Peran Keluarga dalam Menumbuhkan Budaya Literasi

Peran Keluarga dalam Menumbuhkan Budaya Literasi 1

Secara bahasa, literasi dapat diartikan sebagai keberaksaraan, yaitu kemampuan membaca dan menulis. Dalam Bahasa Inggris disebut literacy yang berarti kemampuan membaca dan menulis (the ability to read and write) dan kompetensi atau pengetahuan pada bidang tertentu (competence or knowledge in a specified area). Memang ada beberapa pendapat mengenai pengertian literasi itu sendiri. Namun secara garis besar, literasi dapat diartikan sebagai kemampuan melek aksara yang didalamnya meliputi membaca dan menulis.

Budaya literasi yang baik merupakan salah satu tolak ukur kemajuan peradaban suatu bangsa. Negara-negara maju rata-rata memiliki budaya literasi yang baik dengan jumlah masyarakat buta huruf rendah.

Literasi berhubungan erat dengan kesadaran masyarakat suatu negara akan pentingnya pendidikan karena pendidikan adalah modal dasar untuk kemajuan sebuah bangsa.

Literasi juga dapat menjadi penanda akan kekayaan budaya yang dimiliki suatu bangsa karena banyaknya karya yang ditulis oleh penduduk di negara tersebut menunjukkan kekayaan pengalaman dan pengetahuan penduduk dalam menyikap kehidupannya. Dengan demikian negara tersebut banyak menghasilkan bacaan-bacaan yang beragam dan berkualitas sehingga memperkaya khazanah keilmuan suatu bangsa.

PISA atau Programme for International Student Assessment merupakan program internasional tiga tahunan yang diselenggarakan oleh OECD (Organization for Economic Cooperation and Development) untuk memonitor literasi membaca, kemampuan matematika dan kemampuan sains bagi siswa berusia 15 tahun dengan maksud mengevaluasi dan meningkatkan metode pendidikan di suatu negara.

Untuk menunjukkan bahwa suatu negara memiliki tingkat literasi membaca, matematika dan sains yang baik, OECD telah menetapkan standar rata-rata internasional dengan skor 500. Data  tahun 2015 menunjukkan Indonesia masih berada di peringkat 10 besar terbawah dari 72 negara yang disurvey dengan skor rata-rata 395. Hasil ini meningkat sebesar 1 poin dari tahun 2012 lalu. Dengan skor yang  berada di bawah rata-rata yang ditetapkan oleh OECD menunjukkan bahwa literasi di Indonesia masih tergolong rendah.

Hal ini diperkuat juga dengan survey dari UNESCO yang menunjukkan tingkat literasi membaca di Indonesia hanya 0,001% yang berarti dari 1.000 orang hanya 1 orang yang memiliki minat baca tinggi. Masyarakat Indonesia rata-rata membaca 0-1 buku per tahun. Bandingkan dengan negara maju lainnya, seperti Jepang dan Amerika Serikat yang rata-rata mampu membaca 10-20 buku dalam setahun.

Faktor yang Menghambat Tumbuhnya Minat Baca

ilustrasi bermain gawai | image by Erik Lucatero from pixabay
ilustrasi bermain gawai | image by Erik Lucatero from pixabay

Ada beberapa faktor yang menghambat tumbuhnya minat baca pada masyarakat Indonesia, seperti penggunaan gawai yang berlebihan dan kurang bijaksana, sarana membaca yang minim atau kebiasaan membaca yang tidak dibiasakan sejak dini. Masyarakat Indonesia umumnya masih lebih suka menonton televisi dan video dibandingkan membaca.

Menurut Badan Pusat Statistik (BPS), masyarakat Indonesia rata-rata menghabiskan waktu hingga 300 menit atau 6 jam per hari untuk menonton televisi.

Akibat Rendahnya Budaya Literasi

ilustrasi penyebaran hoax akibat rendahnya budaya literasi | image by Gerd Altmann from pixabay
ilustrasi penyebaran hoax akibat rendahnya budaya literasi | image by Gerd Altmann from pixabay

Pernahkah kamu melihat orang yang masih bertanya tentang suatu hal, padahal apa yang ia tanyakan sudah tercantum dalam informasi tersebut?

Misalnya, ada informasi tentang pendaftaran lomba menulis, lengkap dengan persyaratan, deadline pengumpulan karya hingga contact person jika butuh informasi lebih lanjut. Namun masih saja ada yang tanya panjang tulisan maksimal berapa kata, lombanya sampai kapan dan pertanyaan lain yang sebenarnya sudah terjawab dengan membaca informasi yang ditayangkan.

Sebobrok inikah budaya literasi kita? Semalas itukah masyarakat kita membaca? Padahal informasi yang ditayangkan bukan seperti makalah atau jurnal ilmiah yang menghabiskan berlembar-lembar halaman.

Tidak heran jika masyarakat kita mudah sekali percaya berita hoaks. Akibat lainnya adalah merasa diri paling pintar dan benar sehingga mudah menghakimi orang yang berbeda sikap serta pandangan. Padahal pemahamannya hanya begitu-begitu saja sehingga sering gagal dalam memahami konteks masalah.

Solusi Membangun Budaya Literasi yang Baik

Membangun budaya literasi yang baik tentu bukan pekerjaan yang bisa jadi dalam sehari semalam. Menumbuhkan budaya literasi seharusnya dimulai sejak dini dari lingkungan keluarga. Keluarga, dalam hal ini orangtua seharusnya bisa memberi contoh dan panutan pada anak-anaknya agar mencintai membaca.

Sebelum anak-anak menempuh pendidikan formal di sekolah, mereka akan terlebih dulu belajar tentang nilai-nilai kebaikan dan kebiasaan yang baik dari orangtuanya. Jika orangtuanya tidak membiasakan diri membaca dan lebih senang menonton sinetron, misalnya, bagaimana mungkin ia akan membuat anaknya suka membaca? Bukankah anak-anak biasanya akan meniru orangtuanya?

Selama ini kebanyakan orangtua hanya mengajarkan kepada anak-anaknya sebatas bisa membaca saja belum menjadikannya sebagai kebiasaan apalagi kebutuhan. Padahal menjadikan membaca sebagai kebiasaan butuh kedisiplinan dan konsistensi yang tinggi. Melatih anak-anak untuk suka membaca dapat dilakukan dengan berbagai cara yang menyenangkan.

Jika anak belum memasuki usia sekolah, kegiatan literasi dapat dilakukan dengan cara membacakan cerita atau mendongeng sebelum anak akan tidur dan sesekali bisa meminta anak untuk menceritakan kembali cerita dari buku yang telah dia baca.

Jika anak yang sudah memasuki masa sekolah atau minimal sudah mulai lancar membaca dan menulis, bisa dilakukan dengan meminta anak untuk menceritakan kembali materi apa saja yang sudah dia pelajari di sekolah atau mengajarkan anak untuk menulis buku diary tentang kegiatan-kegiatannya maupun kejadian-kejadian menyenangkan dan tidak menyenangkan yang dialaminya pada hari itu.

Memfasilitasi anak-anak dengan bahan bacaan yang berkualitas sesuai dengan usianya juga menjadi hal yang sangat penting. Orangtua dan anak pun bisa juga membuat jadwal dan kesepakatan akan meluangkan waktu selama berapa jam untuk membaca per harinya dan jika tidak dilakukan maka apa konsekuensinya.

Hal ini secara tidak langsung juga mengajarkan anak untuk disiplin dan bertanggungjawab terhadap komitmen yang dibuatnya. Dengan demikian, kesadaran akan pentingnya literasi dapat tumbuh dalam diri setiap anak dan ketika anak tumbuh dewasa ia akan jadi pribadi yang berwawasan luas, mampu memandang suatu masalah dari berbagai sudut pandang hingga mampu mengambil keputusan atas hidupnya. Mereka akan tumbuh menjadi generasi penerus bangsa yang mampu melanjutkan tradisi keilmuan di Indonesia sehingga negara ini dapat maju dan berkembang. 

Digstraksi adalah Media User-Generated, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.