Penyulingan Tradisional Minyak Kayu Putih di Pulau Buru

Penyulingan Tradisional Minyak Kayu Putih di Pulau Buru

, mungkin hanya dapat dieja dalam karya besar Pramoedya Ananta Toer, “Bumi manusia”. Pulau buangan tahanan politik era 60-an ini tidak terlalu tersohor jika dibandingkan dengan Nusa Kembangan. Namun, semenjak badai covid-19 melanda Indonesia pada awal 2020, akhirnya diketahui sebagai sumber “emas hijau” yang harum dan sangat berkhasiat, yaitu minyak , yang juga dikenal sebagai buru cajuput oil (BCO). Asli, alami, dan khas serta tentunya berkhasiat. Minyak ini dulu dikenal sebagai minyak khas Ambon. Padahal, di Kota Ambon sendiri, bahkan tidak ada satupun kayu putih tumbuh.

Karakteristik unik dari minyak yang menjadi pembeda dari minyak lainnya adalah berwarna hijau, beraroma kuat (pungent), dan hangat dikulit. 

Minyak kayu putih pulau buru
Minyak

Minyak Pulau Buru dapat juga dikatakan sebagai essential oil warisan nusantara. Hal ini dikarenakan minyak ini disuling dari (Melaleuca cajuputi) yang merupakan endemik . Selain itu, produksi minyak tersebut juga telah diusahakan turun-temurun, sejak Indonesia masih menjadi Hindia Belanda. Bahkan, teknologi usang yang digunakan untuk menghasilkan tetesan minyak tersebut adalah copy-paste teknologi penyulingan Belanda dalam nuansa tempo dulu. Kini masih diwariskan dan tetap digunakan untuk memproduksi minyak .

Sejarah Singkat

Berdasarkan catatan Friedrich August Flückiger dan Daniel Hanbury dalam buku yang berjudul “Pharmacopgraphia: A Hystori of Principal drugs of vegetable origin”, terbitan 1874, pertama kali disuling oleh ahli botani Belanda yang bernama Rumphius pada tahun 1727. Rumphius juga adalah orang yang pertama kali menemukan potensi minyak dari kayu putih dari . Semula, kayu putih tersebut dinamakan whitewood, kemudian berubah menjadi “kayu putih” yang diambil dari penuturan asli Masyarakat terhadap morfologi kayu putih, yang memang memiliki warna putih pada kulit batangnya.

Selanjutnya diserap kedalam bahasa inggris yaitu cajuputi atau cajeput dan kata ini terus digunakan hingga saat ini. Selain itu, bahasa dagang di benua eropa pada abad ke 17-19 adalah oleum cajuputi. Ada yang menarik dari catatan sejarah tersebut adalah muncul sebagai upaya pencegahan wabah yang merebak di benua eropa tempo itu dan kata kayu putih juga adalah kata asli dari tutur masyarakat .

Tingginya nilai ekonomi dan meningkatnya permintaan di Eropa kala itu, membuat para raja tertarik untuk mempelajari proses produksi . Akan tetapi, alat untuk memproduksi minyak tersebut sangat terbatas, sehingga dengan melalukan berbagai percobaan, didapatkan serangkaian alat produksi dari alat dan bahan yang tersedia di . Alat-alat tersebut terdiri atas Badan ketel dan pendingin yang terbuat dari kayu, wajan dan saringan yang terbuat dari besi, dan kepala ketel yang terbuat dari tembaga.

Baca juga  Berburu Sunrise & Sunset di Jiku Merasa, Pulau Buru

Teknologi dan cara produksi yang telah diketahui oleh para raja pun diajarkan ke masyarakat agar masyarakat dapat memanfaatkan dan mengais pendapatan dari alami itu. Namun, ternyata proses produksi yang lakukan oleh masyarakat tidak semulus yang dipikirkan. Banyak ketel dan lahan yang disita oleh pihak Belanda. Selain itu, terjadi penguasaan sentra produksi sepihak secara besar-besaran oleh pihak Belanda. Arogansi Belanda itu memicu timbulnya perang saudara yang berkepanjangan. Pasalnya Belanda memanfaatkan masyarakat lokal yang pro Belanda untuk merebut lahan dan sentra kayu putih. Hal ini tidak disukai oleh raja dan seluruh ketua adat.

Akhinya dengan meminta bantuan pasukan dari kesultanan ternate, terjadi perang besar perbutan lahan yang disebut juga sebagai perang Tobelo-Galela. Perang ini dimenangkan oleh pihak raja dan utusan sultan ternate, namun  Hegemoni belanda yang sangat kuat membuat pasar dan semua jalur distribusinya dikendalikan oleh Belanda dari Pulau Buru hingga ke Eropa.

Setelah Belanda pergi meninggalkan Indonesia, jalur distribusi dan pasar dikuasai oleh masyarakat pedangang atau masyarakat kelas dua (non pribumi) yang berasal dari etnis china atau arab. Hingga saat ini, masyarakat Asli dan adat Pulau Buru yang merupakan pemiliki lahan kayu putih kebanyakan hanya menjadi produsen atau penyuling saja. 

Rangkaian Sistem Produksi Tradisional  

Dalam sistem produksi tradisional, terdapat tiga hal yang masih terus dipertahankan hingga saat ini, yaitu:

1. Teknologi Produksi

Ketel untuk memproduksi terdiri atas tungku yang terbuat dari tanah liat, bak penampung daun dan pendingin yang terbuat dari kayu, kepala ketel yang terbuat dari tembaga atau kuningan, dan saringan ketel yang terbuat dari besi. Pipa-pipa ketel untuk mengalirkan uap terbuat dari tembaga atau besi. Sementara, bahan bakar yang digunakan untuk memanaskan ketel hingga saat ini adalah kayu bakar. 

Bahan baku untuk mengahasilkan adalah daun kayu putih yang dipanen pada usia minimal 6 bulan. Bahan yang telah dipanen dimasukkan kedalam badan ketel dan disuling hingga 7 jam. Dalam satu hari dapat dilakukan 2 hingga 3 kali penyulingan daun kayu putih.  

Baca juga  Serupa Tapi Tak Sama, Inilah Perbedaan Minyak Kayu Putih Dan Eucalyptus
Daun tanaman kayu putih (Melaleuca cajuputi)
Daun kayu putih (Melaleuca cajuputi)

Dalam buku yang berjudul “minyak atsiri” karya Ernest Guenther yang diterjemahkan oleh S. Ketaren (1987), dijelaskan bahwa untuk menghasilkan minyak atsiri, aromatik dapat disuling dengan tiga metode, yaitu: penyulingan air (water distillation), penyulingan uap (steam distillation), dan penyulingan air-uap (water-steam distillation). Minyak kayu putih yang disuling dari daun Melaleuca cajuputi dapat disuling menggunakan tiga teknik diatas. Akan tetapi, yang berkembang dan yang masih digunakan dalam skala tradisional diatas adalah teknik penyulingan air-uap (water steam distillation). Lebih sederhananya disebut sistem kukus. Rangkain alat tradisional tersebut diinstal menyerupai panci kukusan nasi, namun tertutup rapat, dengan pipa uap yang dipasang dalam bak pendingin. 

Ketel tradisional untuk menyuling minyak kayu putih
Ketel tradisional untuk menyuling minyak kayu putih

Prinsip dari sistem penyulingan air-uap adalah air yang dipanaskan di bawah saringan ketel menguapkan minyak dari dalam daun kayu putih. Minyak akan dievaporasi dan mengalir dalam pipa yang dipasang sepanjang bak pendingin. karena terjadi proses pendinginan, uap yang terevaporasi tersebut kemudian terkondensasi. Hasil kondensasi tersebut berupa minyak dan air. Minyak yang tidak larut air akan terpisah pada bagian atas air dipisahkan dan disimpan dalam botol kaca atau plastik.

2. Sistem kerja

Sistem kerja tradisional yang terbentuk dan masih diwariskan adalah sitem borongan berdasarkan asas kekeluargaan. Hal ini dikarenakan lahan kayu putih adalah milik bersama keluarga besar yang didapatkan dari para raja atau tuan tanah pada era kolonial, sebagai hibah dan atau hadiah tempo itu. Untuk menyamaratakan pendapatan, dilakukan proses produksi secara bergilir dan  bersama-sama atau borongan. Pembagian hasil pendapatan dipresentasikan sekitar 40% dan 60% serta pembagiannya dilakukan secara berurutan atau acak. Contohnya, terdapat 10 anak yang merupakan ahli waris ladang dan ketel minyak kayu putih. Kemudian ditentukan bahwa anak pertama yang akan mendapatkan hasil produksi pada panen pertama daun kayu putih tersebut.

Maka, setelah dilakukan penyulingan seluruh daun dari lahan kayu putih tersebut, anak pertama dan keluarganya akan mendapatkan minyak kayu putih sebanyak 40% dan sisanya diberikan kepada 9 anak lain yang disebut pekerja atau penyuling secara merata. sisa yang dibagikan tersebut dikenal sebagai upah kerja borongan. Selanjutnya anak kedua akan mendapatkan hak yang sama pada 6 bulan selanjutnya dan seterusnya. Para pekerja borongan juga dapat berasal dari keluarga atau masyarakat lain yang secara sukarela bekerja pada ketel atau lahan keluarga diatas. 

Baca juga  Pantai Jiku Merasa: Wisata andalan di Pulau Buru

3. Penyimpanan dan uji kualitas

Minyak kayu putih yang telah diperoleh disimpan dalam kemasan plastik berupa jeriken atau dalam kemasan kaca berupa botol bir atau botol kaca lainnya. Minyak biasanya tidak disimpan dalam waktu lama, karena masyarakat sangat membutuhkan uang dari hasil produksi tersebut.

Sementara, untuk menjamin dan mengetahui mutu minyak kayu putih, masyarakat umumnya melakukan uji secara tradisional yang terdiri atas uji bau, uji tekstur, uji BD (Bobot Bensitas) atau berat jenis, dan uji campur. Uji bau dilakukan dengan membaui aroma minyak. Aroma yang tajam dan kuat adalah aroma yang sangat disukai. Untuk uji tekstur, biasanya minyak kayu putih diraba dan diolesi ke kulit untuk dirasakan hangat dan tekstur minyaknya. Sementara uji BD dilakukan dengan menggunakan alat alkoholmeter.

Minyak dengan BD minimal 0.9 atau 90 adalah minyak yang sangat diinginkan oleh pasar. Untuk uji campur, dilakukan dengan cara mengocok minyak secara keras. Hal ini bertujuan untuk melihat busa yang terbentuk. Jika banyak busa yang dihasilkan setelah pengocokan dan busa tersebut hilang dalam waktu lama, minyak kayu putih yang diuji dicurigai telah dicampur dengan bahan lainnya. Pelarut yang biasanya ditambahkan sebagai bahan campuran minyak kayu putih adalah spirtus, miyak tanah, minyak kelapa, dan terpentin.

Adanya tambahan bahan campuran tersebut dapat menurunkan bobot densitas minyak dan minyak dapat berubah aroma atau bahkan dapat rusak dalam jangka panjang. Selain itu, dapat menyebabkan iritasi pada pengguna. Saat ini minyak kayu putih asli juga dicampur dengan minyak ekaliptus dan diklaim sebagai minyak kayu putih asli.

Uji campur juga dapat dilakukan dengan menuangkan minyak ke dalam pelarut berupa alkohol dan dikocok untuk melihat kejernihan minyak setelah dicampur. Adapun, pengujian kualias diatas adalah pengujian yang lebih ditekankan pada faktor pengalaman. Hal ini karena adanya keterbatasan alat dan sarana pengujian serta ilmu pengetahuan. Selain itu, tidak semua orang dapat mengetahui dengan pasti keaslian minyak tersebut. Sehingga, Kejujuran penyuling sangat menentukan kepercayaan pasar. Dengan adanya kemudahan distribusi dan informasi saat ini, minyak kayu putih sudah dapat diuji menggunakan alat yang akurat, sehingga pembeli pun dapat terselamatkan dari minyak campuran tersebut.

Minyak kayu putih Pulau Buru lahir karena wabah dan lebih dikenal saat ini pun karena wabah. Walaupun zaman telah berganti, teknologi usang nan tradisional itu masih tetap dihati. Dapat dikatakan, punyulingan tradisional minyak kayu putih di Pulau Buru adalah teknologi kolonial yang tetap bertahan pada era milineal. Semoga warisan ini dapat dilestarikan, namun tetap berupaya untuk menyelaraskan dengan kebutuhan konsumen. 

Baca Juga

Digstraksi adalah Media User-Generated, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

Amina Kurniasi Alu