Peran Orang Tua Terhadap Edukasi Seksual


Peran Orang Tua Terhadap Edukasi Seksual 1

Beberapa hari lalu ada sebuah kejadian cukup lucu yang terjadi dirumah saya. Adek cowok saya yang saat itu sedang duduk di kelas satu  sekolah menengah pertama sedang sibuk membaca komik yang berisi cerita lucu. Saya ingat sekali sudah tujuh tahun dari lalu ketika saya membeli buku itu. Buku yang memiliki judul “Buku Kocak Bikin Ngakak” memang bukan ditujuhkan untuk anak-anak, menginggat humor yang disajikan sedikit mengandung unsur dewasa.

Pada saat sedang asik membaca tiba-tiba adek saya menanyakan sebuah pertanyaan sebuah kalimat yang dia dapatkan dari buku yang sedang dibaca yang membuat suasana seketika menjadi kikuk. “Pa, kodom bocor itu apa?” Papa saya yang tidak menduga akan mendapatkan pertanyaan itu hanya diam lalu mencoba mengalihkan pembicaraan. Ibu saya pun tidak menanggapi dan memilih tetap fokus pada handphonenya.

Dari cerita tersebut dapat disimpulkan bahwa pendidikan tentang seksual masih menjadi hal yang dianggap tabu dan terkadang cenderung disepelakan. Padahal, keluarga terutama orang tua memiliki peran penting untuk memberikan informasi yang tepat tentang pendidikan seksual apalagi untuk anak-anak yang sudah beranjak dewasa. Usia 8-12 tahun umumnya merupakan usia menjelang pubertas. Dikutip dari Journal of The American Academy of Pediatrics, anak-anak hingga remaja perlu menerima pendidikan yang akurat tentang seksualitas.  

Umumnya, para orang tua memilih diam dan terkean risih jika ditanya mengenai hal tersebut karena mereka bingung bagaimana cara yang tepat dan bagaimana memilih kata yang tepat untuk menjelaskan kepada sang anak dan cenderung membiarkan anaknya mengetahui sendiri.

Hal ini akan memicu anak mencari tau dari media informasi seperti internet, youtube dan lain-lain tanpa pengawasan. Mereka juga mencari tau dari lingkungan atau teman-temannya. Kondisi ini memungkinkan seorang anak mendapatkan informasi yang tidak tepat dan percaya pada mitos-mitos yang kebenarannya tidak dapat dipertanggung jawabkan kemudian akan merugikan anak itu dikemudian hari.

Hasil Survei Komite Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) menunjukkan bahwa lebih dari 60% anak muda Indonesia sudah melakukan Seks pranikah. Jumlah yang tidak sedikit ini sangat memprihatinkan mengingat bahwa negara Indonesia merupakan negara yang menjunjung tinggi nilai-nilai moral. Pertanyaannya adalah mengapa mereka bisa melakukan seks pranikah? Tentu alasannya utamanya tidak lepas dari kekurangan Pendidikan Seks untuk Anak dan Remaja.

Melihat dampak dari kurangnya pendidikan seks yang cukup besar maka, para orang tua harus mau terlibat aktif untuk menjelaskan pendidikan seks pada anak-anak mereka bahkan harus sudah dimulai dari usia sedini mungkin. Penyempaiannya pun dilakukan secara bertahap mengikuti usia dari anaknya.

Selain itu orang tua juga dianjurkan untuk tidak malas membaca artikel maupun jurnal dari para ahli yang menjelaskan cara yang tepat untuk menyampaikan edukasi seksual kepada anak-anak terutama dalam penggunaan kata atau kalimat.

Para orang tua hanya perlu untuk mencari dan membaca dari jurnal-jurnal bahkan dapat melakukan konsultasi kepada dokter atau psikiater sehingga bisa mendapatkan cara yang tepat dalam menyampaikan pendidikan seksual kepada anak-anak mereka.


Digstraksi adalah platform menulis independen, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

Edewline

   

Subscribe
Notify of
1 Comment
Oldest
Newest
Inline Feedbacks
View all comments
Copy link
Powered by Social Snap