Perhatian (Atensi) Yang Positif Agar Terhindar Dari Negative Thinking

Perhatian (Atensi) Yang Positif Agar Terhindar Dari Negative Thinking 1

Kesalahan dalam berpersepsi atau istilah kerennya negative thingking serta dalam islam dinamakan Su’udzon sudah sangat dekat dan tidak terlepas dari masyarakat Indonesia.Hal yang tidak baik ini sering terjadi hampir disemua kalangan,baik pemuda,orang tua,masyarakat desa ataupun perkotaan,serta yang paham teknologi maupun yang kurang paham akan hal itu.

Kesalahan dalam berpersepsi adalah hal yang dianggap sepele,padahal jika dibiarkan dan banyak orang terus melakukannya, dapat mengakibatkan negara Indonesia akan terus menjadi negara berflower.

Namun sebenarnya,mengapa kesalahan dalam berpersepsi ini sulit terlepas dari pemikiran masyakat Indonesia?

Sebelum membahas lebih jauh akan hal tersebut,kita akan pahami terlebih dahulu apa yang dimaksud dengan persepsi?

Menurut Sugihartono (2007), persepsi adalah kapasitas 5 indera manusia untuk menafsirkan dorongan atau cara untuk menguraikan peningkatan yang masuk ke dalam deteksi manusia. Dalam wawasan manusia, ada berbagai perspektif dalam mendeteksi yang melihat sesuatu sebagai dapat diterima atau penegasan positif atau negatif yang akan mempengaruhi aktivitas manusia yang nyata atau asli.

Dari definisnya saja sudah terlihat jelas bahwa kesalahan dalam berpersepsi atau Negative Thinking bukanlah hal yang bisa dianggap remeh,bukan?

Lalu bagaimana persepsi itu dapat terbentuk?

Proses pembentukan persepsi menurut (Walgito, 1981),yaitu:

Tahap utama, yang dikenal sebagai interaksi normal atau siklus aktual, adalah cara untuk menangkap peningkatan oleh deteksi manusia.

Tahap selanjutnya, yang dikenal sebagai interaksi fisiologis, adalah cara untuk mengkomunikasikan peningkatan yang diperoleh reseptor (organ berwujud) melalui saraf taktil.

Tahap ketiga, yang dikenal sebagai siklus mental, adalah jalan menuju kesadaran tunggal dari peningkatan yang didapat oleh reseptor.

Tahap keempat, adalah hasil yang diperoleh dari interaksi penegasan sebagai reaksi dan perilaku.

Jadi,kesalahan dalam berpersepsi ini terjadi,bukan karena stimulus atau sesuatu informasi yang diterima,tetapi karakteristik orang yang menerima respon atas informasi yang diterima tersebut.

Selain faktor tersebut,kesalahan juga dapat terjadi karena cara individu melihat dunia yang berasal dari kelompoknya serta keanggotaannya dalam masyarakat. Artinya, terdapat pengaruh lingkungan terhadap cara individu melihat dunia yang dapat dikatakan sebagai tekanan-tekanan sosial.

Sesuai judul artikel ini,kita akan membahas pentingnya Atensi sebagai solusi terhindar dari negative thinking,tetapi sebelumnya,kita harus mengetahui,

Apa pengertian dari Atensi?

Atensi adalah proses pemusatan pikiran atau Tindakan mental,kapasitas kita untuk memusatkan perhatian pada satu peristiwa dari sekian banyak peristiwa yang berbeda pada waktu yang bersamaan secara psikologi dinamakan sebagai atensi atau memfokuskan perhatian.

Aliran informasi yang dipilih untuk diperhatikan akan cenderung relevan dengan aktivitas dan perhatian yang kita miliki saat itu.

Bagaimana Atensi berpengaruh terhadap kesalahan dalam berpersepsi?

Hal ini dapat berpengaruh,karena syarat sebuah stimulus diperhatikan adalah

  1. Intensitas,semakin kuat intensitasnya,maka semakin diperhatikan
  2. Ukuran,lebih besar lebih diperhatikan
  3. Ulangan,jika stimulus diulang cenderung diperhatikan
  4. Pertentangan atau kontras,semakin kontras dengan lingkungan semakin meninjol.

Maraknya penyebaran berita hoax dan berita yang melebih-lebihkan hal negatif daripada hal positif,mengakibatkan intensitas,ukuran informasi dan berita buruk yang terus diulang-ulang serta yang diberitakan adalah hal yang bertentangan dengan norma yang dapat diterima dimasyarakat mengakibatkan atensi atau pemusatan perhatian terus saja kepada hal-hal negatif yang mengakibatkan masyarakat Indonesia dengan mudahnya su’udzon atas apapun.

Bagaimana Atensi yang benar dapat menjadi solusi atas kasus kesalahan berpersepsi yang pernah terjadi di Indoenesia?

Penyelesaiannya adalah dengan menggunakan proses pemilihan perhatian (Atensi) yang tepat  dan tabayyun atau mencari tau terlebih dahulu akar permasalahan dari sudut pandang berbagai pihak yang terlibat dalam berita atau informasi yang kita dapatkan.

Kasus kesalahan dalam berpersepsi yang paling terkenal,dan paling saya ingat sampai sekarang adalah kasus justice for Audrey yaitu kasus penganiayaan terhadap anak berumur 14 tahun bernama Audrey oleh para siswi SMA setempat.Kasus tersebut memunculkan gerakan tagar justice for Audrey di media sosial.

Kronologinya adalah terdapat beberapa permasalahan percintaan sehingga Audey diduga dikeroyok oleh beberapa siswi SMA hingga alat vitalnya ditusuk oleh mereka.Hal tersebut memicu respon geram masyarakat,tidak luput dari kalangan artis yang langsung mengecam hal tersebut dan mendatangi Audrey untuk memberikan semangat dan uang dengan jumlah yang sangat besar kepadanya.

Dalam kasus ini masyarakat indonesia mempusatkan perhatian terhadap kesaksian korban,dan langsung mengambil Tindakan tanpa memperhatikan sudut pandang dari kesaksian pelaku,karena Tindakan mereka yang dianggap melanggar norma yang berlaku.Padahal,setelah hasil visum keluar

Hasilnya kondisi kepala korban tidak ada bengkak atau benjolan, mata juga tidak ada memar dan penglihatan normal. Kemudian telinga, hidung dan tenggorokan (THT) tidak ditemukan darah. “Terkait alat kelamin selaput dara tidak ditemukan luka robek atau memar, termasuk kulit juga tidak ada memar dan lebam,”

Cara yang tepat dalam menanggapi kasus ini adalah dengan memperhatikan kedua sudut pandang,yaitu korban dan pelaku serta tidak bertindak terlebih dahulu,baik verbal maupun non-verbal seperti membuat hastag yang menyudutkan pelaku yang belum jelas kejadiannya,karena manusia mempunyai kemampuan untuk membagi perhatian pada lebih dari satu hal pada saat yang sama,yaitu hal positif dan negative,bukan kepada hal negatif dan lebih negative.

Dalam agama islam ini dinamakan Tabayyun yaitu mencari kejelasan tentang sesuatu hingga jelas dan benar keadaannya. Serta menyeleksi berita, tidak tergesa-gesa dalam memutuskan masalah, kebijakan dan sebagainya hingga jelas dan benar permasalahannya.

Referensi :

  • Ni Made Swasti dkk (2016). Pengantar psikologi kognitif. Journal Program Studi Psikologi Fakultas Kedokteran Universitas Udayana
  • Hadi Suprapto Arifin, Ikhsan Fuady, dan Engkus Kuswarno (2017). Analisis faktor yang mempengaruhi persepsi mahasiswa untirta terhadap perda Syariah di kota serang. Journal Universitas Padjajaran Bandung

 

Digstraksi adalah Media User-Generated, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

Fajar Alamsyah