Peribahasa yang ‘Relate’ dengan Keadaan di Masa Pandemi

Peribahasa yang 'Relate' dengan Keadaan di Masa Pandemi 1

Sebagaimana makna dari kata “Peribahasa” menurut KBBI adalah 1) kelompok kata atau kalimat yang tetap susunannya, biasanya mengiaskan maksud tertentu, 2) ungkapan atau kalimat ringkas padat, berisi perbandingan, perumpaan, nasihat, prinsip hidup atau aturan tingkah laku.

Berikut peribahasa yang “sedikit-banyak”-nya menggambarkan situasi atau keadaan di masa pandemi:

1. Ada nyawa, ada ikan. Artinya: masih hidup, tetapi sudah hampir mati (dalam keadaan hampir mati).

2. Air diminum rasa duri, nasi dimakan rasa sekam. Artinya: tidak enak makan dan minum (karena terlalu sedih dan sebagainya).

3. Api padam, puntung hanyut. Artinya: sudah habis benar-benar.

4. Bagai getah dibawa ke semak. Artinya: makin kusut (tentang perkara).

5. Baik berjagung-jagung, sementara padi belum masak. Artinya: lebih baik dipakai dulu yang ada sementara yang baru belum didapatkan.

6. Berendam sesayak air, berpaut sejengkal tali. Artinya: penghidupan yang sangat susah.

7. Dicoba-coba bertanam mumbang, moga-moga tumbuh kelapa. Artinya: dicoba-coba mengusahakan sesuatu yang moga-moga mendatangkan hasil.

8. Dirintang siamang berbual. Artinya: asyik melihat sesuatu yang tidak berguna untuk menghabiskan waktu.

9. Habis geli oleh gelitik. Artinya: yang kurang menyenangkan akan hilang apabila telah biasa/menjadi kebiasaan.

10. Hangus tiada berapi, karam tiada berair. Artinya: menderita kesusahan yang amat sangat.

11. Harapan tak putus sampai jerat tersentak rantus. Artinya: tidak mau berputus asa sampai saat terakhir.

12. Hendak menggaruk, tidak berkuku. Artinya: hendak berbuat sesuatu, tetapi tidak berkemampuan.

13. Hujan menimpa bumi. Artinya: kita tidak dapat melepaskan diri dari perintah orang yang berkuasa.

14. Ikan belum dapat, airnya sudah keruh. Artinya: pelaksanaan kerja yang tidak tepat (keadaan menjadi buruk sebelum pekerjaan itu selesai).

15. Indah kabar dari rupa. Artinya: berita yang tersebar biasanya lebih hebat daripada kenyataan yang sebenarnya.

16. Jung pecah, yu yang kenyang. Artinya: jika negeri tidak berpemerintahan atau terjadi huru-hara, orang-orang jahatlah yang akan beruntung.

17. Kail sebentuk, umpan seekor, sekali putus, sehari berhanyut. Artinya: berbuat sesuatu dengan tidak memikirkan hal-hal yang mungkin menghambat usahanya.

18. Kalau bangkai galikan kuburnya, kalau hidup sediakan buaiannya. Artinya: lebih baik menunggu dengan tenang apa yang akan terjadi, lalu mempertimbangkan langkah apa yang akan diambil.

19. Laut ditembak, darat kena. Artinya: lain yang diperoleh dari yang diharapkan.

20. Lulus tidak berselam, hilang tidak bercari. Artinya: orang yang menderita sengsara, tetapi tidak ada yang mau menolong.

21. Meludah ke langit, muka juga yang basah. Artinya: melawan atau membantah orang yang berkuasa, akhirnya diri sendiri yang mendapatkan kesusahan atau kesulitan.

22. Nyawa bergantung di ujung kuku. Artinya: dalam keadaan yang sulit dan berbahaya.

23. Obat jauh, penyakit hampir. Artinya: dalam kesusahan mendapatkan pertolongan: berada dalam kesukaran.

24. Pulau sudah lenyap, daratan sudah tenggelam. Artinya: sudah tidak ada harapan lagi (gagal sama sekali).

25. Rumah terbakar, tikus habis ke luar. Artinya: uang habis, tetapi yang dikehendaki tidak diperoleh.

Demikian beberapa peribahasa yang tampaknya relate dengan keadaan masyarakat di masa pandemi ini. Meskipun pandemi ini seperti embun di ujung rumput yang lekas hilang namun kembali datang lagi tak berkesudahan, tetap jaga diriya. Semoga kesulitan ini benar-benar berlalu dan lenyap. Hehe~. 

Digstraksi adalah Media User-Generated, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.