Pengagum kenangan yang terindah


Pengagum kenangan yang terindah 1

Irwan sedang menikmati sarapannya sambil menonton TV sebelum berangkat kerja. Berulang kali ia menggantikan channel TV nya karena tidak ada acara yang seru selain tayangan berita dan kartun. Akhirnya, ia memutuskan untuk mematikan TV nya agar bisa fokus untuk sarapan. Jam sudah menunjukkan pukul setengah tujuh, ia pun menghabiskan makanannya dengan cepat untuk bergegas berangkat ke kantor. Irwan pun buru-buru mengambil tasnya dan segera berangkat ke kantor, Irwan tampak mengenakan kemeja biru tua yang rapih dan memakai celana hitam pajang serta memakai sepatu hitam. Rambutnya berwarna hitam legam dan di sisir dengan rapih supaya terlihat rapih, matanya berwarna hitam dan berkacamata serta dahinya mulai sedikit mengkerut dan kulitnya berwarna sedikit putih. Meskipun sudah berumur tiga puluhan lebih, tetapi wajahnya terlihat sangat mudah dan seperti anak muda pada umumnya, Irwan berjalan di pinggir kota sambil menikmati pemandangan di alun-alun kota. Kali ini ia pergi ke kantor menggunakan kereta api karena motornya sedang rusak kemarin dan tidak sempat untuk memperbaikinya sehingga Irwan terpaksa berangkat kerja dengan naik kereta api.

Untung saja, rumahnya lumayan dekat dengan stasiun kereta api sehingga tidak perlu memanggil tukang ojek untuk menjemputnya. Pagi ini jalanannya mulai padat karena banyak angkutan umum yang selalu berhenti di pinggir jalan sehingga menyebabkan sering terjadi kemacetan. Irwan terus melangkah cepat melewati orang-orang lalu-lalang dan ia pun sampai di penyebrangan jalan tepat berseberangan dengan stasiun kereta api. Irwan berhenti di pinggir jalan sambil menunggu lampu merah agar bisa menyebrang untuk sampai ke stasiun, di sebelahnya ada seorang perempuan yang berdiri dengan jarak satu meter di sebelah Irwan. Perempuan itu tampak misterius karena wajanya tertutup oleh masker, dia memakai dress pendek berlengan panjang berwarna hitam serta memakai sepatu hak tinggi dan stocking panjang berwarna hitam. Rambutnya panjang berwarna hitam dan sedikit bergelombang di biarkan terurai sampai ke punggung, tubuhnya lagsing dan kulitnya juga putih seperti gadis Korea.

Rambu lalu lintas kembali berwarna merah, jalanan menjadi lenggang dan tidak ada kendaraan satu pun yang lewat sehingga Irwan mulai menyebrang jalannya tanpa melirik ke samping. Tiba-tiba sebuah mobil merah muncul dengan kecepatan yang tinggi sehingga mobil itu ingin menabrak Irwan yang sedang menyebrang, perempuan misterius yang di belakangnya itu dengan cepat dia memeluk Irwan dari belakangnya dan mendorongnya agar menghindar dari tabrakan mobil. Untungnya mereka selamat meskipun kaki perempuan itu terkilir akibat tersandung oleh kaki Irwan, sedangkan mobil merah yang melintas itu rem mendadak dan hampir menabrak kios di pinggir jalan.

Peristiwa itu mengundang orang-orang yang di sekitar itu terkejut dan menghampiri mereka, Irwan yang terjatuh karena di dorong oleh perempuan itu bangkit kembali dan memastikan bahwa dirinya baik-baik saja tanpa ada luka sedikit pun. Ia melihat kearah wanita yang tampak berusaha berdiri karena dia juga jatuh saat menghindari mobil. “Mbak, gak papa?” kata Irwan sambil membantu perempuan itu untuk berdiri. Perempuan itu berdiri kembali dan menatap kearah Irwan itu dengan tajam, mata perempuan itu terlihat lentik dan matanya berwarna hitam mengkilat serta iris matanya berwarna coklat terlihat samar di matanya. Sayangnya, wajah perempuan itu tertutup oleh balutan masker putih sehingga hanya terlihat dengan matanya saja.“Terima kasih sudah menyelamatkan saya.” ucap Irwan. Sayangnya perempuan itu tidak membalas  ucapan dari Irwan dan hanya mengangguk kecil saja, perempuan itu malah pergi begitu saja tanpa mengeluarkan suara dari mulutnya.

***

Di ruang rapat, Irwan masih mengingat sosok perempuan itu saat dia menyelamatkan dirinya dari tabrakan mobil. Ia tampak asyik melamun saat sedang meeting bersama para karyawannya, sedangkan para karyawannya sedang debat mengeluarkan pendapatnya tentang rencana prposal bisnisnya. Irwan terus melamun di tengah ribut kecil dari para karyawannya sehingga salah satu karyawan di depannya mencoba menegur pelan ke Irwan. “Pak Irwan, kenapa bapak hanya melamun saja.” Irwan terkejut dengan teguran dari karyawannya dan melamburkan pikirannya. “Ti—tidak kenapa-napa, pak. Hanya saja saya masih memikirkan untuk rencana bisnisnya.”ujar Irwan sambil fokus kembali dengan pekerjaannya.

Saat selesai meeting, Irwan melepas lelah dengan berjalan di sekitar kantor. Ia mengaku capek dengan suara ribut dari karyawannya karena selalu berdebat terus tentang masalah proposal bisnisnya. Sebagai konsultan perdagangan internasional, pekerjaan ini adalah sebuah tantangan bagi Irwan sehingga mau tidak mau, harus siap mendengarkan keluhan masalah bisnis dan perdagangan dari kliennya yang membuat Irwan menjadi pusing untuk mengatasinya. Awalnya ia ingin bekerja sebagai staff marketing, tetapi ia malah di promosikan sebagai konsultan bisnis karena kemampuan Irwan sangat bagus soal tentang ekonomi dan bahasa inggrisnya yang sangat fasih sehingga mau tidak mau Irwan pun harus menerimanya daripada memutuskan untuk keluar dari pekerjaannya. Saat Irwan berjalan melewati lobi utama, Irwan melihat seorang perempuan yang tampak menelpon seseorang di depan kaca kantor. Ternyata dia itu adalah perempuan misterius yang menyelamatkan Irwan saat di jalan, perempuan itu tak lagi memakai masker sehingga terlihat jelas wajahnya dan juga sangat cantik. Wajahnya putih seperti gadis korea dan rambutnya hitam panjang sedikit bergelombang di biarkan terurai sampai punggung.

Mulutnya yang tipis itu tampak bergerak sedikit  ketika dia menelpon dengan seseorang seolah-olah dia sibuk dengan urusan diri sendiri. Irwan sedikit terpesona melihat kecantikan perempuan itu dan ia ingin mencoba mendekati perempuan itu dengan malu-malu. “Arin!” Suara itu membuat perempuan itu menoleh ke belakang arah seseorang, perempuan itu yang bernama Arin menutup teleponnya dan menghampiri ke seseorang yang di duga adalah temannya. Irwan gagal untuk mencoba mendekati Arin karena sudah terlanjur pergi bersama temannya.

***

Malamnya, Irwan rela bekerja lembur sampai jam setengah sebelas agar bisa menyelesaikan tugas perkejaannya dari klien. Usai selesai bekerja, Irwan keluar dari kantornya dan mampir ke tempat cafe untuk melepas penat. Irwan masuk ke dalam cafe dan memesan minuman di tempat bar nya, ia pun mencari tempat meja dan akhirnya memilih di meja di dekat pintu cafe. Kini suasana cafe sangat sepi karena sudah larut malam dan sebentar lagi cafe akan segera di tutup, tak ada satupun seseorang di sekitarnya selain Irwan dan karyawan cafe. Ia mulai merasa ngantuk dan memutuskan untuk bermain ponsel agar menghindari dari rasa kantuk sekaligus menunggu pesanan minumannya. Tiba-tiba mata Irwan sekilas melihat Arin yang duduk di sudut ruangan sambil berkutat di laptop dan ditemani oleh segelas milkshake. Tanpa berpikir panjang, Irwan segera menghampiri Arin yang sedang fokus menatap layar laptop tanpa malu-malu, “Mbak yang ada di kantor saya itu ya?” Arin tersentak dan menatap kearah Irwan, wajah Arin terlihat sinis menatap Irwan saat ia bertemu dengan orang yang tak di kenal.

Arin pun menjawab. “Iya pak, emangnya bapak siapa ya?” tanya Arin dengan tatapan yang berubah menjadi bingung. “Umm—maaf jika mbak merasa tidak enak dengan saya, soalnya waktu itu mbak pernah menyelamatkan saya dari tabrakan mobil tadi pagi.” Kata Irwan sambil mengibaskan sedikit rambutnya. “Oh iya, saya ingat. Maaf ya pak, waktu itu saya panik sekali ketika bapak hampir di tabrak oleh mobil sehingga saya menyelematkan bapak dari tabrak lari dan untungnya kita selamat. Dan maafkan saya juga karena waktu itu tenggorokan saya lagi sedikit gak enak sehingga mau bicara saja agak kecil suaranya, dan juga saya pergi begitu saja karena saya lagi buru-buru untuk pergi ke kantor.” Ucapnya sambil tersenyum.

“Tidak apa-apa, yang penting saya sangat berterima kasih kepada kamu karena sudah menyelematkan saya.” Kata Irwan sambil duduk di hadapan Arin. “Ngomong-ngomong,” Irwan membenarkan posisi duduknya dan terlihat gugup karena pertama kalinya bertemu dengan seorang perempuan yang cantik dan muda di hadapannya. “Perkenalkan, nama saya Irwan. Saya bekerja sebagai konsultan perdagangan internasional di kantor perusahaan asing tempat mbak kerja di sana.” Arin tersenyum melihat Irwan yang terlihat kikuk saat memulai perkenalannya. “Nama saya Arin, Senang bertemu dengan bapak.” Ujarnya dengan singkat. Irwan membalasnya dengan tersenyum sambil meremas tangannya sendiri saking gugupnya. “Ngomong-ngomong, kamu baru bekerja di kantor saya ya?” Arin menatap sedikit ke arah Irwan saat sedang fokus mengerjakan di laptop. “Iya, lebih tepatnya magang.” Kata Arin. “Oh, jadi kamu magang ya.” Ujar Irwan sambil mengangguk paham, jam sudah menunjukkan pukul setengah dua belas di jam tangan Arin.

Arin menutup laptopnya serta membereskan semua lembaran-lembaran pekerjaannya dan memasukkan ke dalam tas. “Kamu mau kemana?” tanya Irwan dengan bingung. “Maaf, saya harus pulang karena hari ini sudah larut malam. Terima kasih sudah bertemu dengan bapak.” Ujar Arin sambil bersiap membawa tasnya untuk pulang. “sama-sama, Arin. Hati-hati di jalan.” Kata Irwan. Arin tersenyum mengangguk serta membalas ucapan perpisahannya, akhirnya Arin pergi meninggalkan Irwan seorang diri di cafe.

***

Irwan sedang fokus merancang prposal bisnis untuk presentasi sambil berkutat di layar laptop, tiba-tiba sebuah pintu ruang kerja di ketuk oleh seseorang dari luar yang ingin masuk ke dalam ruang kerja Irwan.

Tok tok tok

“Masuk!” Seru Irwan. Pintu itu terbuka dan masuklah si Arin yang datang untuk menyerahkan hasil laporan pekerjaannya. “Selamat siang, pak. Laporannya sudah saya kerjakan.” Ucapnya sambil menyerahkan sebuah laporan berbentuk file amplop ke Irwan. “Terima kasih, Arin.” Balas Irwan dengan tersenyum dan menerima laporannya dan membuka isi file nya untuk mengecek isi laporan pekerjaannya Arin. “Kinerjamu sangat bagus sekali, baru kali ini saya tak pernah melihat para karyawan dengan kinerja sebagus sepertimu. Pusing sekali menghadapi karyawan saya dengan kinerjanya yang agak jelek.” Kata Irwin samil meletakkan file laporannya ke meja.

Arin tersenyum malu, “Kinerja saya gak terlalu bagus juga kok, pak. Tapi atasan saya bilang bahwa saya akan di tawarin untuk bekerja sebagai asisten Pak Irwan, tetapi tidak masalah jika bapak merasa keberatan punya asisten pribadi.” Irwan tersentak mendengar ucapannya bahwa Arin akan bekerja sebagai asisten pribadinya. Sebelumnya, Irwan sudah pernah membuka lowongan pekerjaan untuk posisi sebagai asisten konsultan perdagangan bisnis, sayangnya Irwan tak menemukan kandidat yang cocok dan tidak ada yang mau bersedia menjadi asistennya.Mendengar itu, Irwan tersenyum dan setuju dengan tawaran Arin. “Tidak masalah, Arin. Saya terima dengan permintaanmu. Sebenarnya, saya sudah lama sekali mencari kandidat untuk menjadi asisten saya. Sayangnya tidak ada seseorang satupun atau cocok menjadi asisten pribadi saya, tapi saya yakin kamu akan bekerja sebagai asisten ini dengan baik.”

Arin tersenyum, “Baiklah kalau begitu, terima kasih atas keputusan bapak. Saya permisi dulu.” Arin membungkuk pelan dan segera keluar dari ruang kerja Irwan. Irwan kembali melanjutkan fokus dengan pekerjaannya di layar laptop, senyuman Irwan kian semakin mengembang di wajahnya karena masih kepikiran dengan sosok Arin yang manis dan cantik saat ia bertemu dengannya. Perlahan-lahan Irwan mempunyai perasaan suka kepada Arin sehingga perlahan-lahan ia mulai menyukainya.

Mulai sekarang ini, Arin resmi bekerja sebagai asisten Irwan. Arin dengan senang hati menerima tugas dari Irwan setiap harinya, mereka selalu bekerjasama untuk mengatasi masalah bisnis dan proposal terkait rincian perdagangan barang yang terlalu sulit. Perlahan-lahan, hubungan mereka menjadi dekat dan selalu bersama kemanapun mereka pergi, bahkan Arin sangat canggung dengan Irwan begitu juga sebaliknya, seperti kejadian waktu mereka memasuki ke dalam lift. Saat Irwan memencet tombol lift nya, tiba-tiba tangan Arin memencet tombol lift juga sehingga tangan Irwin hampir menyentuh tangannya Arin. Arin terkejut karena tangannya hampir tersentuh oleh tangan Irwan sehingga mereka perlahan-lahan saling menatap dengan caggung. “Umm—maaf.” Ucap Irwan sambil gugup melihat Arin. Sedangkan Arin hanya menatap bingung saja dan fokus kearah depan lift.

Saat di restoran, mereka makan bersama sambil bercerita tentang kehidupan pribadinya. “Sebernarnya saya masih kuliah dan masih melanjutkan studinya di tingkat akhir ini, magang di kerja itu lumayan mudah dan juga sulit juga karena ini pertama kalinya saya berada di dunia perkantoran.” Kata Arin sambil menikmati makanan seafoodnya. Irwan menikmati makanannya sambil menyimak dari ceritanya Arin, giliran Irwan yang menceritakan pengalaman pribadinya. “Sebelum saya bekerja sebagai konsultan perdagangan bisnis, saya dulu bekerja sebagai guru di sekolah SD. Dulu saya sangat terkenal karena ketampanannya waktu itu sehingga saya sangat di sukai oleh murud-murid SD saya termasuk seorang anak kelas 4 SD yang diam-diam sangat menyukai dengan saya.” Ucap Irwan sambil terkekeh pelan mendengar cerita kenangan masa lalunya. Sedangkan Arin hanya tersenyum mendengar ceritanya dari Irwan, mereka pun melanjutkan ceritanya usai makan hingga istirahat kerja nya selesai.

***

Arin kembali memasuki ruang kerja Irwan untuk menyerahkan laporan analisa bisnis yang Arin kerjakan. Meja kerjanya terlihat berantakan dan banyak sekali berkas dokumennya serta bukunya yang berceceran di sekitar mejanya, juga tidak ada Irwan di dalam ruangan itu. Dengan sigap, Arin membereskan semua berkas-berkas yang berceceran dan menata buku kembali ke rak bukunya. Tiba-tiba mata Arin sekilas melihat sebuah buku tua yang terlihat usang di rak bukunya yang membuat Arin menjadi penasaran dan mengambil bukunya itu, Arin pun mengambil buku itu secara diam-diam dan buku itu seperti sebuah jurnal yang sampulnya terbuat dari kulit. Arin membuka isi buku jurnal itu dan kemudian melihatnya, isi jurnal itu berisi sebuah perjalanan kehidupan Irwan dan banyak sekali foto-fotonya dari zaman dulu hingga saat Irwan yang masih bekerja sebagai guru. Arin melihat ada sebuah foto Irwan bersama anak-anak SD lengkap saat dia masih mengajar di sekolah itu.

Saat Arin membuka lembarannya lagi, Arin terkejut terdapat sebuah foto seorang gadis kelas 4 SD yang mirip dengan dirinya. Gadis kecil itu terpampang jelas dengan mengenakan seragam sekolahnya yang sedang berada di kelas, wajahnya serta bagian fisiknya sangat mirip dengannya yang membuat Arin mulai mengingat semua kejadian itu saat duduk di bangku SD.Arin merasa yakin bahwa foto gadis kecil itu adalah seorang anak yang sangat suka dengan Irwan waktu dulu, dan gadis kecil di dalam foto itu yang tidak lain adalah dirinya sendiri. Arin tidak percaya dengan semua ini bahwa selama ini dirinya bekerja sebagai asisten gurunya sendiri dan dia mulai menyukainya.

“Arin, kau sedang apa?” Arin tersentak kaget dan menoleh kearah Irwan yang sudah berada di ruang kerjanya. Saat Irwan memasuki ruang kerjanya, ia mendapati Arin yang terperogok sedang membaca jurnal miliknya secara diam-diam, Irwan pun melangkah mendekati Arin itu sehingga Arin menjauh sedikit dari Irwan dan masih memegang buku jurnal milik Irwan.“Kau ini kenapa, apa yang kau baca dengan buku itu?” tanya Irwan yang seolah-olah mulai menginterogasi ke Arin. Arin tidak menjawab pertanyaan itu dan menyerahkan buku jurnal itu dengan cepat kepada Irwan. Tanpa berpikir panjang, Arin pergi meninggalkan ruang kerja Irwan dengan raut wajah yang bersalah. “Arin!” seru Irwan dengan mengeluarkan suara yang tegas. Namun terlambat, Arin sudah keluar dari ruang kerjanya tanpa mengucap kata sedikit pun. Irwan melihat ke sebuah buku jurnal miliknya yang Arin baca itu, Irwan merasa Arin punya sesuatu rahasia yang tak mau di ungkap ke Irwan.

***

Sejak dua minggu kemudian, Arin tidak pernah terlihat lagi di gedung kantor sehingga membuat Irwan menjadi khawatir dengan keberadaan Arin sekarang. Sudah beberapa kali Irwan terus menghubungi kontak Arin tetapi tidak pernah di jawab baik lewat telepon maupun via chat, Irwan bertanya beberapa karyawan yang merupakan rekan-rekan kerja Arin tetapi tidak ada satupun mereka tidak mengetahui kemana Arin itu pergi. Irwan menjadi frutasi dan hampir gila yang membuat para karyawan itu merasa khawatir dengan kondisi atasannya, tetapi ada seorang wanita berbadan sedikit gemuk yang merupakan teman dekat Arin itu mengatakan bahwa sebenarnya Arin sudah selesai magang seminggu kemarin dan kini Arin kembali untuk melanjutkan fokus skripsinya.

Mendengar kabar itu, Irwan menjadi sedih sekaligus kecewa terhadap Arin karena dia tidak memberitahunya dari kemarin, mungkin Irwan berpikir wakttu itu Arin tak sengaja membaca buku jurnal miliknya dan dia menemukan sesuatu yang membuatnya kecewa sehingga dia tidak pernah lagi berhubungan kontak dan pergi meninggalkan begitu saja. Sejak kejadian itulah, Irwan kembali fokus untuk bekerja dan perlahan-lahan Irwan melupakan semua dengan sosok Arin. Kini, Arin sudah pergi dan tidak pernah kembali lagi sejak peristiwa buku jurnal kemarin yang lalu. Irwan ikhlas menerima kepergian Arin dan sangat berterimakasih kepadanya karena dia sudah membantu banyak dalam berbagai hal pekerjaannya sebagai asisten Irwan dan berjanji tidak akan melupakan kebaikan Arin dan ketulusannya selama dia berada di sisinya.

 

1 Bulan kemudian.

Saat sedang jam istirahat, Irwan mampir ke tempat cafe yang di mana pertama kalinya Irwan bertemu Arin secara langsung dengan mengungkap keberaniannya. Hujan mengguyur deras di siang hari sehingga banyak genangan air di jalanan hingga menyebabkan sebagian jalanan kota mulai tergenang banjir, tetapi hujan tidak menghalangi Irwan untuk pergi ke cafe karena dirinya sudah terbiasa bepergian di tengah hujan. Irwan memasuki cafe sambil menutup payungnya dan segera memesan minuman kopi, Irwan mencari tempat mejanya yang seperti biasa duduk di sebelah pintu cafe yang menjadi tempat favorit Irwan. Sambil menunggu pesanan, Irwan memainkan ponselnya supaya terhindar dari rasa bosan. Irwan menatap kearah sebuah meja di sudut ruangan tempat Arin bersinggah sambil bekerja menatap laptopnya, Irwan masih ingat momen dimana dirinya mulai memberanikan diri untuk menghampiri Arin dan memulai percakapannya. Kini, meja itu masih kosong dan tidak di duduki oleh seseorang satupun, Irwan berharap semoga Arin datang kembali lagi dan menepati meja itu di sudut ruangan. Perlahan-lahan, hujan mengurangi tetesan air hujannya dan awan mulai membubarkan diri sehingga langit menjadi rata berwarna abu-abu putih. Irwan masih memainkan ponselnya sambil ditemani oleh segelas kopi hangat di mejanya, tiba-tiba seorang perempuan masuk ke dalam cafe dan memesan sebuah minuman ke tempat barnya.

Perempuan itu sudah tidak asing lagi bagi Irwan, perempuan itu tampak mengenakan jaket rajut berwarna navy serta memakai kaos pendek berwarna merah. Dia memakai celana katun pajang bewarna hitam dan rambutnya hitam panjang di biarkan terurai sampai ke punggung. Tidak lupa, dia juga memakai tas selempang kecil yang ia pakai. Kulitnya putih dan wajahnya terlihat sangat cantik seperti Gadis Korea, Irwan yakin bahwa perempuan itu adalah Arin yang hilang selama satu bulan. Setelah membayar, perempuan itu pergi meninggalkan cafenya sambil membawa sebuah gelas karton berisi minuman coklat panas dan juga membawa payungnya berwarna merah. Irwan pun mulai mengikutinya dan meninggalkan cafenya sambil membuka payungnya berwarna hitam supaya tidak kehujanan di luar.

Irwan terus mengikuti perempuan itu kemanapun ia pergi, perempuan itu berjalan dengan anggun sambil membawa payung berwarna merah di pinggiran kota sambil meminum segelas karton berisi coklat panas berkali-kali dan membuang gelas karton itu ke tempat sampah karena sudah habis. Berkali-kali, Irwan selalu menyela orang-orang lalu-lalang di pinggiran jalan dan beberapa kali mengucap ‘permisi’ sambil menggenggam payungnya dengan kuat. Sayangnya, Irwan kehilangan jejak perempuan itu akibat terhalang oleh kerumuan orang sehingga Irwan berusaha mencari keberadaan perempuan berpayung merah di sekitar perkotaan. Akhirnya, Irwan ketemu sosok perempuan berpayung merah itu yang kali ini ia berjalan kearah taman kota. Irwan pun mengikuti perempuan berayung merah itu lagi dan sebisa mungkin sambil bersembunyi terus supaya perempuan itu tidak ketahuan. Hujan semakin mereda dan perlahan-lahan langit biru mulai tampak di balik selimut awan yang tebal, Irwan terus mengikuti perempuan itu hingga sampai di tengah jembatan. Tamannya sangat luas di kelilingi oleh jejeran pohon yang tinggi serta banyak taman-taman bunga berkeliaran dan terdapat sebuah kolam besar yang terdapat jembatan besar. “Arin!” seru Irwan untuk memanggil ke arah perempuan itu, perempuan itu berhenti di tengah jembatan dan berbalik menatap kearah Irwan. Dugaan itu benar, ternyata perempuan berpayung merah itu adalah Arin.

Irwan tampak senang karena bisa bertemu lagi dengan Arin sekian lamanya, “Saya tidak menyangka bahwa itu kau,” raut wajah Irwan kembali menujukkan sedikit kecewa terhadap Arin. “Kenapa kau pergi begitu saja tanpa memberitahu saya?” Arin menatap sendu sambil memegang sebuah payung merah yang ia gunakan. “Sebenarnya saya sudah selesai magang seminggu yang lalu dan saya harus kembali ke kampus untuk melanjutkan skripsi. Saya sengaja tidak memberitahumu karena ada sesuatu rahasia yang tidak mau saya ungkapkan padamu.” Kata Arin.

Irwan bingung dengan rahasia yang ia simpan di hatinya, “Rahasia apa?” Arin mulai memberanikan dirinya untuk mengungkapkan sesuatu. “Kau akan terkejut jika saya menyampaikannya padamu. Sebenarnya gadis kecil yang menyukaimu waktu dulu itu,” Arin menghela nafas dengan panjang agar Arin bersiap untuk mengakuinya. “Saya sendiri, gadis kecil yang di foto yang saya lihat itu saya sendiri.” Ujarnya sambil melepas perasaan dengan lega. Irwan tekerjut mendengar pengakuannya bahwa perempuan yang Irwan sukai itu ternyata adalah muridnya sendiri. “Ka—Karina?” ucap Irwan dengan terbata-bata karena merasa tidak percaya bahwa dirinya bisa bertemu lagi dengan muridnya yang mengaguminya waktu dulu.

 

Flashback.

“Pak.” Suara kecil itu membuat Irwan tersentak kaget dan menoleh kearah sosok gadis kecil berseragam merah putih di balik pintu ruang kantor guru. Dialah Karina, sosok gadis kecil yang lugu berambut hitam panjang memakai pita merah itu terlihat berdiri sambil malu-malu di balik pintunya. Irwan terlihat sedang membereskan beberapa buku paket murid-murid kelas dan perlengkapan tulis dan spidol untuk mengajar. Irwan tersenyum menatap kearah Arin kecil sehingga membuat ia tersipu malu sambil bersembunyi di balik pintu.

“Ada apa, Arin?” tanya Irwan.

“Ma—maaf, hari ini jadwal pelajaran Bahasa Inggris di kelasku.” Pinta Arin.

“Oh, baiklah. Tetapi bisakah kau meminta tolong bapak untuk membawakan buku ini?” ucapnya sambil beranjak dari duduknya untuk bersiap mengajar, Arin mengangguk kecil dan memberanikan diri untuk membantu Irwan membawakan buku-bukunya untuk di bawa ke kelas.

Sejak itulah, diam-diam Arin mulai menyukainya sehingga sering diledek oleh teman-temannya karena mereka tahu kalau Arin sangat suka dengan Irwan. Bahkan, Irwan memberikan sebuah boneka rajut berbentuk seorang perempuan kepada Arin sebagai hadiah ulang tahunnya. Irwan berkata bahwa boneka ini sangat cantik dan mirip seperti Arin sehingga Irwan memberikannya ini sebagai kenang-kenangannya. Arin berterimakasih dengan hadiah ini dari Irwan, dan Arin sering membawa bonekanya itu kemana-mana. Sayangnya, semenjak Irwan sudah menikah, Irwan keluar dari sekolahnya karena harus pindah ke kota lain sehingga Arin merasa sedih karena kehilangan seseorang yang sangat mengaguminya. Sejak itulah Arin melupakan semua kenangan-kenangannya itu dan menyimpannya boneka pemberian Irwan dan tidak pernah di sentuh lagi.

 

Flashback end.

Irwan mengingat semua kejadiannya dulu dan menyadarinya bahwa Arin masih merindukannya dan ingin bertemu dirinya lagi, sedangkan Arin mulai melangkah mendekati Irwan sambil membawa sesuatu. “Saya mengingat kenangan ini setelah tidak senagaja membaca buku jurnal milkmu. Setelah saya mengalami kecelakaan lima tahun yang lalu, memori masa lalu saya menjadi lenyap termasuk kenangan-kenangan saat kita saling menyukai di sekolah. Tetapi, saya masih ingat saat pernah di berikan oleh sebuah hadiah dari seseorang yang pernah saya temui.” Ucap Arin dengan lirih.

“Saya masih ingat denganmu, Saya juga merindukanmu.” Ucap Irwan dengan pelan. Arin kaget mendengar pernyataannya dari Irwan, Arin mengeluarkan sesuatu dari tas selempangnya dan ternyata itu adalah sebuah bonek rajut pemberian dari Irwan saat dirinya masih kecil. Kini, boneka itu sudah terlihat sedikit kusam dan masih terlihat bagus fisiknya karena sudah di simpan selama bertahun-tahun. “Dulu kau memberikan hadiah boneka rajut kepada saya waktu dulu. Ambilah, ini adalah hadiah dari saya sebagai kenang-kenangan.” Kata Arin sambil menyerahkan boneka itu kepada Irwan, Irwan menerima bonekanya itu dan memandangi bonekanya yang mulai basah akibat terkena tetesan air hujan. “Tetapi, kita tidak bisa bertemu lagi karena kita berada di jalan yang berbeda, kau sudah bahagia bersama keluargamu dan juga istrimu. Kau hanya cukup menatap boneka ini sebagai melepas rindu tentang saya.” Kata Arin. Irwan tampak tersenyum kecil sambil menatap kearah Arin. “Terimakasih sudah membantu saya dan sudah menemaninya dari dulu.”

Arin membalas senyumannya dengan sedikit lirih, “Terimakasih juga karena kau sudah mengajarari saya dan juga kebaikanmu dari dulu.” Arin memegang erat ganggang payungnya dan mulai tenang dengan perasaannya. “Selamat tinggal.” Ucap Arin sambil perlahan mundur menjauhi Irwan. Akhirnya, Arin pergi meninggalkan Irwan sendiri di tengah jembatan, Irwan tersenyum menatap Arin yang kini sudah menjauh meninggalkan taman kotanya. Mereka berjanji tidak akan melupakan kenangan manisnya itu dan tetap saling mendukungnya meskipun mereka tidak bisa bertemu lagi.


Suka POST ini ? Bagikan ke temanmu !

Alya Putri Herdinanti

   

Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments