Pentingnya Mengalami Quarter Life Crisis

Pentingnya Mengalami Quarter Life Crisis 1

Quarter Life Crisis adalah istilah yang kerap terlontar dari kaum millennial belakangan ini. Konotasi negatif yang muncul dari istilah ini, tidak sepenuhnya benar. Sesungguhnya Quarter Life Crisis bisa memberi manfaat yang besar untuk hidup kita ke depannya. Namun apakah kamu memahami apa yang sebenarnya disebut dengan Quarter life crisis? Apakah kira-kira kamu sendiri juga mengalaminya?

Literatur menyatakan bahwa Quarter Life Crisis adalah keadaan yang dialami oleh kaum dewasa muda di kisaran usia 18-30 tahun, termasuk kebingungan akan identitas diri, konflik internal (karir, finansial, hubungan), dan ketidakpastian dalam segala hal. Orang yang mengalami Quarter Life Crisis kerap melontarkan pertanyaan-pertanyaan dibawah,

Pentingnya Mengalami Quarter Life Crisis 3

“Apakah benar ini adalah karir yang kuinginkan? Bagaimana jika aku bosan atau lelah di tengah jalan? Apakah ini adalah hal yang ingin terus kulakukan hingga sudah waktunya untuk tak bekerja lagi?

“Apakah orang ini benar-benar bisa menjadi pendamping hidup yang cocok untukku? Apakah aku yakin bisa menghabiskan seumur hidupku dengan orang ini?”

“Apakah aku memiliki kapabilitas untuk menghasilkan lebih banyak uang? Lantas apa yang seharusnya kulakukan? Apakah mengganti karir adalah yang keputusan yang tepat?”

Ketidakyakinan kaum millennial dalam beberapa aspek tersebut dapat berlangsung cukup lama yaitu beberapa bulan hingga beberapa tahun. Rata-rata memakan waktu sekitar 11 bulan.

Menurut penilitian, kaum millennial mulai menanyakan hal-hal tersebut rata-rata di usia 26 tahun 9 bulan. Angka ini menunjukkan usia dimana kita menghadapi krisis, lebih besar apabila dibandingkan dengan generasi terdahulu. Generasi terdahulu dikatakan mengalami hal tersebut di usia yang terbilang cukup muda, yaitu 12-15 tahun. Mengapa bisa begitu? Hal ini disebabkan pada zaman dahulu, melanjutkan pendidikan hingga tingkat universitas masih langka.

Generasi terdahulu lebih berfokus pada bagaimana mereka bisa lebih cepat menghasilkan uang. Sedangkan  generasi milenial memiliki tuntutan yang lebih besar dalam aspek pendidikan. Orang tua dari generasi millennial, banyak yang menetapkan standar, pendidikan anak-anaknya minimal hingga sarjana. Hal ini membuat anak-anaknya tak perlu pusing memikirkan “Lalu apa selanjutnya”, karena mereka sudah mendapat gambaran hidupnya hingga minimal lulus kuliah. Barulah setelah lulus, mereka mulai mempertanyakan apa yang sebenarnya mereka cari? Bagaimana langkah yang benar untuk mencapai apa yang mereka inginkan?

Kebingungan tersebut kemudian menjadikan banyak generasi muda mencoba berbagai macam hal hingga akhirnya menemukan yang mereka inginkan. Perjalanan menuju menemukan hal yang benar-benar ingin kamu lakukan tentunya tidak mudah, penelitian pun mendukung pernyataan ini. 31 persen dari 2000 orang yang diwawancara, menyatakan bahwa mereka merasa sudah membuang waktu di pekerjaan yang tidak betul-betul mereka inginkan.

Pentingnya Mengalami Quarter Life Crisis 4

Berdasarkan sebuah studi berjudul Emerging adulthood, early adulthood and quarter-life crisis: Updating Erikson for the 21st Century, oleh Dr. Oliver Robinson, Quarter Life Crisis dibagi menjadi 5 fase besar, yaitu:

Fase pertama: Kamu merasa terperangkap dan terbebani oleh pilihan hidupmu sendiri. Seperti hubungan (terutama hubungan yang akan ke jenjang pernikahan), pekerjaan, atau bahkan hal seperti jurusan kuliah. Kamu masih bisa menjalani hidupmu dengan baik meski dengan segala ketidaknyamanan dan kegalauan yang kamu rasakan

Fase Kedua: Kamu mulai merasa semakin tidak cocok dengan apa yang sedang kamu jalani dan ingin keluar dari apapun yang membuatmu merasa terkekang dan tidak nyaman.

Fase ketiga: Kamu mulai take action! Pada fase ini, perlahan kamu mulai meninggalkan pekerjaanmu, hal-hal yang kamu kerjakan namun membuatmu tersiksa, bahkan kamu bisa mengakhiri hubungan yang sudah lama kamu jalin. Setelah kamu melepaskan hal-hal tersebut, kamu butuh waktu untuk merenung dan memikirkan apa yang ingin kamu lakukan ke depannya. Fase ini sangat berat, banyak penyesalan dan ketakutan yang akan kamu rasakan saat meninggalkan semua di belakangmu. Namun selain penyesalan, ada juga rasa lega karena telah berani mengambil langkah awal menuju hidup yang kamu inginkan.

Fase keempat: Setelah kamu memikirkan segala kemungkinan dan keinginan yang akan kamu jalani, akhirnya kamu mulai mencoba satu per satu. Pikiranmu akan lebih terbuka akan dunia luar, kamu akan tahu betapa banyak hal yang tidak kamu tahu dan hal tersebut ternyata sangat menarik! Pada fase ini sudah dipastikan kamu akan mengalami jatuh bangun, namun perasaanmu akan terasa lebih nyaman karena kamu tahu apa yang sedang kamu lakukan adalah membangun kembali hidupmu dari bawah. Kamu akan menemui banyak kesalahan yang membuatmu lebih bijak. Lalu di titik terakhir fase ini, akhirnya kamu akan menemukan apa yang membuat hatimu benar-benar nyaman. Hal tersebut akan sesuai dengan ketertarikan dan visi hidupmu

Fase kelima: Kamu mulai berkomitmen penuh untuk menjalani pilihan yang sudah kamu putuskan di fase sebelumnya. Fase ini pun masih akan diwarnai dengan suka duka atas pilihan yang kamu jalani, namun perbedaannya, di fase ini kamu merasa lebih bahagia menjalaninya serta terbuka akan segala tantangan di depan.


Media sosial dinilai memiliki peran penting dalam munculnya Quarter Life Crisis  yang dialami generasi muda. Dalam berbagai platform media sosial, diperlihatkan betapa banyaknya kaum muda yang sudah memiliki pendapatan 2 digit perbulan, rumah mewah, mobil sport, memiliki pasangan “ideal”, bahkan berlibur ke luar negeri beberapa kali dalam setahun.

Padahal presentase generasi muda yang mampu melakukannya bahkan sangat kecil apabila dibandingkan dengan kita yang hidup “biasa saja”. Bahkan belum tentu apa yang orang lain unggah di sosial media, benar adanya. Tak ada yang salah dengan apapun yang orang lain unggah di media sosial pribadi mereka, apakah kamu tahu apa yang salah? Terlalu berlebihan membandingkan hidup kita dengan orang lain.

Pentingnya Mengalami Quarter Life Crisis 5

Dari semua fase dan kebingungan yang kita alami sebagai generasi milenial, tak luput ada pelajaran dan hal bak yang bisa kita petik dari Quarter Life Crisis. Kamu tentu bertanya karena Quarter Life Crisis berisiko membuat kita merasakan banyak ketidaknyamanan, ketakutan, dan banyak kehilangan. Lalu apa hal baik yang bisa kita petik?

Meminimalisir dampak buruk yang terjadi pada Midlife Crisis! Apa itu Midlife Crisis? Kebingungan, Lelah, dan kegalauan pada hidup yang terjadi di sekitar usia 37-50 tahun. Dilansir dari Washington Post, 23% orang mengalami Midlife Crisis. Artinya sekitar 1 dari 5 orang berpotensi mengalaminya.  

Midlife Crisis sendiri merupakan dampak dari merasa tak nyaman terhadap pekerjaan, takut akan segera pensiun dan tak lagi punya sesuatu yang bisa dilakukan, berbagai tekanan dari keluarga, hubungan yang tidak menyenangkan, kehilangan seseorang yang kita cintai, merasa sendirian dan hilang arah dalam kehidupan. Kehilangan orang yang kita cintai bukanlah sesuatu yang bisa kita ubah dengan cara apapun, namun tentunya persoalan lain adalah hal yang bahkan bisa kita cegah dan perbaiki pada Quarter Life Crisis.

Pentingnya Mengalami Quarter Life Crisis 6

Contohnya hubungan yang tidak menyenangkan dan tekanan dari pasangan dapat kita cegah melalui Quarter Life Crisis  dimana kita dituntut untuk mencari pendamping hidup yang terbaik untuk kita -sementara standar baik setiap orang akan berbeda- namun kita semua jelas tahu standar dasar apa saja yang dapat membuat seseorang dikatakan “baik”.  Lalu contoh yang kedua adalah persoalan lelahnya seseorang menghadapi pekerjaan dan takut apabila akan segera pensiun.

Jika kita benar-benar mampu mengambil banyak pelajaran dari Quarter Life Crisis, kita bisa lebih banyak menjajal pekerjaan atau hal-hal yang kita sukai di usia yang terbilang muda.  Apabila sekalipun kita sudah di usia wajib pensiun, maka setelahnya kita tahu hal apa saja yang sanggup dilakukan dan membuat kita menjadi Bahagia saat melakukannya.

Selain untuk meminimalisir dampak dari Midlife Crisis, Quarter Life crisis dapat menjadi sarana untuk mendewasakan diri dan memperbaiki kecerdasan emosional seseorang. Seorang psikolog klinis, Jeffrey DeGroat menyarankan untuk memperbaiki diri dan terus mengembangkan caramu sendiri untuk menangani situasi yang membuat Anda tertekan saat mengalami Quarter Life Crisis. Kecerdasan emosional ini fungsinya agar kita dapat bereaksi dengan lebih baik terhadap apa yang sedang kita rasakan tanpa membiarkan sisi emosi kita meledak.

Dari Quarter Life Crisis kita juga bisa belajar bahwa terkadang kamu merasa hilang arah, bersedih, atau marah dengan kehidupan, namun kamu pun tahu tak akan selamanya seperti itu. Kamu juga akan belajar bagaimana dinamisnya hidup dan membuatmu berusaha untuk melakukan lebih baik lagi setiap harinya. Mempelajari dinamika hidup artinya kamu mampu mengembangkan perspektif yang sehat tentang hidupmu, berhenti mengasihani diri sendiri dan belajar untuk mensyukuri hal-hal sederhana dalam hidup. Pola pikir tersebut akan membantumu untuk mendewasakan diri sehingga kamu bisa menghadapi sesuatu tanpa mengedepankan emosi.

Pentingnya Mengalami Quarter Life Crisis 7

Quarter Life Crisis tidak seharusnya diberi konotasi negatif. Banyak hal yang bisa kita pelajari sambil terus berproses untuk menjadi pribadi yang lebih baik setiap harinya. Quarter Life Crisis juga dapat menjadi sarana untuk banyak berpikir dan merenung untuk mengambil keputusan yang menurut kita paling tepat. Sehingga mencegah penyesalan dan ketidaknyamanan yang tidak perlu di kemudian hari, atau apa yang sudah kita tahu, pada Midlife Crisis. Yuk generasi millennial, mari sama-sama belajar menjadi pribadi yang lebih baik melalui Quarter Life Crisis!

 

Digstraksi adalah Media User-Generated, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

Lalita Dyani