Percayalah, Aku Akan Kembali


Percayalah, Aku Akan Kembali 1

Rintikan hujan seakan membuka pagi ini. Menimbulkan berbagai kenangan – kenangan pilu yang telah terukir. Kenangan yang seakan sulit untuk dilupakan. Namun, hujan tidak mempedulikan hal tersebut. Ia tetap mengeluarkan rintikannya senada dengan tetesan air mata.

            “Kamu itu emang yang paling cantik diseluruh dunia.”sambil memainkan judi. “Nggak juga, masih banyak kok di luar sana yang lebih cantik daripada saya. Udah deh mainkan aja dulu, oh ya nanti jangan sampai mabuk lagi nanti kayak kemaren loh.” “Udah enggak usah diingat lagi.” “Hahahaha menang juga akhirnya, para cewek mendekatlah. Hahaha.”

            Brukk. Suara pintu tersebut seakan mereka kenali. “Polisiiiii!” Semua berlari kesana kesini. Tembakan polisi pun tidak terelakkan. Mereka bingung membedakan antara teman mereka dan polisi, karena pakaian polisi ini sama saja dengan mereka. Mungkin ini adalah salah satu cara polisi untuk mengecoh. Satu persatu terkena jeratan polisi, ada yang berusaha kabur, ada yang pasrah ditangkap dan ada pula yang marah – marah tidak jelas tidak terima akan berurusan di kantor kepolisian.

            Namun, inilah tantangan yang harus diterima anggota polisi bahkan terjadi cedera pun tidak masalah bagi mereka. Ya inikan bagian dari pekerjaan. Walaupun tidak semua yang tertangkap karena ada saja yang berhasil kabur, namun itu bisa saja diselesaikan nanti. Ya di kantor kepolisian.   

            “Apaan ini? Kalian ini seperti tak pernah berbuat tidak baik aja. Coba liat aslinya kalian ini pasti sama seperti kami!” Kemarahan salah seorang yang tertangkap ini memang menjadi – jadi di kantor kepolisian, polisi hanya mendengarkan saja dan menunggu ia normal kembali. Sementara temannya yang tertangkap hanya bisa diam tertunduk menahan rasa malu.

            Dialah Roni. Roni yang malang. Roni yang selalu hidup dengan kemewahan namun berujung dengan jerujung besi. Masa bujangan dihiasi dengan minuman keras, judi, narkoba. Ah sudahlah semua dilahap habis, pundi – pundi rupiah pun kadang datang dan kadang pergi. Tergantung kemenangan bermain judi. Jika tidak ada uang, ia terpaksa meminjam. Namun, anehnya jika uang sudah terkumpul ia enggan untuk melunasi hutang – hutangnya.

Disisi lain, Emak dan Bapak di Tembilahan merasa bangga pada anaknya yang sedang merantau. Diceritakannyalah kepada warga – warga di kampung yang bertanya kemana anaknya tersebut.

“Buk Rin, mane Roni tak de nampak awak? Biase duduk depan rumah sore – sore dengan Bapaknya?”tanya salah satu warga yang hendak pulang ke rumah.

“Roni kerja buk di Jakarta, kerja di perusahaan buk. Katanya susah kerja di perusahaan, susah nak balek ke kampung. Paling tidak lima tahun lagi lah baru boleh balek. Tapi tak pa lah buk ya, namanya juga kerja pasti banyak tantangannya.”emak menjelaskan dengan senangnya.

“Oo gitu buk, tapi setau saya buk ya kerja di perusahaan tak segitunya lah buk. Paling tidak ada lah dia balek dalam satu tahun tu buk, atau ibuk dibohongi? Eh salah salah buk, bodoh aku(berkata dalam hati). Maksudnya eh hmm lupakan aja deh buk ya… jangan masuk ke hati. Udah dulu buk ya saya pulang dulu dah senja juga buk.”

“Eh iya ya buk, hati – hati buk.”

Tapi mungkin ada benarnya juga ya yang dikatakan ibuk tadi, hmm ah sudahlah.(berkata dalam hati)   

Walaupun demikian, Emak dan Bapak tetap saja percaya dengan apa yang dikatakan anak semata wayangnya tersebut. Mereka tidak peduli dengan perkataan warga – warga di kampung, ada yang mengatakan ia merampok, narkoba, inilah itulah. Semua tidak ada artinya bagi mereka. Walaupun Emak dan Bapak hanya mendengarkan cerita kerjaan anaknya itu lewat hp yang seadanya. 

“Nak kek mana kerja awak tu disana? Kapan – kapan balek lah lagi awak tu ke kampung. Emak sama Bapak dah rindu sama awak tu.”

“Belum lagi mak, perusahaan ni susahlah mak. Banyak aja kerjanya mak, lima tahun lagi lah awak ke kampung.”

            Begitulah sekiranya percakapan antara orang tua dan anak. Orang tua yang berharap banyak terhadap anaknya yang merantau, berharap agar lebih dari orang tuanya sekarang ini.

Kringg. Bunyi hp pun terdengar seisi rumah. Tapi masalahnya ini waktu istirahat Emak dan Bapak, walaupun waktu baru menunjukkan pukul 20:30. Ya mau bagaimana lagi kerja di kebun memang melelahkan, apalagi musim panen harus kerja dari pagi sampai sore.

“Halo? Siapa ini, malam – malam gini nelpon?”tanya Bapak.

“Maaf pak mengganggu waktu istirahatnya, ini kami dari kepolisian Jakarta. Apakah ini benar orang tua dari Roni?”

“Ya Pak, kenapa ya anak saya?”

“Begini Pak, sebelumnya saya mohon Bapak dan Ibuk disana tenangkan dulu pikirannya.”(mengambil nafas panjang) “Anak Bapak dan Ibuk ini tertangkap sedang meminum – minuman keras, bermain judi di sebuah klub malam. Serta ditemukan narkoba di kantong kanan celananya. Jadi…

Belum sempat melanjutkan pembicaraan, Bapak sudah memotong pembicaraan. Sambil meleodspeaker agar Emak juga ikut mendengarkan.

“Bapak kalau bicara jangan macam – macam ya! Anak saya itu baik, jujur lagi sama orang tuanya. Dia itu juga kerja di perusahaan, mana mungkin dia berbuat yang aneh – aneh.”memarahi polisi tersebut dengan nada tinggi.

Tiba – tiba suara yang tidak asing lagi bagi Emak dan Bapak pun mulai berbicara.

“Mak, Pak. Roni minta maaf…. Selama ni Roni tak kerja, Roni bejudi, narkoba. Maafkan Roni Mak, Pak.”sambil tersedu – sedu menangis, berharap belas kasihan dari Emak dan Bapak.

“Ini benar Roni?”Emak pun terkejut.

“Iya mak…. Ini Roni mak, maafkan Roni mak. Roni sekarang di penjara Mak, Pak. 4 tahun awak di penjara. Maaf….kan Roni.”menangis sejadi – jadinya.

“Aduh nak Roni…. Emak dan Bapak ni dah mengharap banyak dah dengan kamu ni nak. Ngapa kamu kecewakan kami nak…. Mau jadi apa kamu nak. Emak sama Bapak tak ada uang nak mau kesana.”Emak nangis sejadi – jadinya begitu juga dengan Bapak.

“Iyalah Mak, Pak. Biarlah Roni disini. Emak sama Bapak tak usah khawatir…. Roni pasti pulang Mak, Pak. Walaupun lama lagi.”menangis tersedu – sedu.

“Iyelah nak baik – baik je lah lagi ya nak….”ujar Emak.

Belum sempat Roni melanjutkan, pembicaraan antara keluarga kecil itu pun ditutup oleh salah satu anggota kepolisian.

            Ya semua pasrah dengan kejadian ini. Emak dan Bapak menjadi susah untuk tidur memikirkan anaknya yang jauh disana. Sedangkan Roni pikirannya hancur berantakan. Bagaimana tidak? Setiap hari ia didatangi para penagih hutang. Ya hutangnya masih banyak, kurang lebih sudah mencapai puluhan juta. Ia juga bingung mau pakai apa membayarnya, uangnya telah habis dan kini ia berada di jerunjung besi.

            Semua menuntut kepadanya, berharap uang tersebut kembali. Namun, nasi sudah menjadi bubur. Apa yang diharapkan tidak sesuai dengan kenyataan. Roni sempat ingin menghubungi Emak dan Bapaknya di kampung, untuk membayar hutang – hutangnya agar tidak menjadi beban baginya selama di penjara ini. Namun, niat itu langsung cepat – cepat ia hilangkan. Emak dan Bapak saja tidak punya biaya untuk  ke Jakarta melihat dirinya. Bagaimana mau membayar hutang – hutang ini?

            Roni berusaha untuk menenangkan diri. Hingga hal yang tidak terduga pun datang menghampiri dirinya. Salah satu teman dibalik jerujung besi itu mengajaknya untuk bertaubat dan minta pertolongan kepada Allah SWT.

            Memang ini berat dan butuh proses. Terlebih lagi pikiran ini seakan tidak ingin diganggu dengan hal yang baru, apalagi mengajaknya untuk bertaubat. Tapi inilah proses, perlahan tapi pasti Roni dan temannya Tino mulai belajar untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi.

            Seminggu, sebulan. Ah jangan ditanya lagi, mereka sudah mantap untuk selalu berserah diri kepada Allah dan insya allah istiqomah. Walaupun cobaan juga sempat datang beriringan dengan proses taubatnya. Ia hampir diserang oleh penagih hutang tersebut yang datang dengan sekelompok orang. Namun, itu hanya hampir bukan benar – benar terjadi. Anggota kepolisianlah yang siap siaga membantu untuk tidak terjadi kerusuhan yang lebih parah lagi.

            Walaupun demikian itu tidak menjadi halangan baginya untuk menyudahi segala kebaikan yang ia lakukan saat ini. Ia tetap berdoa kepada Allah mengharapkan ampunan dan diberikan jalan untuk menjawab tantangan yang ia hadapi saat ini.

            Tiga bulan kemudian, lagi – lagi hal yang tidak terduga pun datang menghampiri. Tapi masalahnya ini beda daripada sebelumnya. Penagih hutang tersebut tiba – tiba datang menemui Roni dengan berpakaian seperti para ustaz.

“Apa kabar Roni? Mmm, kamu terkejut ya dengan pakaian saya, sampai segitunya liat saya.”tanyanya sambil tersenyum.

“Ha? Mmm… Eh… Iya. Sebelumnya saya minta maaf, untuk saat ini kan saya masih di penjara saya tak ada uang untuk…..

Belum sempat Roni melanjutkan, penagih hutang tersebut memotong pembicaraan.

“Ah sudahlah. Jangan kamu pikirkan lagi, saya ini alhamdulillah sudah bertaubat. Setelah saya pahami Islam lebih dalam lagi, banyak hal yang saya belum tau. Rupanya jika kita mengikhlaskan sesuatu hal itu lebih baik dan pahalanya pun dilipatgandakan oleh Allah. Juga, sebenarnya tak ada yang harus kita kejar di dunia ini. Kita semua pasti akan mati. Eh saya malah asyik bicara, sebenarnya kedatangan saya ini mau lihat kamu. Setiap malam mimpi nak Roni terus, makanya saya sempatkan kesini biar bisa bertemu. Oh iya, ni saya bawa sesuatu buat kamu. Nasi bungkus komplit dengan lauk – lauknya, makan yang banyak ya.”

“Alhamdulillah. terima kasih pak, terima kasih. Semoga Allah membalas kebaikan Bapak. Saya bingung mau berkata apalagi. Tapi ini… makasih pak, sekali lagi makasih”

“Sama – sama. Sebelumnya saya minta maaf ya, saya tidak bisa lama – lama. Saya juga ada urusan. Kapan – kapan saya kesini lagi ya. Assalamualaikum.”

“Waalaikummussalam.”

            Banyak hikmah yang Roni dapat setelah melewati berbagai cobaan. Memang awalnya berat namun lama kelamaan menjadi berkah untuk dirinya ataupun orang lain.

Namun, satu hal yang mungkin harus diperjuangkannya hingga saat ini. Ya, bertemu Emak dan Bapak. Ia sangat merindukan kedua orang tuanya. Tapi ini masih pagi, jarang sekali ia teringat Emak dan Bapak di pagi hari. Rintikan hujan pun juga datang, membangkitkan suasana. Ia hanya bisa berdoa semoga Emak dan Bapak baik – baik saja disana dan suatu saat nanti anaknya ini pasti akan pulang. Pulang membawa kebahagiaan, kebahagiaan yang sesungguhnya.

Rintikan hujan pun terus turun, seakan membuka pagi ini. Menimbulkan berbagai kenangan – kenangan pilu yang telah terukir. Selalu teringat hingga saat ini. Awalnya bahagia, kini menjadi kekecewaan yang sangat mendalam. Namun, hujan tidak mempedulikan hal tersebut. Ia tetap mengeluarkan rintikannya senada dengan tetesan air mata. “Aku pasti akan pulang Mak, Pak. Percayalah”.


Digstraksi adalah platform menulis independen, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

Rewina Dianti

   

Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Copy link
Powered by Social Snap