Pengabdi Setan II, Menelusuri Parenting Sosok ‘Ibu’ Problematik Di Dimensi Nyata

Pengabdi Setan II, Menelusuri Parenting Sosok ‘Ibu’ Problematik Di Dimensi Nyata

Pencinta horor di Indonesia kini sedang dimabuk nuansa mencengkam dari sekuel Pengabdi Setan.

Jangankan menonton, membayangkan filmnya saja sudah melekat memori teror sosok ‘ibu’ yang auranya tak biasa.

Kesan tokoh ibu yang mencekam, berhasil menyita perhatian para penonton.

Problematika film ini pun tersedot sepenuhnya dalam pusaran sosok penuh tanda tanya misterius, ‘ibu’.

Di kalangan netizen saat ini, ungkapan problematik tak jarang disebut. Misalnya, bagi seseorang yang sekiranya nakal sampai ke tulang-tulang alias sulit sekali berprilaku budiman akan dicap sebagai problematik.

Namun, ungkapan ini menjadi berbeda setelah menjelajah kisah seru dari film Pengabdi Setan, pertama maupun kedua, sama saja menariknya.

Tak sedikit yang mengungkapkan bahwa kambing hitam di film ini adalah tokoh ibu yang problematik semasa hidupnya.

Keluarga menjadi korban, khususnya para anak yang mengalami kesulitan setelah sang ibu wafat.

Sungguh film yang penuh lika-liku, tanda tanya, hingga geleng-geleng.

Baca juga  Film Pengabdi Setan 2 Akan Tayang & Bikin Bulu Kuduk Merinding, Simak Ulasanya Berikut Ini
Teror 'Ibu' di Film Pengabdi SetanSumber: Ilustrasi Pribadi 
Teror ‘Ibu’ di Film Pengabdi SetanSumber: Ilustrasi Pribadi 

Beralih ke dimensi nyata, orang tua problematik keberadaannya nyata pula.

Jangan hanya membayangkan problematik yang dimaksud sebatas lingkup penggunaan ilmu-ilmu mistis seperti sosok ibu di film Pengabdi Setan ya!.


Istilah dalam ilmu psikologi bagi orang tua problematik disebut ‘Toxic Parents’.

Toxic parents merupakan kecenderungan perilaku buruk orang tua terhadap pengasuhan anak.

Perilaku atau sifat buruk ini bisa muncul dengan atau tanpa disadari oleh orang tua.

Setidaknya, sebagian memori ‘demi kebaikan’ anak tentu dapat ditemukan dalam benak setiap orang tua.

Toxic ParentsSumber: Ilustrasi Pribadi
Toxic ParentsSumber: Ilustrasi Pribadi

Takaran yang ‘pas’ dalam menjadi dan menjadikan yang terbaik, tidak selalu mudah untuk ditentukan.

Orang tua memiliki karakter dan nalurinya tersendiri, begitu pula dengan anak yang karakteristiknya tidak selalu sinkron dengan haluan orang tua.

Percaya deh, pastinya kejadian cekcok banyak terjadi antara orang tua dan anak.

Kalau sudah kejadian seperti ini, rasanya teror ibu di Pengabdi Setan, kalah menegangkan!.

Baca juga  3 Film Horor Indonesia Yang Akan Membuat Dag Dig Dug

Meskipun demikian,  terdapat rambu-rambu dalam zona parenting bagi orang tua untuk dapat merefleksikan diri sebagai orang tua yang tepat bagi sang anak.

Red flag yang terpampang, namun seringkali terlupakan yaitu seputar konsep ekspektasi. Berawal dari ekspektasi, tidak ada salahnya.

Tentu siapapun boleh bermimpi, termasuk orang tua terhadap anaknya.

Ekspektasi yang setinggi Tembok Besar China banyak pula yang tidak diiringi kontrol yang sesuai dengan minat atau kemampuan anak.

Saat ekspektasi tidak berwujud realita maka berujung malapetaka. Orang tua kecewa, anak terbebani dan tertekan.

Padahal, seumpama saja dapat bernegosiasi; Entah terdapat berapa banyak ruang positif yang terbangun bersama anak dari setiap ekspektasi yang dikontrol dengan tepat.

Hidup Penuh Ekspektasi MakhlukSumber: Ilustrasi Pribadi
Hidup Penuh Ekspektasi MakhlukSumber: Ilustrasi Pribadi

Selain ekspektasi berlebihan, rambu-rambu lain yang dapat dicermati yaitu peran menggebu sebagai kompor bagi anak. Kompor yang positif tentunya ada, seperti berapi-api membakar semangat hidup anak meraih cita-citanya.

Baca juga  5 Film Horor Yang Akan Tayang di Bioskop Indonesia Pada Bulan Oktober 2019

Kompor jenis red flag yang laris manis dapat pula ditemukan, misalnya eksekutor keburukan anak.

Tiada hari tanpa mengorek dan mengumbar keburukan anak, baik secara personal maupun membandingkannya dengan anak lain.

Fitur tambahan yang karakteristiknya serupa, seringkali tidak lepas dari menyudutkan dan menyalahkan.

Setiap konotasi seperti ini muncul, di benak anak pun kemudian mempertanyakan,

‘Kalau gitu kenapa enggak dia aja yang dijadikan anak?’,

atau muncul pernyataan yang sensitif bagi di antara anak dengan orang tua,

‘Aku enggak minta dilahirin di dunia’


Hubungan antar sesama makhluk hidup memang penuh lika-liku, bahkan terkadang melebihi efek CGI di sinetron.

Walaupun terikat darah, orang tua dan anak. Merefleksikan dan menilai sudut pandang maupun pola perilaku ‘toxic’ atau tidak, terdapat banyak dan ragam indikatornya.

Tidak semua dapat disangka sebagai keburukan, dan sebaliknya; Sesuatu yang dirasa terbaikpun belum tentu benar adanya.

Dengan demikian, benang merah yang dapat ditarik; Sosok seperti apa yang diharapkan ketika menjadi seorang orang tua maupun anak, ‘problematik’ atau ‘baik-baik’, bisa jadi ‘terbaik’, atau lainnya adalah pilihan.

Jika sudah dipilih, maka akan selalu ada tanggung jawab dan kosekuensi. Kiranya, seperti itulah seni saling tertaut antar insan makhluk hidup.

Digstraksi adalah Media User-Generated, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

Ghina Serviliyana