Pengalaman Saya jadi Penjemput Guru di Sekolah

Pengalaman Saya jadi Penjemput Guru di Sekolah

Masa-masa sekolah tidak akan pernah terlupakan oleh siapa pun. Meskipun ada beberapa pengalaman di sekolah yang menjengkelkan atau kurang menyenangkan justru hal tersebut di kemudian hari akan bikin rindu. Seperti cerita pernah kepergok bolos sekolah, kena razia guru killer, disetrap di depan kelas, sampai ditolak sama gebetan. Semua kenangan di sekolah pasti akan selalu diingat sampai hari tua nanti.

Setiap sekolah pasti mempunyai struktur organisasi masing-masing di jenjang kelasnya. Struktur organisasi yang dibuat tersebut dibuat untuk mempermudah koordinasi guru atau wali kelas terhadap murid-muridnya di kelas. Pada susunan organisasi kelas biasanya akan selalu ada ketua kelas, wakil ketua kelas, sampai beberapa seksi di bidang tertentu.

Dulu saat di sekolah, di kelas saya ada beberapa seksi bidang seperti seksi olahraga, seksi upacara, seksi kebersihan, sampai seksi pendidikan. Kalau bendahara mah udah nggak perlu dibahas lagi kali ya karena sudah pasti ada di setiap kelas. Siswa yang bertugas sebagai bendahara yang tugasnya nagihin uang kas biasanya selalu ngeselin, nagih uang di waktu yang nggak tepat. Biasanya sih mereka tipe orang-orang yang cerewet.

Saat SMP, saya pernah dipilih menjadi seksi bidang pendidikan. Jadi seksi pendidikan ini tugasnya adalah menjemput guru di ruangannya. Saat itu saya cukup senang dengan jabatan itu karena setidaknya saya bisa dong untuk lebih dekat dengan guru dan dikenal oleh banyak guru karena akan sering bolak-balik ruang guru. Awalnya sih saya memang senang, tapi lama kelamaan kok malah pengin resign soalnya nggak semudah dan semenyenangkan yang dibayangkan sebelumnya.

Menjadi seksi pendidikan itu selain harus mempunyai keberanian yang tinggi juga harus tahan banting dan tahan mental. Terlebih jika guru yang dituju adalah guru yang sulit untuk diajak kompromi atau malah leha-leha apalagi guru yang jarang banget kelihatan batang hidungnya. Lebih baik menjemput guru yang killer daripada guru yang sulit untuk ditemui. Biasanya guru killer tanpa dijemput pun sebelum bel masuk pasti sudah ada di kelas duluan.

Banyak sekali momen yang saya rasakan ketika menjadi seksi pendidikan. Beginilah kira-kira rasanya ketika menjadi murid penjemput guru.

1. Bisa lebih dikenal guru-guru

Selain menjadi murid yang pintar dan berprestasi, cara lain agar dapat dikenal banyak guru adalah menjadi seksi pendidikan alias penjemput guru. Menjadi penjemput guru otomatis kita akan sering bolak-balik menuju ruang guru untuk menjemput guru yang bersangkutan.

Selain bertemu guru bersangkutan, kita juga bisa bertemu dengan guru-guru yang ada di ruangan tersebut. Biasanya mereka selalu menyapa atau bertanya ingin apa jika guru yang saya jemput tidak ada di mejanya.

2. Kadang-kadang malu

Menjadi penjemput guru harus tahan rasa malu dan berani berbicara. Meskipun saya sudah terbiasa untuk bolak-balik ruang guru tapi pasti ada rasa malu juga jika sudah keseringan ke ruang guru.

Apalagi jika saya bolak-balik di hari yang sama karena saat ke ruang guru saya tidak mendapati guru yang jadwalnya mengajar kelas saya. Sehingga setiap sepuluh menit sekali saya balik lagi ke ruang guru. Kalau tidak ada juga, kemungkinannya kalau tidak bebas ya ada tugas tambahan dari guru piket.

3. Sering kena marah duluan

Setiap guru mempunyai watak yang berbeda-beda. Ada yang ramah, biasa saja, sampai guru yang mudah sekali tersinggung. Pernah ketika guru saya akan masuk ke kelas namun beliau malah balik lagi sambil marah karena kelas saya sangat berisik seperti belum siap untuk belajar.

Maka dari itu tugas saya lah yang harus mengejar beliau sampai beliau mau masuk ke kelas. Kalau sudah minta maaf belum juga tersentuh, maka urusannya bisa jadi panjang. Apalagi saya yang paling kena marah di ruang guru. Tambah malu, deh.

4. Suka kelupaan jemput

Hal keempat ini yang sering saya alami : kelupaan jemput guru. Bukan hanya lupa, malah saya beberapa kali memang sengaja tidak menjemput guru karena tidak semua guru harus dijemput dulu baru akan masuk ke kelas. Ada beberapa guru yang memang sudah datang sebelum dijemput.

Tapi karena ada beberapa guru yang selalu ingin dijemput, jadinya ketika saya kelupaan maka guru bersangkutan akan tersinggung sehingga tidak mau mengajar di kelas saya.

5. Capek

Hal terakhir yang saya rasakan saat menjadi penjemput guru adalah capek. Saya capek karena hampir setiap hari harus selalu menjemput guru, kena marah duluan, belum lagi jarak antara kelas saya dan ruang guru yang cukup jauh. Meskipun begitu namun saya tetap menjalankan tugas tersebut apalagi ada beberapa guru yang memberi saya nilai lebih. Kan lumayan juga.

Nah kira-kira begitulah pengalaman saya ketika menjadi murid penjemput guru di sekolah. Cukup banyak suka dan duka yang saya alami meski pada akhirnya banyak guru yang mengenali saya karena sering nongol di ruang guru. Jadi saya akan terbantu mengenai nilai di raport.

Digstraksi adalah Media User-Generated, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

Erfransdo