Perempuan Dalam Pusaran Kesadaran Palsu


Perempuan Dalam Pusaran Kesadaran Palsu 1

Hari ini perempuan telah terjun bebas sampai dalam jurang yang sangat dalam, dan terbelenggu dalam sisi senyap yang abu dan gelap menciptakan kebingungan yang mendalam. Perempuan berdiri diantara tembok-tembok yang berdiri tegak dengan gerbang yang dijaga oleh seorang predator yang siap memangsa.

Dalam realitas tak bisa dipungkiri bahwa perempuan pada masa sekarang terbagi menjadi 3 kesadaran yaitu kesadaran magis, naif dan kritis. Kesadaran magis merupakan kesadaran dimana perempuan dalam menjalani kehidupan hanya mengacu pada takdir segala sesuatu yang terjadi bahkan ketidak adilan akan kembali ke takdir.

Kedua kesadaran naif, kesadaran naif merupakan dimana perempuan sudah menyadari bahwa segala sesuatu ketidak adilan/penindasan disebabkan oleh dirinya sendiri (lemah atau lainya).

Yang ke tiga dalah kesadaran kritis, kesadaran kritis merupakan kesadaran tingkat tertinggi. Kesadaran ini memiliki makna bahwa perempuan mengetahui ada sistem besar yang menyebabkan perempuan tertindas dengan analisis dan menindak lanjuti suatu sistem.

Dalam konteks perempuan yang saat ini terjadi dalam masyarakat kita memiliki satu poros yaitu semua kesadaran kebanyakan hanya berahir pada kesadaran palsu. Sepertihalnya banyak sekali perempuan tidak punya daya dobrak sebagai pembuktian gerakan dan kesadaran, melainkan mengikuti arus arah kuasa asal mereka hidup aman dan nyaman.

Satu poros yang dimaksud adalah gerakan yang lembek, yaitu pendisipinkan atribut atau fisiknya. Gerakan perempuan saat ini banyak dilihat seperti itu. Kuatnya dominasi realitas membuat banyak perempuan tak dapat bergerak secara mendobrak.

Gerakan yang dijalankan kebanyakan permpuan yaitu menarik laki-laki agar posisinya aman dan nyaman. Pendisiplinan fisik dapat dilihat ketika perempuan memakai sepatu hak tinggi, rok ketat dan make up semua itu disajikan untuk laki-laki. Bayangkan pakai sepatu hak tinggi, ada yang menyatakan itu sakit jika terlalu lama bahkan terkadang luka, pakai rok ketat itu juga tidak nyaman dan itu hanya untuk laki-laki.

Perempuan berjam-jam duduk di depan cermin memakai make up dan lain-lain bahkan sampai kepada tahap cara berjalan. Itu semua juga buat menarik laki-laki. Itu semua kesadaran palsu, dimana perempuan mencoba menikmati hal yang menyusahkan. itu semua sebuah penindasan yang tidak disadari.

Dalam sistem kuasa semua itu dibentuk oleh realitas yang terdiri dari Agen kuasa laki-laki. Agen kuasa disini penulis contohkan yaitu, adalah keluarga, sistem pendidikan, sistem kebudayaan, sistem ideologi dan semua yang mendoktrinkan, mendisiplinkan perbedaan peran perempuan dalam masyarakat.

Dalam kuatnya realias yang sudah terstel kuasa laki-laki, perempuan dan laki-laki disatukan oleh kepentingan. Kepentingan dapat ditentukan pada tujuan kesenangan. dalam hal ini individu dikendalikan oleh keinginan dan kesenangan, hal itu dibedah dalam theori psikoanalisis. Laki-laki mempertahankan kekuasaanya demi kesenangan dan kenyamanan.

Sementara perempuan melakukan hal-hal ribet untuk laki-laki agar perempuan juga mendapat kesenangan dan kenyamanan dari imajinasi kehidupan masa depan dan jauh dari hukum sosial.

Tulisan ini akan penulis ahiri dengan sebuah pertanyaan sebagai perenungan bersama, apakah setelah kamu membaca tulisan ini kamu sadar bahwa dirimu saat ini sedang tertindas? jika kamu menyadari, apa yang akan kamu lakukan?


Digstraksi adalah platform menulis independen, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

pengendara bajai

   

Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Copy link
Powered by Social Snap