Pepaya Jepang, Benarkah Beracun?

Pepaya Jepang, Benarkah Beracun? 1

Pagi itu saya berbincang dengan teman. Saya menyampaikan keinginan saya untuk menanam pepaya jepang. Saya hampir tersedak saat dia bertanya, “lebih enak mana, pepaya jepang, atau pepaya california?”

Tentu saja tidak dapat dibandingkan. Pepaya california lebih umum dikonsumsi buahnya. Sedangkan pepaya jepang diambil daunnya untuk dimasak sebagai sayuran.

Di tempat asalnya, Meksiko, tanaman pepaya jepang disebut chaya. Di Indonesia pemberian nama depan pepaya kemungkinan disebabkan oleh bentuk  daunnya yang mirip daun pepaya. Sedangkan tambahan nama jepang kemungkinan karena nama aslinya yang sama dengan kata dalam Bahasa Jepang yang sebenarnya berarti kedai teh.

Pepaya jepang mudah meraih kepopuleran di Indonesia karena rasanya yang enak, dan nilai gizinya yang sangat tinggi. Tercatat sudah lebih dari 600 resep di Cookpad yang menggunakan bahan daun pepaya jepang. Daun pepaya jepang dapat ditumis, dimasak gulai, bahkan digoreng dalam bentuk bakwan, mirip dengan bakwan daun singkong.

Sumber: https://id.wikipedia.org/wiki/Cnidoscolus_aconitifolius
Sumber: https://id.wikipedia.org/wiki/Cnidoscolus_aconitifolius

Secara kekerabatan, tanaman chaya lebih dekat dengan tanaman singkong. Cara menanamnya pun sama, cukup dengan stek batang. Tanaman pepaya jepang mudah tumbuh di Indonesia yang memiliki iklim serupa daerah asalnya. Pertumbuhannya cukup cepat, dan dapat mencapai ketinggian 6 meter. Hanya saja, lebih baik pemangkasan selalu dilakukan agar proses panen daun menjadi lebih mudah.

Sama juga dengan singkong, pepaya jepang memiliki kandungan glikosida sianogenik yang tinggi. Zat ini merupakan racun yang dapat membahayakan tubuh. Berikut lima akibat mengkonsumsi makanan dengan kandungan glikosida sianogenik yang tinggi.

1. Konzo, yaitu penyakit yang menyerang syaraf motorik. Kebanyakan penderitanya akan mengalami kelainan cara berjalan secara permanen.

2. Tropical Ataxic Neuropathy (TAN), merupakan penyakit syaraf yang menyerang sensor penglihatan, pendengaran, keseimbangan, dan koordinasi, serta menyebabkan kelemahan pada tangan, dan kaki.

3. Gondok dan kretinisme. Konsumsi makanan dengan kadar glikosida sianogenik yang tinggi dapat memicu kekurangan zat yodium dalam tubuh. Hal tersebut dapat menimbulkan penyakit gondok, serta kretinisme, yaitu gagal tumbuh pada anak-anak.

4. Retardasi pertumbuhan. Tingginya tingkat konsumsi makanan dengan kadar glikosida sianogenik memicu retardasi pertumbuhan karena proses detoksifikasi sianida memerlukan protein yang penting bagi pertumbuhan. Jika protein terus-menerus dipakai untuk proses detoksifikasi, tentu saja pertumbuhan badan menjadi terganggu.

5. Keracunan sianida. Gejala keracunan sianida meliputi mual, muntah, pusing, sakit perut, lemah, sakit kepala, diare, bahkan dapat berujung pada kematian.

Selain keracunan sianida, keempat penyakit di atas merupakan penyakit yang banyak terjadi di benua Afrika. Hal tersebut dipicu oleh konsumsi singkong secara terus-menerus dengan pengolahan yang kurang tepat.

Walaupun glikosida sianogenik sangat berbahaya bagi tubuh. Seperti singkong, pepaya jepang pun tetap aman dikonsumsi asalkan dengan pengolahan yang benar. Agar aman, lebih baik daun pepaya jepang tidak dimakan mentah sebagai lalapan. Untungnya, glikosida sianogenik mudah terurai dengan proses pemasakan. Air rebusannya pun tetap aman dikonsumsi karena kandungan sianida akan menghilang dalam wujud gas.

Jadi, tunggu apa lagi? Mari kita menanam pepaya jepang!

Digstraksi adalah Media User-Generated, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

Warna Dunia