‘Penjilat Politik’ di Musim Politik

'Penjilat Politik' di Musim Politik 1

Bul ‘alaa zamzam Fatu’raf, bila engkau ingin terkenal, kencingi air zamzam. Tentu makna tersiratnya adalah, jangan mencari popularitas dengan cara yang aneh-aneh. Menghalalkan segala cara demi jabatan dan pujian.

Bahkan di dunia perpolitikan sekalipun, ‘Penjilat politik’ (saya menyebutnya secara spesifik sebagai ‘maop politik’) kerap bergentanyangan mencari mangsa demi popularitas. Penjilat-penjilat politik licik berbalut ‘timses’ ini selalu hadir ketika ‘hidangan lezat’ (pasangan yang sudah sukses ke puncak kekuasaan) telah dilantik dan menjalankan pemerintahan.

Penjilat  politik sejenis ini sangat pintar memainkan perannya supaya ia terlihat paling hebat dan paling segala hal saat sepasang kandidat calon pemimpin daerah sudah menang dan berkuasa. Meski pihak lain yang awalnya sudah mati-matian bekerja, spesies ‘penjilat politik’ ini tak segan-segan mendapuk dirinya sebagai ketua ini, ketua itu. Ia tak sungkan berbicara didepan pers, mengaku dirinya ketua segala ketua dan karena perannya ia merasa perlu dimintai keterangan. Sebab ia merasa keterangannya paling maksum dan bernas, meski didapat dan dibaca duluan dari pendapat pengamat terpercaya.

Didepan pasangan yang sudah suskes itu, ia mesti wajib tampil dan berinteraksi layaknya expert yang paling dekat dengan penguasa yang ia ‘jilati’. Supaya remah-remah ‘syafaat politik kekuasaan’ dapat ia gapai, meski dengan menimpuk dan menenggelamkan sahabat-sahabat lainya yang pada awalnya sudah susah payah bekerja mati-matian.

Didunia politik, dimana pun itu, oportunis politik semacam ini bukan barang baru. Selalu ada dan muncul secara berkala maupun periodik.  ‘Maop politik’ ini selalu muncul dan kehadirannya sangat menjijikkan. Kemunculannya sangat merugikan segala pihak, karena ia memang nongol untuk merusak tatanan tongkat komando sebuah tim.

Hal ini pula yang saya khawatirkan. Ketika segala sesuatu sudah menjadi populer, ada saja ‘penjilat politik’ semacam ini tiba-tiba muncul dan mengaku bahwa: itu karena masukan dia, karena efek dia dan segala macam bumbu bahasa menijikkan lain.

‘Maop-maop politik’ ini akan selalu hadir dan tak akan punah. Ia bukan barang langka, tetapi barang antik yang lestari dimana saja, punah pun hingga bumi berakhir kiamat.

Fitnah dan pembusukan kepada sahabat-sahabat sesama tim sudah menjadi makanan sehari-hari. ‘Maop politik’ atau ‘Penjilat Politik’, dan bahkan  istilah pas yang lebih keras lagi kita menyebutnya sebagai ‘pelacur politik’ ini sangat risih apabila ada sahabat sesama tim yang sedikit lebih maju pikirannya, atau lebih intelek akalnya sehingga hal itu dianggap sebagai ancaman baginya. Ancaman bagi periuk nasinya. Bukan sebaliknya, ia menganggap kelebihan sahabat politiknya itu sebagai sebuah kekuatan tim.

Oportunitas politik semacam ini masih akan terus eksis seiring masih adanya pekerja-pekerja keras (hard workers) politik yang bekerja mati-matian untuk seseorang, lalu setelah ‘produk’ itu jadi, ‘maop politik’ ini tiba-tiba muncul menjadi pahlawan kesiangan. Parahnya lagi, ia tak sungkan ‘menikam dari belakang’, demi meraih dan menyingkirkan buah kerja keras orang lain.

Semoga calon-calon pemimpin masa disegala pojok nusantara Indonesia mampu membaca ‘sinyal politik’ ini sebagai sebuah masukan (obat politik), dan menjadikan sejarah kelam masa lalu sebagai pelajaran berharga dalam untuk memulai era reformasi total. Politik itu tidak kejam, hanya ‘pelacur-pelacur’ oportunis inilah yang membuat permainan politik itu menjadi kejam dan barbar! | Halim El Bambi | Aceh, 16 Oktober 2021

Digstraksi adalah Media User-Generated, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

Halim El Bambi