanya bisa duduk di kasurnya. Membuka laptop untuk memulai mencari informasi lowongan pekerjaan.

Ketika ia sadar, waktu sudah berlalu begitu lama. Jam menunjukkan pukul setengah 9 malam. Sekali lagi ia keluar untuk membeli makan dan kembali ke kamar sekitar jam 10 malam.

Saat itu, ia bisa merasakan hawa mencekam di kamarnya. Namun ia mengabaikan semua itu dan berbaring di kasur untuk tidur.

**

It’s a horror story…

Bisikkan itu membuatnya bangun seketika. Apa? Siapa yang berbisik padanya barusan?

Ia bangkit dan menekan saklar untuk menyalakan lampu. Hanya dirinya seorang di dalam kamar. Kamar ini terlalu kecil untuk siapapun bisa sembunyi darinya. Ia melirik pintu, kunci masih berada di tempat seperti sebelumnya.

It’s a horror story katanya…?

Mengingat bisikkan itu membuat bulu roma nya berdiri. Horor bukan genre yang disukai banyak orang, termasuk dirinya. Ia jadi teringat ucapan tetangganya tadi sore, bahwa biasanya orang lain keluar dari sini setelah satu malam. Apa ini sebabnya? Bisikkan cerita horor?

Ia mematikan kembali lampu kamarnya. Baiklah. Apa yang akan terjadi setelah ini?

Dalam waktu singkat suhu kamarnya terasa turun sangat banyak! Bahkan menembus selimutnya yang cukup tebal.

It’s a horror story…

Bisikkan itu terdengar lagi.

It’s a horror story…

Lagi…

It’s a horror story…

Dan lagi………

Setiap kali bisikkan itu terdengar, suaranya berpindah. Menambah kesan horor di ruangan sempit ini. Biasanya hantu lebih senang main kejar-kejaran di tempat yang luas bagai labirin, kan? Kenapa hantu ini muncul di ruangan sempit begini? Tidak akan ada adegan kejar-kejaran. Tidak akan ada adegan sembunyi-sembunyi.

Setelah beberapa waktu ia sadar bahwa bisikkan itu memiliki pola perpindahan yang tetap. Ia akan muncul dalam 10 detik di lemari.

Pada hitungan ke 10 ia bangkit dan membuka lemari, mendapati seorang– bukan. Bukan orang. Sesosok… perempuan? Wajahnya tertutup oleh rambutnya.

“Horor story apa?” Tanyanya langsung mencoba tidak gemetar karena bagaimanapun ia juga takut.

Sosok perempuan itu keluar dari lemari, membuatnya mundur karena terkejut dan takut. Perempuan itu masuk ke kolong tempat tidurnya. Asahi merinding bukan main. Sial sial sial sial! teriaknya dalam hati. Ia menelan ludahnya susah payah, berusaha sebisa mungkin untuk tidak merasa takut. Berusaha keras memutuskan antara membiarkan hantu itu atau melihat ke kolong tempat tidur. Otaknya memproses berbagai macam kemungkinan yang akan terjadi jika ia melihat ke bawah sana. Apa yang akan terjadi padanya? 

Ia menelan ludah sekali lagi sebelum melihat ke kolong tempat tidur. Hanya kegelapan yang ada disana.

**

Penghuni baru kosan meletakkan sebuah kain entah berisi apa di hadapannya. Dia meletakkannya dengan hati-hati hingga ia berpikir bahwa ini adalah sesuatu yang bisa digunakan untuk membayar uang kos nya.

“Aku menemukan ini di kolong tempat tidur ku.” ujar pria itu sambil membuka kain yang dibawanya. Ia terkejut bukan main melihat isi dari kain itu.

Tumpukkan tulang manusia yang kotor karena terkena tanah.


Digstraksi adalah platform menulis independen, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

Lauren

   

Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Copy link
Powered by Social Snap