Perburuan (Angka) Narsistik


Perburuan (Angka) Narsistik 1

Aku tahu yang aku lakukan ini keliru, tapi aku masih memburunya. Aku tahu apabila perbuatanku ketahuan, aku akan kena batunya. Batu-batu besar akan menimpaku: berurusan dengan penegak hukum, hancurnya karierku sebagai musisi yang sudah meraih banyak penghargaan, bahkan mungkin keluargaku pun akan menjauhiku. Aku akan tenggelam, nama baikku akan musnah dan tidak akan bisa muncul lagi.

Tapi semua kesadaranku, semua logika dan kalbu, tersingkir begitu saja oleh nafsu.

‘Tra–ta–tra–ta–tra….’ Tiba-tiba ponselku berbunyi, menyuarakan nada dering yang kuatur dengan salah satu laguku berjudul “NARSIS” yang menjadi hits. Dengan tangan kiriku aku mengambil ponsel dari dalam tas pinggang merk Private Label NYC. Di ponsel berwarna midnight green itu, aku mendapati sebuah pesan: ‘BERHENTILAH BERBURU. SEBELUM TERLAMBAT. KAMU SADAR ITU SALAH. YA, PUNYA HASRAT ITU MANUSIAWI, TAPI KAMU BISA MENAHANNYA. BANGUNLAH. SADARLAH DARI KEGILAANMU.‘

Dahiku mengkerut. Membatin, Lagi-lagi pesan dari orang itu. Pesan yang sudah kuterima bertalu-talu, dengan isi yang sama: mengingatkan untuk menghentikan perburuanku. Pesan yang dikirim oleh orang misterius, tanpa nama ataupun nomor, yang entah bagaimana bisa mengirim pesan padaku dengan cara demikian.

Aku sudah bilang soal pesan-pesan garib itu pada manajemenku, NimFA Management. Tentu saja dengan beberapa kadar kebohongan: aku tidak menyampaikan bahwa pesan itu benar perihal soal aku memang memiliki niat buruk akibat menuruti libidoku. Menanggapi keluhanku, manajemen kemudian melapor pada polisi cyber crime, juga merekrut ahli IT untuk mengusut siapa si pengirim surat elektronik. Tapi hasilnya nihil, sampai saat ini belum diketahui siapa yang mencoba mencegah tindakan burukku.

Aku berdiri mematung, sementara pikiranku berjalan menduga-duga. Mungkinkah, bahwa sebenarnya negara yang ada di balik pesan? Tapi, kalau mereka bisa tahu niat burukku, mengapa tidak langsung menangkapku saja? Mana mungkin di saat negara tak hadir untuk banyak kepentingan umum, negara bisa hadir untuk satu orang mesum? Atau mungkin, perusahaan atau orang yang berusaha memanfaatkan atau memerasku? Tapi, kalau memang begitu mengapa justru perlu repot-repot mengingatkan agar aku tak berbuat tercela?

Atau mungkin, bahwa pesan itu terkirim atas kuasa Ilahi? Tapi, aku juga berpikir, apa memang mungkin aku sampai bisa mendapat pesan langsung dari kuasa Tuhan? Pesan yang tampak nyata, yang bisa disaksikan juga orang lain dalam bentuk tulisan-tulisan digital di ponsel kalau aku tunjukkan ke khalayak? Memang apa istimewanya aku? Kupikir itu hal yang muhal.

Lagipula, pikirku juga, kalau memang pesan Ilahi datang kepadaku, mengapa hanya mencoba mencegah aksi tercelaku? Kenapa tidak sekalian menyuruhku berbuat hal baik lain, juga mewartakan pesan dan membentuk “komunitas pengiman pesan”? Tapi… tapi… aku juga berpikir, bukankah bisa juga ini ujian yang bertahap? Kalau aku bisa menahan hasratku, mungkin aku akan mendapat tugas yang lebih berat dari Tuhan?

Aku masih berdiri mematung, sementara campur baur dugaan-dugaan masih berkeliaran di pikiran. “Haah!” pada akhirnya teriakan terucap dari mulutku, menandakan otakku yang menyudahi asumsi-asumsiku. Kukembalikan ponsel ke tas pinggang, sembari berjalan menuju tujuan semula: garasi mobil di lantai underground rumahku.

Semua kesadaranku, semua logika dan kalbu, juga pesan misterius pengingat, tersingkir begitu saja oleh nafsu. Nafsu yang mendorong perburuan nafsi –perburuan seorang diri.

(***)

Aku telah meluncur meninggalkan rumahku yang bergaya futuristik. Seorang diri mengendarai salah satu dari lima mobil yang beberapa bulan lalu sengaja kubeli untuk perburuanku. Karena bila aku menggunakan mobil mewahku, tentu saja akan terlalu mencolok. Juga akan lebih bagus bila aku menggunakan mobil yang berbeda tiap berburu. Mobil yang saat ini kukendarai bertipe hatchback, berplat nomor G 371 IS. Sementara empat mobil lainnya adalah: mobil berplat A 153 NA yang juga bertipe hatchback, mobil convertible berplat A 1634 K, mobil sedan K 407 TI, dan mobil bernomor N 370 RS yang berjenis SUV.

‘Tra–ta–tra–ta–tra….’ ponselku bersuara. “Ya, ada apa Tante Ellis?” tanyaku menjawab panggilan manajerku. “Aku lagi out ada perlu sebentar.” “Iya…. iya…. aku ingat kok besok ada jadwal penting pagi. Iya, jaga kesehatan, kuusahakan tak tepar lagi seperti kemarin-kemarin. Beneran deh… Iya…. terimakasih mengingatkan…. iya…. iya…. jangan khawatir….”

Setelah Tante Ellis mengakhiri sambungan, aku kembali fokus 100% ke jalanan, mengarahkan menuju tempat yang sudah aku tandai. Tentu saja, aku juga sudah membuat rencana apa yang akan kulakukan di lokasi itu. Aku bisa menyusun siasat karena aku sudah tahu banyak hal tentang targetku, karena ini sudah hari ke-88 aku membuntutinya. Aku telah membaktikan cukup banyak waktu untuk targetku, dari mencari data-data pribadinya, melacak tempat tinggal dan jadwal kegiatannya, mencatat kebiasan-kebiasaannya, sebelum aku bergerak untuk menangkapnya pada hari ini.

Kini konsentrasiku terbagi lagi: mengemudikan mobil dan memutar ingatan kembali bagaimana aku bertemu dengannya. Waktu itu, sekitar tiga bulan lalu, pada suatu rangkaian tour konserku. Tepatnya setelah aku menunaikan tugas menyanyiku, aku yang telah izin pada manajemenku hari-hari sebelumnya, menghabiskan beberapa hari tambahan di kota tersebut. Ketika itu, di hotel Echo tempatku menginap, di beranda kamar suite bintang lima di tingkat dua dengan view menghadap ke pantai pasir putih yang berbatasan dengan kolam renang hotel.

Saat itulah aku pertamakali melihatnya. Dia. Berjalan, dengan pakaian renang berwarna egyptian blue. Kemudian dia menceburkan diri ke kolam. Badanku mematung sementara mataku mengikuti raganya yang beradu dengan air kolam. Aku tertegun. Suatu gairah membuncah dari tubuhku. Sesuatu yang belum pernah menghampiriku sebelumnya: gelora syahwat.

Hal yang asing, tentu saja. Aku seorang artis yang banyak digosipkan perihal relasi romansa dan seksual, tak pernah tergoda dengan hal itu. Tak pernah aku punya imajinasi seksual, bagaimanapun imajinasi itu. Tak pernah aku berfantasi berasyik-masyuk, dengan artis-artis atau penyanyi atau sosialita, dengan groupies yang mengidolakanku, dengan orang kantoran, dengan siapapun. Bahkan, sebenarnya meracap pun aku tidak pernah.

Namun aku yang sebelumnya suci sejak dalam pikiran, mendadak teraduk-aduk. Karena orang yang baru pertama kali kulihat itulah, menjadikan keruh nafsu merasukiku. Saat dia beranjak dari kolam renang, aku yang refleks terbebas dari sikap mematungku, langsung keluar dari kamar untuk menanyakan pihak hotel tentang identasnya.

Beruntung pihak hotel langsung memberikan data identitas yang aku mau. Entahlah, mungkin karena nama besarku dan mereka bermaksud menyenangkanku. Atau mungkin juga pengurus hotel mencium bahwa ada sesuatu antara aku dengan dia, namun karena mereka tidak mengira kalau aku ingin berbuat tercela, mereka mau saja membantuku.

Pihak hotel bahkan bersedia mempertemukanku dengan dia pada hari itu juga. Tapi, pada pertemuan empat mata dengannya, pada senja hari itu, dia menolak hasratku. Secara lahiriah, aku menerima penolakan, mempersilakannya pergi. Namun batiniahku tersinggung, kecewa, sekaligus tertantang. Bisa-bisanya dia menolakku? Akan kutunjukkan aku akan memilikinya, dengan cara bagaimanapun.

Sejak itulah perburuan diriku dimulai.

(***)

Dengan deru yang mengantar nafsu, mobilku telah sampai pada titik yang kurencanakan, di samping bak tempat sampah. Setelah memarkir mobil, aku meraih tas tali serut berukuran jumbo yang telah kupersiapkan di baris kursi belakang. Aku mengambil beberapa alat-alat penyamaran di tas tersebut untuk kupasang ke kepalaku: topi, rambut, janggut, dan kumis palsu.

Kemudian aku turun dari mobil, dengan menyangkutkan tas tali serut yang menutupi seluruh punggung ke bahu. Setelah memastikan keamanan mobil, aku segera melangkahkan kaki. Pada jalanan dan gang di antara kawasan padat rumah yang malam itu telah tak tampak aktivitas manusia, kakiku menyusur. Sampai pada akhirnya aku berhenti di jalan berkelok yang membentuk huruf “U”. Jalan yang dihias dengan goresan cat bermotif garis-garis dan lengkungan-lengkungan.

Netraku dengan jelas melihat dengan jelas suatu pagar besar di seberang. Pagar yang menjadi penanda: bahwa di balik pagar tersebut bersemayam individu dengan kekayaan jauh di atas penduduk kawasan padat rumah di sekitarnya. Ya, aku tahu dia memang sekaya diriku, aku membatin. Aku tahu jalan berbentuk “U” ini sebenarnya tanahnya yang ia hibahkan untuk masyarakat sekitar, dan dana pembangunan jalan pun sepenuhnya berasal dari kantongnya.

Tak lupa dengan tujuanku, mataku mencari-cari kamera pengawas yang terpasang di pagar itu. Dengan pistol electromagnetic pulse¸ aku menembak kamera pengintai untuk menonaktifkannya. Setelah memastikan kamera itu tak berfungsi aku mengeluarkan tangga geser. Tanpa lupa aku melihat sekitarku untuk memastikan orang lain, sebelum mendaki pagar rumah yang beralamat di jalan Mirat No. 11, menjadi penyusup.

(***)

“Penyusup!”

Ia berkata dengan melaung, seiring dengan lekuk otot wajahnya yang menunjukkan kemarahan. Ya, kemarahan. Itulah yang nampak di wajahnya selain ekspresi keterkejutan. Tak ada ekspresi ketakutan yang ia perlihatkan, saat ia melihatku duduk dengan santai di sofa loveseat merah, di sebuah ruang di samping kolam renangnya.

“Selamat malam,” aku yang telah melepas alar penyamaran dari mukaku, menanggapi dengan senyuman, “Kurasa kau tak gentar melihatku.”

“Mau apa kau?!” nadanya meninggi. Ia yang saat itu memakai kemeja biru dan celana panjang berwarna abu-abu dim, mengangkat kaki kanannya. Secepat kilat ia melepas sepatu loafer hitam dari kaki yang terangkat, lalu melemparkannya kearahku. Namun aku juga sigap menyilangkan tangan sebagai perlindungan kepala, lemparan loafer degan tepat bisa kutangkap dengan tanganku. Terlihat wajahnya yang semakin kesal, berbanding denganku yang semakin menikmati rasa kemenangan.

Wajah yang sama bagai pinang dibelah dua, dengan ekspresi berlawanan.

Benar: wajah yang sama, yang mirip bagai kembar siam. Mata beriris hitam, hidung, telinga, bibir, rambut ikal, bentuk wajah oval, juga kaki-tangan, tinggi dan perawakan, itu semua kami miliki identik satu sama lain: ia seperti refleksi diriku. Tanggal lahir dan kabupaten tempat kami lahir bahkan sama. Itulah yang aku maksud mungkin pihak hotel Echo mengira ada sesuatu di antara kami: mungkin mereka menduga dia adalah saudaraku.

Tapi tentu dia bukan saudara, dia adalah buruanku.

Beranjak dari loveseat, aku berdiri dan melisankan kehendakku dengan lantam, “Mauku, kamu ikut denganku, menurutiku! Kamu itu aku, maka kamu milikku! Kali ini tidak boleh balela, tunduklah!“

“Hrhrhrhhh…..” ia menggeram. “Tak sadarkah kau! Tak insaf juga! Tak bisakah kau menahan nafsumu! Bahkan setelah aku mengirim pesan-pesan itu?!”

Kalimat terakhirnya membuatku sedikit membelalakkan mata. Apa?!?! Aku berteriak-bertanya dalam batin. Jadi dia pengirim pesan-pesan misterius itu? Aku tak menduganya, mengingat ia tak kuliah ataupun bekerja di bidang IT.

Mungkinkah sebenarnya dia menyewa orang tertentu? Tapi setahuku selama ini dia tak bertemu atau menghubungi orang IT? Dan dia bilang dia sendiri yang mengirim pesan itu? Tak kusangka ada yang luput dari penguntitanku. Otakku bercampur aduk: terkejut, penasaran, dan di saat bersamaan juga semakin tinggi hasratku untuk memilikinya.

“Sialan kau…..” lanjutnya, “……kau yang terkutuk Nemesis! Kerasukan arwah Narkissos!”

Secara spontan bentakkan itu benar-benar membuatku naik pitam. “Kutukan Nemesis, kerasukan Narkissos kau bilang!” Aku yang tersinggung bergerak maju menerjangnya.

Dengan sigap dia menangkis pukulan pertamaku, dan segera melancarkan pukulan balasan, yang bisa kuhindari dengan menunduk. Maka beradulah kami –peraduan raga yang berbeda dari yang aku inginkan. Saling serang, mengelak, menyabung kegesitan dan tenaga, membuat barang-barang di sekitar kami berserakan dan menciptakan deru gaduh.

Sampai pada suatu detik, ia berhasil mencengkeram kerahku dan dengan sekuat tenaga ia menarikku. Aku tahu, ia akan membantingku. Namun aku tidak kalah tangkas, hanya berjarak sepersekian detik aku bisa mencengkeram pinggangnya, dan juga berusaha menyeretnya untuk membantingnya. Karena tenaga yang imbang, tidak ada yang bisa membanting salah satu di antara kami. Kami yang saling menarik ke arah yang sama, bersamaan tercebur ke kolam renang. ‘BYURRR!!!!’

Air yang menyelimutiku, membuat mataku terpejam. Saat itulah aku merasakan sesuatu yang ganjil –bukan karena air tentu saja, aku sudah terbiasa berenang. Sesuatu yang aneh juga bukan rasa syahwat yang mendorongku berburu, karena nafsu bukan hal asing lagi untukku, dan saat ini birahi itu justru tiba-tiba menguap entah kemana.

Rasa yang seolah….. membuatku merasa akan meninggalkan dunia ini. Apa ini? Tak mungkin aku akan mati hanya karena tercebur ke kolam –ke air,  batinku. Rasa ganjil itu tetap mengepung menerjangku, membuatku semakin kehilangan kesadaran. Mustahil….. apa aku akan mati? Apa usiaku akan mencapai titik terminasi? Apa ini hukuman? Apa…..

Apa aku hanya akan tinggal nama? Apa jiwa dan tubuhku akan tenggelam selamanya di alam baka? Perlahan, aku menyaksikan air yang menenggalamkanku berubah menjadi angka-angka. Apa ini? Apa alam baka itu berupa angka-angka?

(***)

“Hah!”

Refleks aku berteriak, bersamaan saat mataku terbuka. Putih. Aku melihat langit-langit. Tidak, bukan langit-langit berawan, bukan langit-langit alam yang kulihat. Yang kusaksikan adalah langit-langit kamarku. Aku menolehkan kepala ke kanan kiri, mendapati bahwa benar aku berada di kamarku, sedang terbaring.

Dengan tumpuan siku tangan, aku mendorong badan dari bagian kepala hingga pinggang berpisah dari kasurku. Aku tersenyum, mengingat pesan yang kuterima dalam dunia mimpiku, dari diriku sendiri yang berperan sebagai tokoh yang kuburu: ‘BANGUNLAH’.

Aku yang telah bangun, mengingat-ingat kembali mimpiku: tokoh ‘aku’ dan ‘aku’, NimFA Management, Ellis, Hotel Echo, rumah di jalan Mirat No. 11, terkutuk Nemesis dan kerasukan arwah Narkissos, kolam dan air. Mirat No. 11, seolah menjadi penanda alam bawah sadar tentang aku yang sedang memandang diri sendiri. Sementara hal lain, dari Nimfa, Echo, Nemesis, dan Narkissos, itu jelas berkaitan dalam mitologi Yunani dengan tokoh utama bernama Narkissos –tokoh yang menjadi asal kata “narsis”.

Narkissos karya pelukis Michelangelo Caravaggio
Narkissos karya pelukis Michelangelo Caravaggio. Gambar diambil dari Wikipedia

Aku juga mengingat-ingat plat-plat mobil yang kupakai dalam mimpi perburuanku: A 153 NA, N 370 RS, G 371 IS, K 407 TI, dan A 1634 K. Aku berpikir, huruf-huruf awal pada plat tersebut akan membentuk kata “Angka”, sementara huruf-huruf akhir akan membentuk kata “Narsistik”. Angka narsistik, itulah angka-angka yang ada di lima plat tersebut: 153, 370, 371, 407, dan 1634.

Dalam matematika, angka narsistik angka dimana angka tersebut sama dengan keseluruhan penjumlahan tiap karakter angka yang telah dikuadratkan dengan jumlah digit angka itu. Sebagai contoh: bilangan 153. Karakter angka bilangan ratusan atau digit tiga tersebut berturut-turut adalah 1, 5, dan 3. Bila tiap karakter dikuadratkan sesuai digitnya, alias dikuadratkan dengan angka tiga, kemudian ketiga kuadrat tersebut dijumlahkan, hasilnya akan sama dengan 153. Bila dinyatakan dalam persamaan matematika: 153 = 13 + 53 + 33 = 1 + 125 + 27 = 153. Contoh lain adalah angka empat digit 1634, dalam persamaan matematika: 14 + 64 + 34 + 44 = 1 + 1296 + 81 + 256 = 1634.

Bunga Daffodil atau Bunga Narsis
Bunga Daffodil atau Bunga Narsis. Gambar diambil dari situs vanengelen.com

Kemudian aku memandang sekelilingku. Di sebelah pintu masuk kamar ada piano, untuk hobi bermusikku. Aku membatin, Memang dulu aku bercita-cita menjadi musisi. Di dekat pintu menuju balkon ada sebuah pot dengan enam mahkota bunga plastik daffodil –alias bunga narsis.

Sampul Buku "Personality Disorders in Modern Life" karya Theodore Millon dkk
Sampul Buku “Personality Disorders in Modern Life” karya Theodore Millon dkk

Di atas meja sebelah kasur, terdapat buku yang aku baca kemarin malam: “Personality Disorders in Modern Life” karya Theodore Millon dan empat penulis lainnya. Buku itu terbuka pada salah satu halaman di Chapter 10 yang berjudul “The Narcissistic Personality”. Aku ingat di halaman itu disebutkan tentang paper psikoanalis Otto Rank tentang narsisme yang terkait dengan keangkuhan dan keterpesonaan pada diri sendiri. Pada halaman yang sama ditulis juga tentang istilah “narcisscus-like” yang digunakan oleh psikolog Havelock Ellis untuk menyebut tindakan seseorang meracap berlebihan dengan dirinya sendiri yang menjadi obyek seksual.

*Cerpen karya RK Awan ini selesai ditulis di Semarang, 8 Agustus 2020.

*Catatan:

– Nafsi /naf·si/ n 1 diri sendiri; orang-seorang; 2 sifat mementingkan diri sendiri;

– Kisah mitologi Yunani tentang Narkissos dapat dibaca di situs wikibooks.

– Informasi (berbahasa Inggris) tentang bilangan narsistik dapat dibaca di situs mathworldwolfram atau wikipedia.


Suka POST ini ? Bagikan ke temanmu !

RK Awan

   

Tertarik bekerja sama membuat konten dengan saya? Bisa kirim DM ke akun twitter @RKAwan_47.

Subscribe
Notify of
1 Comment
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments