Peran Pembelajaran Sejarah Pancasila dalam Menjaga Kemerdekaan Negara

Peran Pembelajaran Sejarah Pancasila dalam Menjaga Kemerdekaan Negara 1

Latar Belakang

Pancasila merupakan dasar negara dan sepatutnya menjadi pedoman hidup bagi rakyat Indonesia. Kemerdekaan pun didapatkan tidak semudah membalikkan telapak tangan. Keringar dan darah dicucurkan para pahlawan bangsa demi mengusir penjajah dari bumi Indonesia. Pancasila disusun dengan hati-hati mempertimbangkan kehidupan sosial, adat, dan norma-norma masyarakat  di Indonesia. Sudah sepatutnya bagi penerus bangsa untuk menjaga persatuan, kesatuan, dan kemerdekaan yang diwariskan.

Akan jadi sia-sia perjuangan para pendahulu apabila penerusnya menjaga kemerdekaan saja tak mampu. Oleh karena itu dalam esai ini penulis menjabarkan betapa pentingnya pendidikan pancasila dalam peran perjuangan kemerdekaan oleh muda-mudi zaman sekarang. Perjuangan kemerdekaan tidak usai pada tanggal 12 Agustus 1945. Perjuangan masih berjalan sampai saat ini. Apakah benar kita sudah bisa dikatakan merdeka sepenuhnya atau haruskah kita mencurahkan usaha kita untuk memerdekakan negara?

Alasan penulis memilih sub tema Peran Peran Mata Kuliah sebagai Penjaga Kekukuhan Kemerdekaan Negara Indonesia yaitu supaya generasi masa kini mempunyai kesadaran akan pentingnya pembelajaran sejarah dalam pembentukan generasi bangasa yang sesuai dengan nilai Pancasila. Penulis menonjolkan pembelajaran sejarah. Dasar pemilihan nilai tersebut adalah adanya anggapan bahwa pengamalan nilai-nilai pancasila dalam bernegara di Indonesia mulai menurun atau memudar. Bukan hanya ditemukan pada generasi muda, tetapi juga mancengkup semua kalangan dari berbagai macam rentang usia.

Pembahasan

A. Pembelajaran Sejarah Terhadap Pendidikan Karakter Anak Muda

Sejak di bangku Sekolah Dasar, pastinya tidak asing untuk mendengar kalimat “Pendidikan Kewarganegaraan”. Saat di bangku kuliah mungkin kalimat tersebut berubah menjadi “Pendidikan Pancasila”. Meski berbeda julukan, kedua mata pelajaran tersbut sebenarnya mempunyai tujuan yang sama yaitu menghasilkan muda-mudi berkarakter dan bangga akan negaranya.

Sebagai contoh, ditanamkan semangat pantang menyerah dari kisah perjuangan perumusan pancasila yang dilakukan secara penuh kehati-hatian pada masa perjuangan kemerdekaan. Tujuannya adalah agar para penerus bisa menghargai dan mencontoh sikap bijaksana, tidak ragu untuk menyampaikan aspirasi dan pantang menyerah tersebut.

Lewat pendidikan sejarah pula dibangkitkannya kesadaran akan nasionalisme dan patriotisme diri. Diajarkanlah tentang semangat perjuangan dan rasa bangga terhadap bangsa tanah air Indonesia. Diingatkan bahwa kemerdekaan yang dinikmati hari ini adalah perjuangan leluhur yang bahkan tak gentar untuk mati.

Seperti yang ditulis Dr. Edi Susrianto. IP.,M.Pd dalam tulisannya Peranan Pendidikan Sejarah Dalam Membangun Karakter Bangsa, dapat disimpulkan bahwa pendidikan sejarah berfungsi untuk melahirkan generasi yang mampu menyelesaikan permasalahan dengan bijaksana tanpa menentang budaya bangsa. Menurutnya, kesadaran sejarah merupakan inspirasi guna membangkitkan sikap kebangsaan dan tanggung jawab. Tidak hanya digunakan untuk melatih siswa berfikir kritis, pendidikan sejarah juga berfungsi sebagai pembentukan identitas dan eksistensi bangsa seperti : nasionalisme, persatuan dan kesatuan, kepahlawanan, tanggung jawab, ulet, pantang menyerah, relijius, dan keluhuran.

B. Kondisi Pelanggaran Nilai-Nilai Pancasila di Indonesia

1. Kasus Kejanggalan Hukum

Novel Baswedan pulang selepas dari masjid untuk menunaikan ibadah salat subuh sekitar pukul 05.10 pagi tanggal 11 April 2017 di masjid dekat kediamannya. Saat dalam perjalanan pulang, tanpa disasari dua orang mendekat dan menyiramkan air keras ke wajah beliau. Cairan tersebut mengenai mata. Akibatnya, meski sudah sempat menjalani operasi di Singapura, mata kiri Novel Baswedan mengalami cacat permanen. Kasus ini sempat seakan-akan diabaikan oleh pemerintah dan para penegak hukum.

Hingga akhirnya pada Kamis, 26 Desember 2019, pihak berwenang menyatakan berhasil mengamankan dua pelaku penyerangan yaitu Ronny Bugis dan Rahmat Kadir. Tersangka tersebut merupakan dua anggota polisi aktif. Pada tanggal 11 Juni 2020 sidang tuntutan pun digelar di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat secara virtual. Sidang digelar dengan agenda pembacaan surat tuntutan dari JPU yang mana JPU meyakini kedua terdakwa terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana penganiayaan berat yang melanggar Pasal 353 ayat (2) KUHP Jo. Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP sebagaimana dakwaan subsider yang dibacakan oleh JPU. Kedua terdakwa hanya dituntut dengan ancaman pidana penjara selama satu tahun penjara pula dipotong masa tahanan yang telah dijalani oleh kedua terdakwa selama proses hukum yang mereka jalani. Padahal keterangan terdakwa saat yang didapat menyatakan motif penyerangan dilakukan akibat rasa dendam dan ingin memberikan pelajaran kepada Novel Baswedan. Akan tetapi, JPU menyatakan dalam persidangan bahwa tindakan yang telah terjadi adalah salah satu bentuk ketidaksengajaan.

Tentu hal ini menjadi pelanggaran norma pancasila dengan tidak menerapkan rasa kemanusiaan yang adil dan beradab. Juga penegakan hukum yang sudah lama mulai dipertanyakan keadilannya di Indonesia.

2. Kasus Rasisme di Indonesia

Wisnu Prayoga, Fenomena Rasisme Pada Kehidupan Sehari-hari di Kalangan Remaja, dalam tulisannya ia mengadakan survei sosial tentang rasisme di Indonesia. Untuk pertanyaan pertama yaitu “apakah di Indonesia maish banyak terjadi rasisme?” ia mendapat 73 respon. hasil memperlihatkan 90,4% menjawab masih banyak yang melakukan tindakan rasisme di Indonesia. Lalu sisanya yaitu 8,2 % menyatakan tidak.       

Untuk pertanyaan kedua, yaitu “apakah rasisme maish terjadi di lingkungan sekitar anda?” ia memperoleh data bahwa di lingkungan tempat tinggal responden masih banyak terjadi tindakan rasisme. 79 respon didapat dan hasilnya 61,6% responden menyatakan bahwa masih banyak yang melakukan tindakan tersebut di lingkungan sekitar mereka, 28,8% menyatakan mungkin, serta 9,6% tidak.

Dan untuk pertanyaan ketiga yaitu “apakah anda pernah terlibat atau menjadi korban dalam perilaku rasisme?” didapat total 79 respon serta presentase memperlihatkan 50,7% sebagian pernah terlibat pada tindakan rasisme tersebut. Kemudian sisanya yaitu 49,3 % menyatakan tidak.

Bisa kita lihat dalam data, masih banyak perilaku rasisme terjadi dalam kehidupan sehari-hari masyarakat yang itu sendiri menentang nilai pancasila.

C. Pendidikan Pancasila Terhadap Pengamalan Norma di Masyarakat

Beberapa mahasiswa kurang menyadari pentingnya pendidikan pancasila dalam kehidupan mereka. Bila tidak dijadikan mata kuliah wajib, mereka tidak akan memilih mata kuliah pancasila secara sukarela. Cicero (106-43SM) “Historia Vitae 28 Magistra”, yang bermakna, “Sejarah memberikan kearifan”. Dan ini sudah ditetapkan negara sebagai mata kuliah wajib :

1) SK Dirjen Dikti, Nomor 232/U/2000, tentang Pedoman Penyusunan Kurikulum Pendidikan Tinggi,

2) SK Dirjen Dikti, Nomor 265/Dikti/2000, tentang Penyempurnaan Kurikulum Inti Mata Kuliah Pengembangan Kepribadian (MKPK), dan

3) SK Dirjen Dikti, Nomor 38/Dikti/Kep/2002, tentang Rambu-rambu Pelaksanaan Kelompok Mata Kuliah Pengembangan Kepribadian di Perguruan Tinggi.

Berdasarkan SK Dirjen Dikti No 38/DIKTI/Kep/2002, Pasal 3, Ayat (2) bahwa kompetensi yang harus dicapai mata kuliah pendidikan Pancasila yang merupakan bagian dari mata kuliah pengembangan kepribadian adalah menguasai kemampuan berpikir, bersikap rasional, dan dinamis, serta berpandangan luas sebagai manusia intelektual dengan cara mengantarkan mahasiswa: 1. agar memiliki kemampuan untuk mengambil sikap bertanggung jawab sesuai hati nuraninya; 2. agar memiliki kemampuan untuk mengenali masalah hidup dan kesejahteraan serta cara-cara pemecahannya; 3. agar mampu mengenali perubahan-perubahan dan perkembangan ilmu pengetahuan teknologi dan seni; 4. agar mampu memaknai peristiwa sejarah dan nilai-nilai budaya bangsa untuk menggalang persatuan Indonesia.

Penutup

Oleh karena itu, pendidikan pancasila tidak dapat dihapuskan dari sistem pendidikan. Bila diterapkan dalam kesehariannya, kehidupan masyarakat Indonesia bisa makmur dan menuju ke masa depan yang lebih cerah lagi. Sesuai pancasila, seharusnya tidak ada korupsi, rasisme, ketimpangan sosial, perpecahan, dan ketidakadilan. Dengan adanya pendidikan pancasila saat ini saja, isu-isu tersebut masih marak. Apalagi dengan ketiadaan pendidikan panasila yang harus ditanamkan di hati dan benak generasi penerus bangsa. Dengan adanya pendidikan sejarah di semua jenjang, diharapkan negara ini bisa menjaddi Negara yang bersatu dengan seluruh rakyatnya, keadilan akan tercipta, dan akan melahirkan budi pekerti kemanusiaan yang luhur.

Digstraksi adalah Media User-Generated, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.