Pengab Di Kos An: Penghuni Kosan


Pengab Di Kos An: Penghuni Kosan 1

Aku terbangun dari mimpi, sesuatu yang mengerikan dan begitu nyata, ini bukan pertama kalinya tapi dari semua mimpi buruk yang aku alami ini yang paling mengerikan. Sosok yang tidak aku kenal berambut panjang menjuntai berdiri didepan pintu kamar ku, dia menghadapku tapi aku tidak bisa melihat wajahnya karena rambut panjangnya menghalangi. Aku terduduk di ranjangku, aku ingin mengambil air karena haus, tapi sosok itu menahan pergerakan ku dengan berkata,

“Jadi kau yang membunuh anak ku?”

Karena masih setengah mengantuk aku tidak menjawab pertanyaan yang itu, aku mengusap mataku, merasa mataku agak buram saat melihat wajahnya. Tapi pada akhirnya aku berkata,

“Ya.”

Entah kenapa aku menjawab begitu, jujur saja aku anak yang penakut, melihat kecoa saja suaraku akan terdengar nyaring, apalagi membunuh seseorang.

“Jadi kalian yang membuat kepala Anak ku menghilang?”

Katanya, aku merasa sudah cukup sadar untuk menjawab pertanyaan itu, menatap sosok seram yang berdiri tidak jauh dari ranjang ku, alis ku mengerut dalam, tidak memahami maksud dari pertanyaannya. Entah bagaimana sosok itu memperlihatkan sebuah aplikasi dengan gambar seseorang tanpa kepala, aku semakin tidak mengerti. Dia berdiri di ujung ranjang ku dan aku baru menyadari jika ada sosok lain yang berdiri di sudut kamarku, seorang bocah tanpa kepala dengan pakaian kotor dan sebuah boneka kelinci lusuh di pelukannya, dia seakan menatapku.

‘Ini bukan mimpi yang bagus.’ Aku bergumam pelan lalu menarik kembali selimutku untuk tidur.

Sesaat sebelum aku memejamkan mata, sosok lain dengan aroma khas menindih dan mencekik ku, aku seperti berada di pemakanan tidak terawat karena disana banyak makhluk menyeramkan memandangku. Tapi aku tau, aku masih berada di kamarku. Tangan berbau amis itu mencekik leherku dan sosok lain duduk disisi ranjangku dengan mata merah menyala juga senyum tipis yang menyeramkan.

Dia pemimpin dari semua makhluk itu. Mata ku terpejam, sangat erat dengan tangan yang mencoba melonggarkan jemarinya yang semakin kuat.

Ini hanya mimpi.’  Aku menyakini hal itu, tapi tangan dinginnya begitu terasa di kulit ku, dia mencekik ku dengan begitu kuat. Ini mimpi tapi aku mulai kehabisan napas. Yang terlintas di kepala ku nama Nenek yang satu tahun terakhir menjadi teman favorite ku, sayangnya dunia kita berbeda.

Bau karat dan amis hilang dari indera penciuman ku, tangan dingin yang mencekik ku tidak lagi dan napas ku kembali normal. Tapi sosok menyeramkan yang duduk di sisi ranjang ku  masih menatap ku, senyum menyeramkan itu berganti dengan wajah garang dan suara geraman tajam yang mengancam. Anehnya dia tidak melakukan apapun padaku, hanya menatapku dengan sepasang mata merah menyala, bersarat penuh dendam. Mimpi ini berakhir begitu aku membuka mataku, keringat mengalir deras padahal kipas berada tepat diatas kepala ku, jam masih menunjukan pukul setengah tiga pagi dan aku terjaga hingga matahari bergerak tinggi.

Pukul setengah empat sore, aku keluar dari kamarku untuk sekedar mencari udara segar, dan pikiranku kembali melayang mengingat kejadian semalam. Yang menjadi kebetulan, aku memiliki tetangga indigo, dia memiliki beberapa teman ghaib, anak perempuan Belanda yang katanya di bunuh. Karena rasa penasaran ku tentang mimpi semalam, aku menceritakan sedetail mungkin padanya. Aku mengakhiri cerita ku dengan helaan napas panjang dan menunggu respon yang dia berikan.

“Hmm.” dia bergumam panjang dan menatap mataku dalam. “Kalau aku boleh jujur ya, Kak, sebenernya tuh di samping kamar mu, posisinya di lorong kosong itu tuh.” Dia menunjuk lorong samping kamar ku yang di jadikan gudang oleh beberapa orang, aku mengikuti arah jarinya.

“Kamu tau kan, dulu sini itu rawa-rawa, waktu jaman dulu tuh perumahan ini di jadiin tempat pembuangan mayat, Ibu-ibu yang kamu maksud itu lagi nyari anaknya, sehari setelah anak itu di penggal dia mati karena di bunuh, dia juga lagi mencari siapa yang bunuh mereka, tapi sampe sekarang belum menemukan apa-apa.”

“Tapi aku liat sosok anak yang gak ada kepalanya itu, dia meluk boneka kelinci yang kotor gitu.” Kataku meyakinkan, aku benar-benar melihat sosok itu, jika benar kejadiannya begitu kenapa aku?

“Sumpah dia itu sendirian, aku gak liat anak kecil yang kamu maksud.”

Dia kembali menatapku dan begitu sebaliknya, untuk waktu yang cukup lama kami terdiam. Aku merasakan keringat mengalir di punggung ku.

“Banyak kak makhluk yang seperti itu, mereka mau hidup lagi, diantara mereka ada yang sangat kuat, jadi semalam itu bisa di bilang kamu beruntung.” Dia kembali membuka suaranya, membuat jantungku semakin berdetak tidak karuan karena rasa takut.

“Di sini ada banyak penghuninya, kamar aku juga ada, apalagi di TK depan itu.” Aku masih diam, tidak tau harus memberi respon seperti apa, karena jujur saja semakin dia membahas masalah ini semakin nyali ku ciut untuk tidur sendiri. “Di kamar kamu tuh ada tiga penghuni lain…”

“Oke, udah aku gak mau denger.” Aku memotong dan dia diam, kami mengakhiri pembicaraan dan kembali ke kamar masing-masing.

Lewat dari jam tujuh malam, aku mulai merasa gelisah, mencoba tidur lebih awal gagal karena kebiasaan tidur malam. Semakin malam larut dan orang rumah jatuh terlelap kedalam mimpi mereka masing-masing, semakin aku merasakan sosok bermata merah itu mengawasi, dia duduk di sudut ruang kamar ku.

Satu hal yang baru aku sadari, dia tidak bisa berdiri.


Digstraksi adalah platform menulis independen, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

Lauren

   

Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Copy link
Powered by Social Snap