Perginya Empati Setelah Vaksinasi Covid-19

Perginya Empati Setelah Vaksinasi Covid-19 1

Ada setitik cahaya terang saat industri farmasi dan medis, melalui US Food and Drug Administration mengumumkan bukti efektifitas Pfizer-BioNTech Covid-19. Orang-orang yang belum pernah atau sudah pernah terinfeksi Covid-19, dinyatakan bisa divaksinasi. Kabar yang sangat menggembirakan.

Bapak Presiden Joko Widodo bahkan bersedia menjadi orang pertama yang divaksinasi. Beliau memiliki keinginan yang kuat untuk meyakinkan rakyatnya, bahwa masa gelap ini pasti bisa kita lalui bersama. Tanpa banyak kata, pada tanggal 13 Januari 2021, keluarga Presiden divaksinasi.

Setelah itu Bapak Presiden kembali menghimbau, “Saya ingin mengingatkan kembali tentang pentingnya disiplin terhadap protokol kesehatan. Ini tetap harus dilakukan, memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak dan menghindari kerumunan,” kata beliau. Kemudian Bapak Presiden kembali bekerja seperti biasa. Himbauan Beliau sejalan dengan pernyataan resmi dari US FDA, tentang realita bahwa vaksin ini belum tersedia untuk sebagian besar populasi manusia bumi.

Kompas.com menuliskan salah satu produsen vaksin terbesar di dunia, Serum Institute of India, memperingatkan bahwa dibutuhkan waktu setidaknya 4 tahun untuk menyediakan vaksin virus corona bagi seluruh orang di dunia. Dunia membutuhkan 15 milliar dosis vaksin virus corona, jika vaksinasi dilakukan dengan dua dosis suntikan. Untuk 1 milliar dosis vaksin dibutuhkan anggaran 600 juta dollar AS, coba bayangkan kalau kita butuh 15 milliar dosis vaksin. Sebanyak apa duitnya?  Fakta itu menjadi alasan perusahaan farmasi tidak bisa meningkatkan jumlah produksi vaksin dalam waktu singkat, sebelum 2024.

Ternyata untuk satu ampul vaksin covid-19 yang berisi antigen sebanyak 0,5 milliliter, dibutuhkan modal sangat besar untuk penyediaan bahan baku dan peralatannya. So… sungguh beruntung manusia yang terpilih menjadi kaum prioritas penerima vaksin ini.

Lalu apa yang terjadi pada kaum manusia yang belum diprioritaskan mendapatkan vaksin covid-19: anak-anak kecil dibawah 16 tahun, yang seharusnya bisa bermain di luar rumah bersama teman sebaya dan alam pemberian Tuhan; Ibu-ibu hamil dan menyusui yang berjuang habis-habisan mempertahankan kesehatannya demi penerus bangsa yang sehat; para orang usia lanjut yang menyeret penyakit kronis setelah kalah dalam pertempuran melawan waktu. Apa yang harus mereka lakukan?

Jawaban yang pasti adalah: dengan tetap ada di dalam rumah, sampai tersedia vaksin untuk mereka, yang entah kapan bisa terwujud. Di Indonesia saja yang total jumlah warganya 269 juta, yang bisa divaksinasi hanya 181 juta. Sisanya sebanyak 88 juta terpaksa mendekam dalam rumah.

Kira-kira, apa isi hati dan pikiran 88 juta manusia gua itu ketika melihat seseorang, yang karena dianggap lebih berhikmat dari manusia lain karena wajahnya dimuat di mana-mana, setelah mendapat vaksinasi covid-19 gratisss, ia malah berpesta dengan teman-temannya tanpa menerapkan protokol kesehatan? Dengan wajah cerah, tertawa lebar, ia berswafoto, lalu di share ke publik, seolah mengatakan: Niih gue… bebas ngapain aja karena udah dapat vaksin, kalo lo…??

Mungkin paragraf di atas sangat kental dengan muatan iri dan dengki. Namun ada juga tokoh-tokoh dunia yang wajahnya tidak hanya dimuat di mana-mana, bahkan nama mereka mengukir sejarah dunia, bertingkah normal wajar apa adanya, setelah divaksinasi covid-19. Sebut saja: Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu divaksinasi tanggal 19 Desember 2020; Perdana Menteri Singapura Lee Hsien Loong yang divaksinasi tanggal 8 Januari 2021; Raja Arab Saudi Salman bin Abdulaziz al-Saud divaksin tanggal 8 Januari 2021; Presiden terpilih Amerika Serikat Joe Biden pada tanggal 11 Januari 2021.

Mereka para legenda besar dunia abad 21 tetap menunjukkan empati yang besar pada manusia yang belum beruntung. Empati adalah kemampuan untuk merasakan keadaan emosional orang lain, dengan cara merasakan simpatik dan mencoba menyelesaikan masalah, dan mengambil perspektif orang lain. Rasa empati pada orang banyak itulah yang membuat mereka terpilih menjadi perwakilan seluruh isi bumi untuk mengubah wajah dunia kita, bukan sebaliknya menciptakan perseteruan dan ketimpangan sosial.

Dengan perbandingan di atas, bisa dikatakan bahwa orang yang mengunggah foto sedang berada di tengah pesta pora setelah divaksinasi, adalah orang yang kehilangan empati pada 7,7 milliar penduduk bumi yang belum divaksin. Bahkan pada ahli-ahli mikrobiologi di pusat-pusat penelitian yang mungkin belum divaksin, padahal mereka telah bekerja siang malam demi menemukan vaksin covid-19.

Lalu kemana hilangnya empati itu? Dalam otak manusia ada bagian bernama Korteks Prefrontal yang terletak tepat di bagian depan kepala, atau biasa dibilang jidat. Salah satu tugas Korteks Prefrontal adalah mengatur prilaku sosial induknya, termasuk keberadaan rasa empati. Berdasarkan penelitian ilmiah Korteks Prefrontal bisa rusak karena beberapa hal: benturan fisik yang menyebabkan fraktur di kepala bagian depan; zat kimia seperti narkotika, psikotropika; pecandu permainan game online dan pornografi.

Kalau dari foto pesta hepi-hepi yang diunggah, bisa dilihat seseorang itu dalam keadaan sangat sehat tanpa luka kepala akibat benturan hebat. Jadi hanya ada 2 kemungkinan yaitu: dia memakai zat kimia adiktif atau, seorang pecandu game online atau pornografi. Dua prilaku tersebut bila bersifat kronis bisa menyebabkan banjirnya hormon adrenalin dalam kolom Korteks Prefrontal otak. Yang bila kita biarkan lama akan membuat Korteks Prefrontal mengerut, bahkan bila diperiksa dengan CT Scan bagian Korteks Prefrontal hampir kehilangan warnanya. Keadaan itu juga didapati dalam pemeriksaan otak para psikopat.

Jadi… untuk menghindari munculnya psikopat baru setelah vaksinasi covid-19, sebaiknya bawa orang itu ke psikater terlebih dahulu sebelum divaksinasi. Dunia membutuhkan empati bukan sekedar simpati. 

Digstraksi adalah Media User-Generated, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

Nana Hadinata

   

Setiap detik kehidupan untuk menghidupi hidup.